Andi Arief Sebut Mobilisasi Kepala Desa Mirip Modus Orba untuk Menangkan Pak Harto dan Golkar

Cuitan Andi Arief (Foto. Secreenshoot Twitter Andi Arief)

Mantan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief menyatakan bahwa mobilisasi kepala desa dengan menyebut dana desa sebagai mobilisasi, mirip strategi pemenangan presiden ke-2 RI Soeharto dan Golkar. Dia juga menuding Mendagri Tjahjo Kumolo adalah pewaris Golkar.

Keterangan foto tidak tersedia.

Hal itu dikatakan Andi Arief lewat cuitannya di Twitter @AndiArief__. I, “Kepala Desa dimobilisasi, uang dana desa dijadikan akomodasi. INI dulu modus Orba untuk memenangkan Pak Harto dan Golkar. Pak Harto sudah pergi, tapi Mendagri Tjahyo Kumolo pewaris Golkar dalam tubuh Jokowi dan PDIP.”

Namun hal itu dibantah oleh Sekjen Kemendagri  Hadi Prabowo. Dia menegaskan bahwa tidak ada perintah tersebut. Pendanaan untuk acara tersebut juga merupakan inisiatif dari penyelenggara sendiri.

Sebelumnya, Andi Arief mengomentari foto undangan dari Badan Koordinasi Nasional Pembangunan, Pemerintahan, Pemberdayaan Kemasyarakatan Desa yang ditujukan untuk kepala desa di seluruh Indonesia. “Seluruh kepala Desa diwajibkan datang pada tanggal 30 Maret di Gelora Bung Karno, untuk dipaksa memberikan gelar bapak pembangunan Desa untuk Pak Jokowi. Setiap Kepala Desa ambil uang dana desa 3 jt rupiah. Acara sendiri ditanggung APBN via mendagri,” cuitannya di Twitter @AndiArief__. I

“Dari kemendagri tidak pernah memerintahkan (untuk pakai dana desa). Jadi kalau menggunakan dana atas perintah dari paguyuban, kalau tidak sesuai ketentuan nantinya pasti akan bermasalah. Kalau dari kantongnya sendiri sah sah saja,” kata Sekjen Kemendagri hadi Prabowo.

Sementara. amatan radarcirebon.com, Andi Arief kembali menyatakan dalam cuitannya, di Twitter @AndiArief__. I,”Mobilisasi seluruh kepala desa dengan decoy silaturahmi nasional untuk gelar raja pembangunan desa buat Pak Jokowi lebih baik dibatalkan, bukan hanya itu penipuan karena soal belum pantas bergelar, tetapi udang dibalik modus sudah jadi gerundelan. Menghina Orde Reformasi.”