Bandara Kertajari Masih Jadi Alternatif Wisata seperti Tahun 2018

warga berwisata BIJB Kertajati. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
warga berwisata BIJB Kertajati.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

MAJALENGKA-Aktivitas BIJB Kertajati masih sepi. Nyaris tak ada kegiatan terkait pelayanan penerbangan di bandara tersebut ketika Radar Cirebon berkunjung, Selasa (11/6). Padahal, rencananya 15 Juni sejumlah rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung dialihkan ke Bandara Kertajati.

Meskipun demikian, suasana di area bandara cukup ramai. Nah, yang bikin ramai itu adalah hilir mudik kendaraan seperti elf, mobil bak modifikasi atau odong odong, sepeda motor, juga mobil pribadi. Rupanya BIJB Kertajati masih menjadi destinasi wisata. Kondisi itu juga pernah dijumpai Radar Cirebon ini saat berkunjung pada Oktober 2018 lalu.

Para wisatawan yang ditemui mayoritas dari luar Majalengka. Seperti wilayah Cirebon dan Indramayu. Khusus pengunjung dari Indramayu bahkan sering kali datang ke lokasi tersebut karena jaraknya yang tergolong dekat.

Seperti pengakuan Muhajirin, asal Kertasemaya, Indramayu. Ia mengaku hanya menempuh perjalanan sekitar 25 menit dari rumahnya di Kertasemaya. “Saya naik motor 25 menit. Kalau mobil mungkin lebih lambat sedikit. Bisa selisih 15-20 menit. Jaraknya lumayan dekat dari Indramayu. Makanya yang ke sini banyak orang Indramayu. Tetangga saya sudah sering ke sini. Biasanya rombongan carter elf,” ujarnya.

Salah satu hal yang membuat animo masyarakat begitu tinggi untuk datang ke BIJB Kertajati adalah masih sedikit masyarakat yang tahu dan pernah melihat secara langsung keberadaan bandara. Terlebih stempel internasional yang melekat sehingga bayangan masyarakat, lokasi tersebut adalah tempat yang sangat megah dan ramai.

“Dan memang sangat megah. Satu-satunya bangunan yang berdiri di tengah lahan kosong. Bangunannya besar, cuma memang sepi. Tadi juga pesawatnya gak kelihatan. Saya juga gak tahu ada pesawatnya atau tidak di belakang (runway, red),” kata Muhajirin yang tampak mengenakan batik warna merah.

Ia pun sudah mendengar jika sejumlah rute penerbangan dari Bandara Husein Bandung bakal digeser ke BIJB. Namun ia sendiri tidak mengetahui kapan hal tersebut dilakukan. Terlebih, ia tidak melihat persiapan yang dilakukan oleh pengelola untuk menyambut rencana pemindahan rute sejumlah penerbangan dari Bandung ke Kertajati.

“Informasinya memang begitu, biar ramai nanti katanya ada penerbangan yang digeser dari Bandung. Tapi tadi lihat sih masih biasa-biasa saja. Tidak ada persiapan atau kesibukan yang berarti. Pengunjung bisa masuk ke lantai 1. Tapi kalau untuk ke lantai atas tidak bisa,” jelasnya kepada Radar Cirebon.

Kamad, rekan Muhajirin, mengaku memilih datang ke BIJB karena lokasi yang dekat dan ada kebanggan tersendiri bisa melihat lagsung salah satu bandara terbesar di Indonesia. “Ini kan kebanggan masyarakat Jawa Barat. Kalau belum ke sini tentu masih ada yang kurang. Makanya karena dekat, disempatkan ke sini. Mumpung sekarang masih bebas, belum begitu ketat. Kita naik motor sekitar 25 menit, ketimbang harus ke Kuningan atau ke Kota Cirebon lokasinya begitu jauh,” bebernya.

Namun, menurut dia, lokasi bandara yang berada di pinggiran Majalengka tersebut dikhawatirkan membuat para pengguna bandara kerepotan. Pasalnya lokasinya cukup jauh ke Bandung dan Cirebon sebagai salah satu kota tujuan utama di Jawa Barat.

“Kalau orang mau wisata ke Bandung atau Cirebon terus turun di bandara ini, tentu agak melelahkan jika harus menempuh perjalanan darat yang jaraknya bisa jadi dua kali lipat waktu perjalanan dengan naik pesawat. Selain itu di sekitar sini kan minim destinasi wisata sehingga orang yang turun di sini harus menempuh perjalanan yang tidak sebentar untuk sampai ke kota besar terdekat,” ungkapnya.

Sementara pantauan Radar Cirebon, spot paling banyak didatangi oleh pengunjung untuk berfoto adalah sebuah tembok dengan tulisan dan logo BIJB Kertajati yang berada persis di depan bangunan utama. (dri)