APPSI Desak Perumda Pasar Beri Kejelasan soal Revitalisasi Pasar Kanoman

Kota Cirebon
Rencana revitalisasi Pasar Kanoman belum jelas, Tampak warga memadati pasar. Foto: Mike Dwi Setiawati/Radar Cirebon

CIREBON – Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Cirebon menyarankan agar pemerintah tegas dalam menentukan kelanjutan pembangunan Pasar Kanoman.

Ketua DPD Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kota Cirebon, H Agus Saputra mengatakan, pemerintah terkesan tak kunjung memberi kejelasan terkait revitalisasi.”Kami prihatin dengan kondisi saat ini, setidaknya pemerintah memberi kejelasan kepada para pedagang. Jangan diombang-ambing,” ujar Agus, kepada Radar, kemarin.

Agus menyatakan, klaim dari kontraktor semua persoalan dan perizinan disebutkan sudah selesai. Tapi fakta di lapangan berbicara lain. Penolakan masih terus disuarakan. Bahkan belakangan mulai meragukan keabsahan izin yang dimiliki oleh developer untuk melakukan revitalisasi. “Penolakan dari para pemilik toko itu salah satunya kan harus ada kesepakatan bersama, duduk bareng menuntaskan perihal pasar darurat,” katanya.

Agus juga mempertanyakan ketegasan peran dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Berintan. Sebagai mediator antara developer dengan pedagang. Kemudian menjembatani masalah-masalah yang berpotensi timbul akibat pembangunan pasar darurat.

Tetapi, apa yang terlihat selama ini justru penuh ketidakjelasan. Padahal di belakang mereka ada nasib 1.400 pedagang yang dipertaruhkan. “Posisi Perumda ada di pihak mana? Ada di pihak investor atau pedagang? Imbasnya kan ke pedagang, menyangkut 1400 pedagang yang ada,” tuturnya.

Dia menawarkan kepada Perumda Pasar untuk membahas opsi kemungkinan perpanjangan kontrak bagi pedagang. Bila tidak jadi direvitalisasi dalam waktu dekat, bisa mengambil opsi perpanjang kontrak dengan bangunan pasar yang saat ini. Misalnya 20 tahun kedepan, karena kontrak pedagang sendiri sudah habis sejak Juni 2016 lalu.

Sementara itu, rekayasa lalu lintas di pasar darurat untuk pedagang Pasar Kanoman, ternyata belum disusun dinas perhubungan. Pasalnya, dishub juga belum mendapat kejelasan mengenai pelaksanaan revitalisasi. “Belum ada rancangan bagaimana, kita tunggu kabar jadi tidaknya saja, baru pengaturan lalu lintasnya,” ujar Kepala Bidang Lalu Lintas, Gunawan ATD DEA, kepada Radar.

Meski begitu, pihaknya sudah membuat analisa dampak lingkungan (amdal) lalu lintas pasar darurat. Rencana apa saja di kawasan tersebut, lokasi dan gambarannya sudah dibuat.

Namun hal tersebut sewaktu-waktu bisa saja berubah karena belum adanya kepastian yang merujuk pada pembangunan Pasar Kanoman yang berjalan. “Kan di-pending, jadi kita belum bisa beri gambaran jelasnya seperti apa. Lalu lintasnya nanti tergantung dari posisi pendirian pasar daruratnya,” tuturnya.

Namun rencananya akan ada dua transit yang digagas dishub andai posisi pasar darurat berada di Jl Kanoman-Lemahwungkuk-Pecinan-Winaon. Tapi ia tak bersedia mengungkapkan rencana tersebut karena dikhawatirkan akan ada perubahan. (mik/myg)