Atlet Timnas Softball Indonesia asal Cirebon Meninggal Dunia

Tak Pernah Mengeluh Sakit, Prestasi sampai Piala Dunia

Alfan Sontiara semasa hidup. FOTO: DOK.RADAR CIREBON
Alfan Sontiara semasa hidup.FOTO: DOK.RADAR CIREBON

CIREBON-Dunia olahraga berduka. Atlet softball asal Cirebon, Alfan Sontiara (29), menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (12/3). Semasa hidup, Alfan dikenal sebagai sosok bertabur prestasi. Pernah membela Tim Nasional Softball Indonesia pada gelaran Piala Dunia (World Cup) Softball di Kanada.

Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Alfan Sontiara di Jalan Karang Jalak Kompleks BI Nomor B 11 RT 05 RW 06, Kelurahan Sunyaragi, Kota Cirebon. Tampak Keluarga dan kerabat berdatangan untuk memberikan doa menuju peristirahatan terakhirnya.

Nama Alfan Sontiara memang tak begitu dikenal masyarakat Kota Cirebon. Meski sejatinya, ia telah menorehkan prestasi di bidang olahraga softball. Bahkan sejak masih tercatat sebagai siswa di SMAN 6 Cirebon, ia termasuk pemain di tim Jawa Barat dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2008 di Samarinda Kalimantan Timur.

“Saya memang generasi Cirebon pertama yang ada di tim Jabar dan tim nasional. Kalau pas pulang di Cirebon, Alfan dan teman-temannya itu suka datang ke rumah minta dilatih dan sharing-sharing,” ujar Puri Indraswari, pembina almarhum.

Ketertarikan Alfan kepada olahraga softball memang dimulai saat duduk di bangku SMA. Di SMAN 6 Cirebon, ia bergabung di klub softball sekolah. “Setelah latihan-latihan, tim SMAN 6 ikut lomba di Jakarta. Terus bikin kejutan lah. Tim-tim di Jakarta di Bandung kaget ini tim Cirebon dari mana, tahu-tahu punya penampilan luar biasa,” imbuh Puri.

Dari hasil pertandingan yang mengejutkan itu, Puri dan kawan-kawan sesama atlet Softball di Pelatnas, khususnya yang berasal dari Cirebon, membantu almarhum untuk meraih prestasi lebih tinggi. “Di Porda Karawang tahun 2006 dia akhirnya main untuk kontingen Kabupaten Cirebon, karena tidak dipanggil Perbasasi Kota Cirebon. Kebetulan juga Perbasasi Kabupaten Cirebon tidak punya atlet. Saat itu masih SMA kelas 3, dia dapat medali perunggu,” jelasnya.

Sejak saat itu, nama Alfan Sontiara tidak pernah absen dalam setiap gelaran Porda Jawa Barat. Bahkan, pada tahun 2008 ketika tercatat sebagai mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Alfan lolos Tim U-19 Jawa Barat untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas). “Sampai akhrinya pada tahun 2011 dia ikut seleknas, dan dia terpilih masuk di timnas senior. Dia lolos tuh untuk SEA Games tahun 2018 di Palembang,” jelas Puri.

Meski besar sebagai atlet di Bandung, Alfan tidak sungkan berbagi ilmu kepada para juniornya di Cirebon. Bahkan, saat kembali ke tanah kelahiran pada 2015, almarhum menggoreskan sejarah bagi kontingen Kabupaten Cirebon. “Di porda dia membuat sejarah, bisa bikin Cirebon dapat medali. Setelah Porda tahun 1994 pertama kali Cirebon ikut softball di Serang Banten, baru pada 2018 di Kabupaten Bogor pada saat dia menjadi pelatih, tim Kabupaten Cirebon meraih medali,” katanya lagi.

Nama Alfian semakin melambung ketika dirinya menjadi salah satu pemain di timnas Softball Indonesia untuk tampil dalam ajang Piala Dunia (World Cup) Softball di Kanada tahun 2014. Itu merupakan kali pertama Indonesia masuk dalam ajang tertinggi dalam dunia softball. “Dia termasuk pemain yang terpilih. Mewakili Asia bersama Jepang dan Filipina. Karena yang mewakili hanya tiga besar di Asia. Tahun ini saja Indonesia tidak masuk ke World Cup,” tutur Puri.

Sejak tahun 2011 hingga wafat, almarhum masih tercatat sebagai atlet senior. Almarhum juga berkeinginan untuk mengikuti seleknas untuk Asian Games 2019 di Filipina. Namun, karena terhalang cidera, almarhum akhirnya batal mengkuti seleksi tersebut. “Dia itu cidera setelah SEA Games 2015. Dia cidera lutut. Sempat operasi dan belum lama ini operasi untuk yang kedua kalinya,” tambah Puri.

“Yang saya tahu kepribadian dia di lapangan, dia itu nggak pernah mengeluh. Kalau latihan seberapa berat pun tidak pernah mengeluh. Bahkan sakit pun tidak mengeluh. Orangnya juga tidak mau nyerah kalau punya keinginan. Dia punya kepercayaan diri yang kuat. Effortnya untuk mau maju sangat-sangat hebat,” kenangnya.

Di akhir masa hidupnya, Alfan berkeinginan untuk menyelesaikan studi magister (S2) di Universitas Negeri Jakarat (UNJ). Namun, belum menyelesaikan tesis, takdir lebih dahulu menjemput. “Katanya dia lagi tesis, hampir selesai tapi Yang Kuasa berkehendak lain,” lanjut Puri.

Puri menyayangkan sikap pemerintah yang cenderung bersikap abai atas prestasi putra daerah. Termasuk kepada Alfan Sontiara. Sejak tahun 2015, Alfan tercatat sebagai pegawai honorer di Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon.

“Itu yang membuat saya miris. Kadang pemerintah daerah kurang perhatian ke putra daerahnya. Dengan prestasi kelas dunia hanya dihargai dengan honorer, dan tidak dilihat lebih jauh. Saya harap, walaupun cabang olahraga tidak familiar, tapi harusnya sebagai bentuk penghargaan, pemerintah perlu mengapresiasi prestasi warganya,” pungkasnya. (day)