Begini yang Dilakukan SMA Coktoaminoto di saat Sekolah Lain MPLS

Guru Bahasa Indonesia SMA Cokroaminoto Titin Saptini SPd di ruang guru karena KBM belum dimulai, Rabu (17/7). FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON
Guru Bahasa Indonesia SMA Cokroaminoto Titin Saptini SPd di ruang guru karena KBM belum dimulai, Rabu (17/7).FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON

CIREBON-Sejak Senin sekolah mulai menggelar kegiatan pengenalan sekolah pada siswa baru. Namun suasana tersebut berbeda jauh di SMA Cokroaminoto, Kota Cirebon. Kegiatan belajar mengajar (KBM) belum terlihat. Ada apa ya?

Hari-hari terakhir, suasana SMA Cokroaminoto cenderung sepi. Tak ada tanda-tanda ‘kehidupan’ hari-hari pertama masuk tahun ajaran baru itu. Tiba-tiba Titin Saptini SPd muncul. Nafasnya masih masih terengal-engal ketika menemui saya.  Di tangannya, ada setumpuk berkas.

Kemudian dia duduk salah satu kursi depan ruang guru. Rupanya ia mengira akan ada lagi yang ingin mendaftar.  Rupanya sejak Rabu (17/7) pagi, Guru Bahasa Indonesia tersebut sudah berkeliling ke berbagai wilayah untuk mempromosikan sekolah ini. Paling jauh sampai ke Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Tujuannya untuk mempromosikan juga menjemput sejumlah siswa yang sudah terdaftar untuk masuk ke sekolah.

Sayangnya, dua diantaranya sudah pindah ke SMAN ketika didatangi ke rumah mereka. Momen mempromosikan sampai ke berbagai wilayah itu rupanya jadi salah satu upaya SMA Cokroaminoto untuk menggaet peminat. Bukan hanya Titin, namun seluruh guru pun juga bergerak untuk mencari murid.

Bahkan seluruh siswa mulali dari kelas 10 hingga 12 pun dikerahkan untuk membantu mempromosikan SMA Cokroaminoto kepada teman-temannya. Cara itu cukup berhasil karena sebelumnya, dari hanya 1 siswa yang mendaftar kini tercatat sudah ada 5 siswa yang resmi menjadi murid di sekolah tersebut. “Sampai seminggu kita di sini tidak belajar dulu karena yang seniornya ini juga nyari murid baru. Saling bantu semuanya,” paparnya.

Seluruh warga sekolah dikerahkan untuk mencari murid baru.  Dimulai dari pukul 09.00 hingga 12.00. Kemudian mereka kembali ke sekolah untuk laporan. Targetnya anak-anak yang ingin bersekolah namun tidak bisa karena keterbatasan biaya. Titin pun berkeliling ke sejumlah wilayah di Kabupaten Cirebon.

Begitu juga dengan para guru yang lain. Penerimaan siswa baru di sekolah ini masih diterima sampai akhir Agustus. Meski tahun-tahun sebelumnya SMA Cokroaminoto ini pun tidak memiliki murid yang banyak, namun tahun ini yang terparah. “Yang kelas XI saja ada 15 orang, kelas XII ada 15 orang juga. Minimalnya itu di awal KBM ada 7 orang. Tapi ini baru ada 5 itu juga harus usaha keras. Karena jujur kami tidak ingin pasrah, kami upayakan dulu sebisa mungkin,” terangnya.

Dalam sesi laporan, salah satu murid mengabari bahwa ada temannya ingin bersekolah namun terhalang biaya. Padahal diungkapkan Titin, SMA Cokroaminoto tidak ada uang pendaftaran. Bahkan ia tak ragu membantu murid yang tak bisa membeli seragam untuk bersekolah. “Sampai yang nggak ada uang untuk beli seragam itu saya kasih. Jadi yang penting anak itu ya sekolah dulu. Kita cari murid sampai bener-bener door to door. Perjuangan sekali,” ucapnya.

Ia mengakui, persaingan antar sekolah kian ketat. Di tahun-tahun terakhir,  SMA Cokromanoto kurang punya pemina. Padahal, sekolah ini punya potensi untuk menelurkan siswa menjadi lebih baik dan memiliki masa depan. Ia bercerita, salah satu muridnya pun bisa sampai menjadi TNI baru-baru ini. Termasuk salah satu lulusannya ialah Direktur Utama PAM Tirta Giri Nata Kota Cirebon, Sofyan Satari atau yang biasa dipanggil Opang itu. (myg)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait