Antisipasi Kebakaran Ciremai, TNGC Tingkatkan Patroli

kepala-TNGC
CEGAH KEBAKARAN: Kepala BTNGC Kuningan Kuswandono melakukan antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan kawasan lereng Gunung Ciremai. Foto: Agus Panther/Radar Kuningan

KUNINGAN – Antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan kawasan lereng Gunung Ciremai, patroli lapangan kini semakin ditingkatkan. Tak hanya dilakukan pihak Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) Kabupaten Kuningan, namun melibatkan petugas gabungan dari unsur pemerintah daerah maupun para relawan.

“Kita akan melakukan patroli yang lebih intensif dan penyuluhan kepada warga, sebab kita juga mungkin tidak bisa melarang warga yang akan membuka lahan dengan cara dibakar, namun kita meminta agar itu betul-betul dikontrol. Supaya api yang dihasilkan dari sumbernya itu tidak menyebar atau merembet lebih luas,” kata Kepala BTNGC Kuningan Kuswandono saat memberikan keterangan persnya, Rabu (10/7).

Bahkan agar lebih memaksimalkan patroli di kawasan Gunung Ciremai, pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa pihak seperti Polres Kuningan, Kodim 0615 Kuningan, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kuningan. Selain itu, BTNGC juga berkoordinasi dengan rekan mitra baik di wilayah Kuningan maupun Majalengka. “Kemarin rekan-rekan Polhut sudah melakukan analisis data terkait kebakaran selama kurun waktu lima tahun terakhir. Dari hasil tersebut, akhirnya muncul informasi lokasi yang memang paling rawan terjadi kebakaran,” paparnya.

Dia menyebutkan, jika melihat kawasan Gunung Ciremai dengan luas sekitar 15 ribu hektare lebih, daerah paling rawan terjadi kebakaran hutan maupun lahan terletak di bagian utara Gunung Ciremai. Apakah itu yang terdapat di Kabupaten Kuningan ataupun di Kabupaten Majalengka.

“Kalau menyebutkan titik rawan, mungkin tidak bisa menyebutkan itu. Namun secara umum memang paling rawan itu berada di daerah utara Gunung Ciremai,” tambahnya.

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa sumber kebakaran itu memang paling banyak di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga. Karena biasanya, ada warga saat membuka lahan untuk pertanian itu dengan cara dibakar. “Nah ketika membakar untuk keperluan membuka lahan, kadang uncontrol (tidak terkontrol) akhirnya api itu terbang atau lompat ke kawasan lain. Kebanyakan lahan yang terbakar tersebut vegetasi alang-alang dan semak belukar,” ungkapnya.

Diakunya, sejak lima tahun terakhir kebakaran hutan dan lahan di kawasan taman nasional paling besar terjadi pada 2018 lalu. Total kawasan taman nasional yang terbakar berdasarkan data mencapai 1.000 hingga 1.300 hektare.(ags)