Banyak Pesanan Besek, Pedagang Kewalahan

Perajin-Besek-(2)
Perajin anyaman bambu atau besek di Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Foto: Ono Cahyono/Radar Majalengka

MAJALENGKA – Permintaan akan besek wadah dari anyaman bambu meningkat hingga lebih dari 300 persen sejak bulan lalu. Permintaan ini datang kepada distributor besek di Pasar Anyaman Rajagaluh, Kecamatan Rajagaluh, dan di Desa Heuleut, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka.

Bahkan pesanan besek atau yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan kempluk ini datang dari berbagai wilayah. Namun sayangnya, pesanan besek tidak bisa dipenuhi seluruhnya karena minimnya perajin kempluk di daerah. Kempluk dihargai murah sehingga pembuatannya hanya menjadi sampingan dari pekerjaan para petani.

Menurut keterangan pedagang, Anas (33), pesanan kempluk datang hampir setiap hari dari berbagai daerah seperti Jakarta dan Bandung serta Indramayu. Permintaan tiba-tiba naik sejak sebulan yang lalu hingga beberapa kali lipat karena adanya informasi plastik dianggap tidak ramah lingkungan. Sayangnya permintaan pasar tidak sebanding dengan barang yang diproduksi.

Anas mengaku perngiriman barang lebih banyak ke Bandung ke Pasir Koja. Minggu ini dia baru saja mengirim barang sebanyak 20 ribu besek.

“Minggu ini ada pesanan dari DKI Jakarta melalui teman saya. Hanya belum bisa dipenuhi seluruhnya. Saya sekarang sedang berusaha mengumpulkan barang dari beberapa pedagang lain agar pesanan bisa dipenuhi. Biar laba sedikit asal barang cepat laku,” ungkap Anas, kemarin (9/8).

Sementara itu, pemilik kios barang anyaman di Pasar Anyaman Rajagaluh Lor, Keye mengatakan suplai ke pasar kini kurang karena jumlah perajin kurang. Dirinya juga mengaku permintaan kepadanya cukup banyak. Di antaranya Indramayu dan Jakarta masih kurang, karena pengiriman ditambah boboko (bakul) dan hihid (kipas).

“Yang terpenting mobil itu muatannya penuh,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Kasma pengepul di Desa Heuleut. Menurutnya setiap hari pemesan barang berdatangan atau melalui sambungan telepon. Seorang konsumen ada yang memesan barang beragam ukuran paling sedikit 1.000 hingga 6 ribu pasang. “Malah ada yang minta hingga 15 ribu pasang,” tuturnya.

Kasma menampung seluruh barang dari para perajin. Hasil pengumpulannya dibeli oleh para pedagang lain untuk dikirim ke berbagai daerah. Ada juga yang pembeli langsung dari Bandung dan Bekasi.

“Saya sudah berusaha menaikan harga kepada para perajin untuk memenuhi permintaan pasar. Tetapi susah karena mereka sekarang sedang ke sawah, ada yang panen ada yang mulai tanam lagi,” imbuh Kasma.

Dia menyebutkan, ada empat ukuran besek atau kempluk yang dijualnya. Untuk ukuran 18 sentimeter di jual seharga Rp7.500 dengan isi 5 pasang atau istilah perajin saguruntul. Sedangkan dia membeli dari perajin seharga Rp6.500 per lima pasang.

Sementara untuk ukuran 16 sentimeter dijual seharga Rp6 ribu per lima pasang. Ukuran 14 sentimeter dijual seharga Rp4.500 per lima pasang serta ukuran 10 sentimeter dijual seharga Rp3.500 per lima pasang.

Menurutnya penjualan yang paling laku untuk saat ini adalah ukuran 16 sentimeter dan 14 sentimeter yang informasinya untuk wadah daging kurban. Anas berpendapat, minimnya perajin ini akibat harga barang yang terlalu murah serta barang bambu tergerus oleh barang plastik.

“Barang plastik lebih mudah didapat dan dianggap bisa lebih bersih dipergunakan,” sebutnya.

Menurut salah seorang perajin anyaman, Fatimah, besek digunakan untuk wadah nasi ketika hajatan baik perayaan nikah, khitanan ataupun hajat orang meninggal 7 harian dan peringatan 40 hari biasa menggunakan tipluk sebagai tempat nasi dan lauk pauknya. Demikian juga untuk wadah bumbu dapur.

“Sekarang semua menggunakan plastik,” kata Fatimah.

Menurut mereka menjadi perajin anyaman juga tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Makanya membuat anyaman hanya sebagai sampingan yang dikerjakan setelah pulang dari sawah atau saat malam hari.

“Kalau ke sawah setengah hari upah perempuan bisa Rp50 ribu. Kalau nganyam paling Rp10 ribu saja,” ungkapnya.

Disampaikan pedagang lainnya, Kasma bahan baku bambu tali masih mudah diperoleh di Pasar Rajagaluh. Hanya saja harganya mahal dan pembuatannya cukup lama. Satu bambu tali harganya Rp10 ribu.

“Jadi upah kerja dan laba hanya sekitar Rp12.500. Sehari walaupun khusus mengerjakan belum tentu bisa memperoleh 10 guruntul. Karena prosesnya panjang,” ungkap Kasma.

Kasma mengatakan sebetulnya pesanan besek tidak hanya datang dari pasar regional. Namun juga dari Singapura dan Belanda. Kedua negara tersebut pernah menjadi tujuan ekspor selama kurang lebih lima tahun.

Pengiriman barang dilakukan setiap 3 bulan sekali hingga akhirnya dihentikan oleh pemesan karena kecewa dengan kualitas barang yang semakin turun.

“Dulu itu kan barangnya harus benar-benar bagus, ada pembakaran dan bambu juga halus. Belakangan karena pesanan banyak, akhirnya untuk mengejar target, kualitas barang diturunkan, namun akhirnya berhenti dengan alasan barang kurang sesuai,” ungkap Kasma. (ono)