Benda Bersejarah di Indramayu Banyak yang Tercecer

suprapto-atustinus-soal-benda-sejarah
Pelaksana Museum dan Benda Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Suparto Agustinus, menunjukkan naskah kuno yang dimiliki Pemkab Indramayu. Foto: Oetoyo Prie Achdi/Radar Indramayu

INDRAMAYU-Benda bersejarah Indramayu diduga banyak yang tercecer. Para pegiat sejarah di Kabupaten Indramayu pun hampir  dibuat kebingungan ketika 11 mata tombak peninggalan masa lampau dikabarkan hilang digondol pencuri, tahun lulu.

Barang yang hilang bukan tombak sembarangan. Usianya ditaksir ratusan tahun karena sudah ada sejak abad ke-17.

Beruntung, nasib baik masih berpihak kepada pemilik. Tombak kuno itu ditemukan sepekan kemudian. Hilangnya barang bersejarah itu tampaknya mesti dijadikan pengalaman berharga.

Pelaksana Museum dan Benda Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Suparto Agustinus mengatakan, wilayah Pantura Jawa Barat kaya akan peninggalan-peninggalan bersejarah. Selain kebudayaan, barang-barang kuno pun kerap ditemukan masyarakat.

Penemuan, itu kata dia, memiliki arti bahwa pada masa dahulu ada peradaban yang berkembang di Indramayu. Salah satu fakta sejarah bisa dipelajari lewat naskah-naskah kuno yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Jawa.

“Naskah kuno biasanya berisi tentang asal mula suatu wilayah atau desa. Ditulis ke dalam daun lontar atau kertas zaman dahulu,” kata Tinus, pekan kemarin.

Dikatakannya, naskah-naskah itu biasanya dimiliki oleh masyarakat warisan dari leluhurnya. Sayangnya, tak sedikit kondisi naskah kuno yang kini dalam keadaan kurang baik. Ketidaktahuan masyarakat dalam hal mengurus benda purbakala merupakan alasan utamanya.

“Saya pernah berkunjung untuk melihat naskah kuno milik warga. Saya kaget ternyata naskah kuno tersebut dicuci dengan menggunakan air dengan alasan ritual,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kondisi peninggalan masa lampau Indramayu saat ini tercecer. Ada yang dimiliki oleh warga, dan ada juga yang sudah diambil alih pemerintah daerah. Namun karena terbatasnya ruang penyimpanan, tak semua koleksi bisa teramankan dengan baik. Sejauh ini koleksi barang seperti tombak kuno tersimpan rapi di Pendopo Indramayu.

Pendopo dipilih karena dinilai merupakan tempat yang aman. Terlebih hingga saat ini Kabupaten Indramayu belum mempunyai museum daerah sendiri. Tak heran cukup sulit untuk menyatukan peninggalan sejarah Indramayu di satu tempat. “Keberadaan museum diperlukan,” katanya.

Sebetulnya, lanjut Tinus, di Indramayu ada sebuah museum yang terletak di kawasan Cimanuk yakni Museum Bandar Cimanuk. Namun, status museum itu bukanlah dikelola pemerintah daerah melainkan sebuah yayasan. Pengurus Museum Bandar Cimanuk Inang Sadewo menuturkan, sejauh ini belum ada perhatian serius dari pemerintah daerah terkait benda-benda peninggalan sejarah.

Untuk itu, secara swadaya para pegiat sejarah berjuang mengumpulkan dan mengamankan barang-barang tersebut menggunakan kocek pribadi. Namun, kata Inang, upaya itu banyak membentur hambatan. Para pegiat sejarah kesulitan menjaga benda bersejarah di Indramayu. Soalnya dibutuhkan keahlian khusus supaya kondisi benda tetap terjaga keutuhannya.

Inang mencontohkan, dirinya memiliki sebuah naskah kuno yang berisi perkembangan Islam di Indramayu. Naskah itu sudah diincar para kolektor, bahkan museum.

Beruntung, Inang belum berencana melepasnya karena ingin peninggalan sejarah itu tetap berada di Indramayu, sehingga warga bisa menikmatinya secara langsung. Namun jika terus tak ada perhatian, bukan tak mungkin naskah itu lepas ke pihak lain.

Dia mengakui, upaya itu lebih baik dilakukan daripada harus melihat peninggalan masa lampau rusak termakan waktu. Menurutnya sejarah merupakan identitas daerah yang mesti digali lebih dalam.

“Peninggalan sejarah sangat berharga bagi suatu daerah,” katanya. Dia berharap, ke depan akan lebih banyak lagi masyarakat yang peduli akan peninggalan kebudayaan dan benda masa lampau. (oet)

Berita Terkait