AS Diciduk saat Pulang Haji, Ngaku Obati Santri dari Gangguan Setan

ustaz-cabul
AS alias Aa menjalani pemeriksaan di Mapolres Kuningan. ASdilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan pencabulan terhadap santriwati.FOTO:M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN-Proses penangkapan terhadap AS alias Aa cukup mengejutkan banyak orang. Penyidik Satreskrim Polres Kuningan menangkap pengasuh Ponpes Miftahul Iman Desa Segong, Kecamatan Karangkancana, itu saat pulang haji.

Kasat Reskrim Polres Kuningan AKP Syahroni mengakui pelaku ditangkap saat pulang haji, Kamis lalu (13/9) sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu petugas sampai harus mencegat bus rombongan haji yang di dalamnya ada AS. Dia kemudian diturunkan dan dibawa ke Mapolres Kuningan.

Pria 42 tahun itu ditangkap atas tuduhan cabul terhadap salah satu santrinya. “Karena pertimbangan keamanan, mengingat ada keluarga korban dan warga lain yang sudah menunggu di lokasi penjemputan di Terminal Kertawangunan, maka kami terpaksa menjemput tersangka di daerah Cilimus. Tersangka kami bawa untuk menjalani pemeriksaan oleh anggota Unit PPA,” ungkap Syahroni.

Ia menerangkan, penangkapan AS alias Aa atas dasar laporan orang tua korban yang merupakan santriwati di Ponpes Miftahul Iman. AS dituduh telah melakukan pelecehan seksual terhadap korban saat masih berusia 16 tahun, dua tahun yang lalu. “Tersangka dikenal warga sebagai pengasuh pondok pesantren yang juga bisa menyembuhkan orang kesurupan. Saat itu korban mengalami kesurupan di pesantren, kemudian dengan dalih pengobatan, terjadilah perbuatan pelecehan seksual terhadap korban,” ungkap Syahroni.

Korban mengaku mengalami pelecehan seksual pada bagian tubuh tertentu. “Pelaku menerangkan kepada korban, apabila ingin sembuh, maka setan-setan yang ada di tubuhnya harus diusir, yang salah satunya pada bagian tertentu di tubuh korban. Dari pengakuan korban, perbuatan tersebut dialaminya hingga tiga kali,” terang Syahroni.

Terkait adanya kemungkinan korban lain, Syahroni mengatakan, hal tersebut bisa saja terjadi. “Ada ancaman dari pelaku jika melapor maka setan itu akan kembali menghinggapi tubuh korban. Mungkin karena alasan ini para korban tidak berani melapor kepada kami,” tutur Syahroni.

AS sendiri dalam keterangannya kepada polisi mengaku perbuatan tersebut dilakukan semata-mata mengobati korban dari kerasukan setan. Dari hasil terawangan batin, ia mengaku melihat ada beberapa setan yang menempati tubuh korban. Seperti di bagian pundak, kepala, dan juga bagian tertentu di tubuh korban.

“Kejadiannya 2016. Santri saya kesurupan di kampus, kemudian saya obati disaksikan tiga santriwati. Dari hasil komunikasi saya dengan setan yang merasuki tubuhnya, ada salah satu yang menempati bagian kemaluan santri itu. Saya usir dengan membacakan ayat-ayat, ternyata tak mau pergi. Untuk memaksa setan itu keluar, saya sentuh tanpa melepas pakaian. Setelah saya tarik setannya, santri itu langsung sembuh dan sadar dari kesurupannya,” kata AS.

AS mengungkapkan, pengobatan terhadap korban ini dilakukannya tidak hanya sekali, melainkan sudah cukup lama. Menurutnya, tak sekali-dua kali korban mengalami kesurupan. Baik di kampus maupun rumahnya. Beberapa kali dia dipanggil oleh orang tua santri itu guna meminta untuk disembuhkan. “Bahkan setelah penyembuhan itu orang tuanya berterima kasih kepada saya. Tapi ternyata ujungnya seperti ini,” ucap AS. (fik)