Bandara Kertajati: Untung atau Rugi?

Bandara Kertajati-FOTO:DEDI HARYADI/RADARCIREBON.COM
Bandara Kertajati (BIJB).FOTO:DEDI HARYADI/RADARCIREBON.COM

Sejak area terminal digroundbreaking Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 14 Januari 2016, pembangunan bandara berlangsung dalam koridor rencana. Bahkan Presiden yang sudah dua kali melawat ke Bandara Kertajati pada Selasa 17 April 2017 terkejut karena pembangunan bandara ini bisa berlangsung cepat.

“Kita ingat dua tahun lalu atau sekitar Januari 2016 ada tiang pancang pertama. Kemudian dua tahun lebih sedikit, ini sudah dikerjakan sesuai dengan target waktu yang telah kita berikan,” kata Jokowi dalam kunjungannya ke Bandara Kertajati.

Jokowi yang didampingi Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi dan Ahmad Heryawan (saat itu menjabat Gubernur Jawa Barat) memuji model skema pembiayaan Kemitraan Pemerintah Swasta (KPS) yang dilakukan PT BIJB. Pembiayaan ini tidak dibebankan sepenuhnya pada negara. Pembiayaan seperti ini nyatanya yang tepat dan dapat mengakselerasi pembangunan infrastruktur.

“Yang paling penting ini anggaran sudah tidak sedikit untuk konstruksi dan pembebasan lahan. Ini kerja sama pemerintah provinsi Jawa Barat, swasta, (pemerintah) pusat dan pengerjaannya cepat sekali. Ini kita senang,” sebut Presiden Jokowi.

“Kerja sama ini menjadi sebuah model bisnis yang mempercepat pembiayaan, infrastruktur,bisa cepat selesai. Ini setelah selesai (BIJB) skema-skema baru selalu jadi contoh di tempat lain,” tandasnya.

Lalu, beroperasinya gerbang baru di Majalengka di tahun 2018, menjadi harapan baru dunia penerbangan Indonesia.  Namun, Bandara Kertajati kini seolah sedang mati suri. Hanya ada 1 rute penerbangan yang beroperasi dari 11 yang tersedia. Target 2,7 juta penumpang per tahun 2019 pun jauh dari harapan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pun angkat suara ihwal nasib Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Bandara yang baru beroperasi kurang dari setahun ini masih sepi penumpang, maskapai penerbangan ogah terbang dari bandara ini.

Ini terlihat dari jumlah penumpang di Bandara Kertajati sejak beroperasi Mei 2018 sampai dengan akhir 2018 hanya 35.000 orang. Padahal, tahap awal kapasitas terminal Bandara Kertajati bisa menampung 5 juta penumpang per tahun.

“Boleh dibilang perencanaannya tidak terlalu bagus, mungkin kurang penelitian, sehingga lokasinya tidak pas. Lain kali, jangan kita (pemerintah) membuat [bandara] lagi hanya karena ingin ada airport,” jelas JK dikutip dari Antara.

Rencana membangun Bandara Kertajati awalnya memang tidak ada dalam Tatanan Kebandarudaraan Nasional atau peta jalan pengembangan bandara dalam jangka panjang, wilayah Majalengka tidak masuk dalam rencana pemerintah.

Baca: PM 69 Tahun 2013 Tatanan Kebandarudaraan Nasional

Di Jawa Barat, pemerintah pusat sudah menetapkan beberapa lokasi untuk dikembangkan sebagai bandara baru, di antaranya Bandung, Cirebon, Pengandaran, dan Karawang. Dari keempat lokasi itu, Karawang sempat jadi kandidat terkuat.

Karawang dianggap strategis karena lokasinya dekat dengan Bandara Soekarno-Hatta, dan berpotensi mengurai kepadatan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) punya rencana lain. Pemprov Jabar justru menginginkan lokasi bandara digeser ke Kabupaten Majalengka demi alasan pengembangan wilayah.

“Prosesnya (Karawang) lama juga. Pembebasan lahan dulu, segala macam. Penentuan lokasi, RTRW saja belum. [Bandara] Karawang dibicarakan setelah Kertajati selesai,” kata Ahmad Heryawan saat menjabat Gubernur Jabar dikutip dari Bisnis pada 26 Februari 2016. Pemprov Jabar meyakini lokasi bandara di Majalengka bisa membantu mengurai kepadatan di Soekarno-Hatta.

