Berkah Arus Mudik-Balik, Sentra Oleh-oleh Pecinan Ramai Diburu Wisatawan

Manisan dan Dodol Cina jadi Favorit

Aktivitas warga di Kawasan Pecinan Jl Winaon, beberapa waktu lalu. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Aktivitas warga di Kawasan Pecinan Jl Winaon, beberapa waktu lalu. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Momen arus balik menjadi berkah tersendiri. Khususnya bagi para pedagang oleh-oleh di Kota Cirebon. Termasuk di Kawasan Pecinan. Sebuah area yang menjadi segi tiga emas perdagangan di Kecamatan Lemahwungkuk.

Kawasan Pecinan yang meliputi Jl Winaon, Lemahwungkuk dan Pasuketan selalu ramai dengan aktivitas pedagangan. Di momen tertentu, seperti tahun baru, Hari Raya Imlek dan lebaran, pengunjung yang datang membeludak.Kebanyakan berasal dari luar kota seperti Bandung, Jakarta, Semarang dan Tegal.

Salah satu pedagang di kawasan Pasar Kanoman, Liong mengaku, selama musim libur lebaran ini, dirinya mengalami peningkatan omzet untuk beberapa jenis oleh oleh seperti manisan dan kue keranjang. Lebaran membawa berkah, karena pembeli yang datang meningkat. “Sekarang ramai. Banyak yang mampir,” ujarnya.

Selain manisan dan juga dodol cina, wisatawan yang datang umumnya memburu kuliner khas Cirebon seperti kerupuk ikan, kerupuk melarat, tape ketan, Sirop Tjampolay, terasi, kerupuk ikan, rebon, petis, dan oleh-oleh khas Cirebon lainnya.

Pemudik asal Pekalongan, Chandra (40) mengaku memanfaatkan mudik balik ke Jakarta untuk membeli oleh oleh khas Cirebon. Ia sengaja mampir ke kawasan pecinan itu untuk membeli Sirup Tjampolay dan aneka keripik untuk kemudian dibagikan kepada sanak familinya di Jakarta. “Kemarin pas mudik ke Pekalongan bawa oleh dari sini. Nah sekarang yang di Jakarta juga minta dibawain oleh-oleh juga,” ujarnya.

Seperti diketahui, Pecinan menjadi salah satu kawasan yang akan direvitaliasi Pemerintah Kota Cirebon. Dalam Road Map pengembangan pariwisata daerah, seharusnya di tahun ini sudah ada pekerjaan fisik untuk pemberian identitas kawasan. Warga Tionghoa juga menyambut baik penataan kawasan Pecinan. Selain bisa menjadi wisata sejarah, juga bisa meningkatkan perekonomian.

Sebagaimana dicatat dalam Hikayat Jakarta (1998) Karya Wilard Hanna, dan Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008) oleh Benny Setiono, Gubernur  Jenderal VOC yang berkuasa hingga 1929 Jan Pieterszoon Coen percaya bahwa orang Tionghoa adalah bangsa yang ulet, rajin dan suka bekerja.

Tak heran, banyak komunitas Tionghoa yang kemudian tinggal di sekitar benteng Belanda. Kawasan Pecinan saat ini memang sudah banyak berubah. Tahun 1970, masih banyak rumah-rumah etnis Tionghoa dengan ciri relief dua ekor naga bertolak belakang pada bagian atap luar. Sejak Jl Pasuketan dilebarkan tahun 1980-an, ciri ini banyak yang menghilang. Namun, Jl Pasuketan, Pekiringan dan Pekalipan, masih menjadi segi tiga emas perdagangan. (war)