Anda Perokok Kretek? Kunjungi Kudus

Foto. Komunitas Kretek

KUDUS merupakan kabupaten yang mempunyai banyak jenis pabrik rokok, salah satu diantaranya yang berkembang cukup pesat adalah pabrik rokok Sukun.

Kudus dikenal sebagai Kota Kretek. Tentu saja selain di kabupaten ini tercatat ada lebih dari 100 pabrik rokok memproduksi berbagai jenis rokok, mulai dari rokok klobot, kretek tangan, rokok mesin (filter), hingga cerutu. Beragam pabrik besar, kecil, hingga industri rumahan tersebar di berbagai penjuru kota. Wilayah Kabupaten Kudus merupakan salah satu kabupaten terkecil di Propinsi Jawa Tengah, dengan luas wilayah 425.16 km2 / 42.516 ha. Secara administratif Kabupaten Kudus terdiri dari 9 kecamatan, 125 desa dan 7 kelurahan. Perekonomian Kabupaten Kudus didukung oleh berbagai sektor dengan sektor andalan bidang industri terutama industri rokok yang memberikan kontribusi terbesar, sehingga Kota Kudus disebut sebagai Kota Kretek.

Hal ini dikarenakan budaya kretek di Kudus memiliki sejarah yang penting bagi lingkup perekonomian warga Kudus. Ditandai dengan perkembangan perindustrian rokok kretek, mulai dari industri kecil hingga industri besar. Berdasarkan data survei penduduk dari pemerintah kota Kudus dinyatakan produk domestik regional bruto sektor industri di Kudus 62%, perdagangan 25%, dan pertanian kurang dari 5%, dimana sektor industri terbesar adalah industri rokok yang memberikan kontribusi sebesar Rp15,1 triliun dari total pendapatan cukai Rp 60 triliun.

Kretek dianggap sebagai salah satu kebudayaan dari Kota Kudus, yang tidak dapat dilupakan oleh masyarakatnya. Rokok kretek selain menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat Kudus, juga mampu diaplikasikan menjadi ikon kota Kudus.

Kebiasaan penduduk asli Jawa yakni mengunyah tembakau dengan sirih pinang yang menjadi tradisi nusantara sudah mulai ditinggalkan oleh preferensi estetika dan imperatif budaya modern dari luar. Hal ini tentu saja dikarenakan karena masyarakat sudah mulai mengenal rokok kretek dan juga rokok mesin yang dijual akibat pengaruh perdagangan orang asing ke pulau Jawa.

Salah satu cikal bakal perusahaan rokok yang mampu bertahan sampai saat ini adalah perusahaan rokok Sukun Kudus yang didirikan oleh Bapak Mc. Wartono pada tahun 1947 di desa Gondosari kecamatan Gebog, sekitar 10 km dari kota Kudus. Saat didirikan perusahaan hanya memproduksi rokok Klobot dan sigaret kretek tangan, dengan karyawan 10 orang. Semula rokok Sukun hanya dipasarkan di kota Kudus dan sekitarnya, yang dalam perkembangannya bertambah luas. Untuk mengatasi permintaan yang semakin meningkat perusahaan menambah kapasitas bahan baku, tenaga kerja dan alat-alat produksinya. Saat ini perusahaan rokok Sukun Kudus merupakan salah satu dari 5 besar perusahaan rokok yang terdapat di Kabupaten Kudus.

Mc Wartono wafat 20 Februari 1974 dengan meninggalkan istri, enam anak dan tak kurang 10.000 karyawan. Usaha yang telah dirintisnya kemudian dilanjutkan oleh empat anak laki-lakinya yang kemudian menjadi Direksi PR Sukun hingga kini. Mereka adalah H Tas’an Wartono, H Rindho Wartono, H Yusuf Wartono, dan H Edy Wartono. Sedangkan dua orang putrinya kemudian mengikuti suaminya dan mendirikan perusahaan rokok juga. Mereka adalah Hj Sri Fatimah Wartono almh. (mendirikan PR Siyem di Semarang) dan Hj Ani Wartono (mendirikan PR Langsep di Kudus).

Riwayat kretek Sukun ini menggenapi apa yang dikatakan Mark Hanusz, penulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes, “kretek itu tidak ada di AS, tidak ada di Eropa, atau negeri-negeri lain. Hanya ada di sini, khas Indonesia.”

Di Cirebon, kerajinan rokok kretek yang terletak di Desa Astanalanggar, Kecamatan Losari juga bisa dijadikan sumber PAD yang cukup potensial apabila digarap dengan baik.

Pada era tahun 1960-an industri kerajinan rokok kretek Desa Astanalanggar memasuki era keemasannya. Tiap rumah di desa yang bersebelahan langsung dengan sungai Cisanggarung ini hampir membuat rokok kretek. Namun, dengan berjalannya waktu industri padat karya ini mengalami kemunduran. Saat ini hanya ada sekitar 5 pabrik rokok rumahan yang masih bertahan. Itu pun tidak setiap saat beroperasi, tergantung keberadaan modal dan pesanan pasar.

Meski sedang mengalami kembang kempis, ternyata ekspansi bisnis rokok ini hingga ke Rengasdengklok, Karawang bahkan hingga ke Pemalang Jawa Tengah.

Banyak prasasti tertulis yang telah mengisahkannya. Bahkan, tercatat dalam kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok “klobot” (rokok kretek dengan bungkus daun jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.

Serat Subasita karangan Ki Padmasusastra tahun 1914 menjelaskan budaya mengolah tembakau menjadi rokok kretek adalah cerminan dari perilaku kesantunan orang Jawa.

Disebutkan dalam serat itu, jika hendak menghisap atau menikmati tembakau lihatlah kanan kiri, jangan dekat dengan wanita hamil dan anak-anak. Jika bertamu ke rumah orang lain, sebisa mungkin jangan merokok. Apabila ada asbak di meja tuan rumah, berarti pemilik rumah memperkenankan tamunya untuk merokok. Namun apabila tak ada, idealnya janganlah merokok.

Sementara serat yang lebih lampau, Centhini yang ditulis pada tahun 1814, menyebut olahan tembakau dengan kata “ses” atau “eses”. Hingga detik ini sebagian besar masyarakat perokok di Jawa menyebutnya dengan nama itu.

J.W. Winter tahun 1824 juga mengisahkan kehidupan masyarakat Jawa yang tentram dan damai namun mengandung keunikan tersendiri. Pada abad ke-18 kebutuhan akan tembakau sebagai rokok kretek telah menyedot 25 persen dari gaji orang Jawa yang berprofesi sebagai petani. Maklum, kretek tidak semata dinikmati secara pribadi, namun menjadi suguhan wajib bagi para tamu yang sedang berkunjung. Lebih baik tanpa makanan atau minuman, asalkan ada kretek di meja.

Kata rokok sendiri mulai muncul kala penjajahan Belanda berlangsung di Indonesia –khususnya di Jawa. Diadopsi dari bahasa Belanda ro’ken yang berarti pipa.

(*)