Selain itu, kehadiran bandara di Majalengka juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Cirebon Raya, Bandung Raya dan sekitarnya. Pemerintah pusat akhirnya menuruti gagasan Pemprov Jabar, untuk memenuhi kebutuhan tambahan bandara guna mengurai kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. Pemerintah pusat melalui kementerian perhubungan membantu pengembangan landas pacu Bandara Kertajati.

Semenjak Bandara Kertajati diresmikan, maskapai bertarif rendah Citilink menjadi maskapai pertama yang terbang ke Kertajati. Saat itu, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. ini membuka rute penerbangan Kertajati-Surabaya (PP). Maskapai lainnya menyusul di antaranya seperti Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Kertajati-Balikpapan dan Kertajati-Palembang.

Kemudian, Lion Air dengan rute Kertajati-Madinah dan Kertajati-Balikpapan. Baca juga: Buka Rute ke Kertajati, Kemenhub akan Beri Insentif untuk Maskapai Kuartal I 2019, Penumpang Bandara Kertajati Baru 1,1% dari Target Selebihnya ada Wings Air—anak usaha dari Lion Air Grup sempat melayani rute penerbangan Kertajati-Jakarta dan Kertajati-Yogyakarta. Citilink juga menambah rute baru yakni Kertajati-Medan.

Namun akhirnya, maskapai yang melayani penerbangan di Kertajati menyisakan Citilink dengan rute Kertajati-Surabaya. Itupun frekuensi terbangnya hanya satu kali per pekan. Kondisi ini jelas membuat bandara semakin sepi dari penumpang. Target bisnis bagi pengembang tentu jadi persoalan bila tak segera ditangani.

Jumlah penumpang yang tipis, ditambah maskapai yang enggan terbang ke Kertajati jelas menjadi berita buruk bagi pengembang bandara. Pasalnya, biaya mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil.

Direktur Keuangan dan Umum PT BIJB Muhammad Singgih, selaku pengembang Bandara Kertajati, mengatakan biaya operasi Kertajati saat ini sekitar Rp6-7 miliar per bulan. Jika dihitung sejak bandara dibuka pada Mei 2012 sampai sekarang, total biaya yang sudah dikeluarkan selama 11 bulan semenjak pengoperasian sekitar Rp66-77 miliar.

Di sisi lain pemasukan dari puluhan ribu penumpang dan satu maskapai penerbangan sulit untuk menutupi pengeluaran sebesar itu, ini sama saja “membakar” uang. Sebagai gambaran, pemasukan dari airport tax atau Passenger Service Charge (PSC) untuk 35.000 penumpang dikali sekitar Rp65.000, baru mencapai maksimal sekitar Rp2,2 miliar pada tahun lalu.

“Di bandara lain mungkin lebih besar lagi. Sejak dibuka, kami memang melakukan banyak penghematan. Tentu, kami juga mencari cara untuk menaikkan pendapatan, karena ini tidak bisa terus-terusan,” tutur Singgih.

Menurut Singgih, kondisi Kertajati yang masih sepi dinilai wajar. Pasalnya, tren bandara baru awalnya memang seperti itu. Bahkan, ada juga bandara yang tiga tahun keuangannya masih berdarah-darah. Meski kondisi Bandara Kertajati masih sepi, BIJB meyakini target impas (break even point /BEP) bisa terealisasi pada 2032 atau 14 tahun mendatang seiring dengan meningkatnya kebutuhan jasa angkutan udara di Jawa Barat.

Sementara, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjawab kritik soal sepinya aktivitas di Bandara Kertajati, Jawa Barat. Erka mengakui soal kondisi itu. Ia mengatakan, masalah aksesibilitas menuju bandara jadi kendala utama minimnya aktivitas penerbangan di Kertajati.

Ridwan mengatakan belum selesainya Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) jadi kendala utama. “Intinya semua tantangan di Jabar ini sedang diselesaikan perlahan. Kertajati ini diresmikan saat Cisumdawu belum selesai. Kalau Cisumdawu belum selesai pemindahan BIJB dari Husein pun merugikan penumpangnya. Karena jaraknya terlalu jauh berputar-putar menghabiskan waktu,” ujar Emil di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Kamis (11/4/2019). (*)

Halaman: 1 2