Australia Selundupkan Sampah ke Indonesia

SAMPAH SUNGAI CIPAGER
Ilustrasi. Foto: Dok. radarcirebon.com

JAKARTA – Hasil investigasi lembaga konservasi lingkungan di Jawa Timur menunjukkan adanya praktik penyelundupan sampah plastik dari Australia, yang masuk lewat impor kertas bekas di Indonesia.

Industri kertas di Indonesia masih memiliki sejumlah tantangan. Termasuk kesulitan mendapat bahan baku kertas bekas dan terpaksa harus membelinya dari negara-negara lain.

Amerika Serikat, Italia, Inggris, Korea Selatan, dan Australia adalah lima negara pengekspor kertas bekas ke sejumlah pabrik di Jawa Timur. Di tahun 2018 lalu, impor kertas bekas dari Australia mencapai 52 ribu ton dan jumlah ini naik lebih dari 250 persen dibandingkan tahun 2014.

Namun, dari hasil penelusuran lembaga Ecological Observations and Wetlands Conversation (Ecoton) ada kandungan plastik dalam kertas bekas yang dikirim dari Australia dan diduga disengaja.

“Sebenarnya menurut aturan di Indonesia sampah plastik tidak boleh lebih dari 2 persen dari bobot kertas bekas yang diimpor. Namun faktanya, hingga November 2018 hampir 30 persen sampah kertas yang kita beli itu isinya adalah sampah plastic,” ujar Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, Rabu (24/4).

Prigi mengatakan, hal ini muncul karena negara-negara maju merasa kesulitan mengatasi sampah dan menyadari mahalnya biaya daur ulang.

“Mereka tidak mau lingkungannya terganggu karena sampah. Akhirnya mereka menaruh risiko itu ke negara-negara miskin atau berkembang karena kita tidak memiliki regulasi terlalu kuat,” katanya.

Industri pengolahan sampah di Australia telah mulai mencapai titik krisis pada bulan April tahun lalu, menyusul langkah Tiongkok yang melarang impor produk limbah dari luar negeri.

Awal pekan ini (22/4) Ecoton dan sejumlah aktivis lingkungan menggelar aksi demo di depan kantor Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. “Di Jawa Timur ada 22 pabrik kertas dan 12 di antaranya berada di pinggiran Kali Brantas,” kata Prigi.

Dalam kertas bekas yang diterima pabrik tersebut, ditemukan pula sampah plastik dari personal care dalam kemasan sachet, bungkus makanan, botol plastik, kantung plastik, popok, dan beberapa di antaranya bertuliskan Made in Australia.

Ecoton menemukan beberapa pabrik kertas yang kemudian menjual sampah-sampah ini kepada masyarakat untuk dipilah dengan harga mencapai Rp1,2 juta per ton. Tapi karena sebagian besar sampah plastik ini tidak bisa didaur ulang, warga kemudian membakarnya atau menimbunnya di tepi sungai.

Prigi mengatakan telah menyampaikan masalah ini kepada pemerintah Indonesia, lewat Kementerian Perindustrian dan Kementerian Lingkungan Hidup. Ia juga meminta agar impor kertas bekas dievaluasi secara menyeluruh.

“Ecoton juga meminta Australia bertanggung jawab atas dampak buangan sampah plastik ke aliran air, yang pernah disampaikan kepada Kedutaan Besar Australia di Jakarta 11 April lalu namun mereka mengaku belum mendapatkan tanggapan,” pungkasnya. (der/abc/fin)