Bank Indonesia Sebut Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Naik di Atas 5 Persen

ILUSTRASI

CIREBON-Secara keseluruhan baik nasional, Jawa Barat, maupun Ciayumajakuning mencatat pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan periode 2017 dalam hal Dana Pihak Ketiga (DPK) dan aset perbankan. Hanya pertumbuhan kredit yang tercatat membaik pada lingkup nasional dan Jawa Barat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon M Abdul Majid Ikram menturkan pertumbuhan ekonomi Ciayumajakuning terjaga pada tahun 2018. Pertumbuhan  kredit mencapai 7.58% (yoy) atau 7.67% (ytd).

DPK tumbuh 7.98% (yoy) atau 8.79% (ytd) namun mengalami penurunan hingga 3%. Sumber dana masih didominasi oleh dana murah berupa tabungan dengan pertumbuhan 9.73% (yoy). Kinerja perbankan pun cukup baik dalam menyalurkan kredit sebagaimana tercermin dalam Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 115%. Di sisi lain kualitas kredit juga masih terjaga dimana Non Performing Loan (NPL) mencapai 2.11 %, membaik dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Kredit masih didominasi untuk kredit konsumsi dengan pertumbuhan hingga 8.48% (yoy).

“Intermediasi perbankan yang pelu didorong, bagaimana perbankan meningkatkan pernana pembiayaannya. Pembiayaan di wilayah ini menurut hemat kami belum optimal. Pertumbuhan dr penyaluran masih perlu didorong,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Lanjutnya, dalam pergerakan perekonomian di wilayah kerja KPw BI Cirebon, BIJB hadir sebagai motor penggerak ekonomi yang sangat kuat. Pihaknya pun terus menghimbau kepada masing-masing daerah untuk dapat memanfaatkan motor penggeraka perekonomian tersebut. Saat ini pihaknya sedang merangkai pariwisata integrasi.

“Bagaimana mendorong pariwistaa sebagai magnet perekonomian, yang nantinya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,memperluas distribusi pendapatan, bahkan mengurangi jumlah pengangguran,” paparnya.

Sementara itu, memasuki 2019 pertumbuhan ekonomi di 2019 dikatakan Majid tidak akan terpengaruh oleh politik. Bersamaan dengan nilai tukar rupiah yang mulai menguat, akan mendorong perekonomian. “Pertumbuhan ekonomi diprediksi akan naik di atas 5%,” jelasnya.

Pihaknya pun telah mengantisipasi terkait gejolak perekonomian dunia. Dalam hal ini antisipasi dilakukan bukan karena politik namun sangat tergantung pada perekonomian dunia Federal Reserve. “Perang dagang Amerika dan Tiongkok harus diperhatikan, jangan jadi bumerang, tapi Indonesia harus bisa menangkap peluang untuk bisa memasuki pasar Amerika,” pungkasnya. (apr)