BNPB: 12.495 KK Terdampak Banjir di 15 Kabupaten di Jawa Timur, Putuskan Jalan Tol Madiun

Pengamatan sejak Rabu (6/3) pukul 19.00 WIB, ketinggian air mulai menyentuh reflektor (guide post) dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan kecil atau Golongan I, akibatnya semua kendaraan yang sudah terlanjur sampai di KM.604 diberhentikan sementara. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 12.495 kepala keluarga terdampak banjir yang terjadi di 15 kabupaten di Jawa Timur.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, 15 kabupaten yang mengalami banjir adalah Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo, Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan dan Blitar.

“Daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulisnya, Kamis (7/3/2019).

Dia mengatakan, penyebab banjir di Jawa Timur karena sungai-sungai dan drainase yang ada tidak mampu mengalirkan aliran ke permukaan, sehingga banjir merendam di banyak tempat.

“Data sementara, banjir menyebabkan lebih dari 12.495 KK terdampak. Sebagian masyarakat mengungsi ke tempat yang lebih aman,” ujarnya.

BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Palang Merah Indonesia (PMI), Tagana, relawan dan masyarakat masih melakukan penanganan darurat.

Selain itu, evakuasi, pemberian bantuan makanan, pendirian tenda dan lainnya juga masih dilakukan.

“Pendataan dampak banjir masih dilakukan BPBD. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung,” jelas dia.

Berikut dampak banjir masing-masing di 15 kabupaten Jawa Timur:

1. Kabupaten Madiun
Banjir akibat meluapnya sungai Jeroan yang merupakan anak sungai Madiun. Sebanyak 39 desa, 8 kecamatan di Kabupaten Madiun terendam banjir. 4.317 KK atau 17.268 jiwa terdampak banjir. Rumah rusak berat 2 unit, sawah tergenang 253 Ha, tanggul rusak 3 titik, jembatan rusak 2 unit, gorong-gorong rusak 1 unit, dan ribuan ternak terdampak. Bupati Madiun menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari (6 -19 Maret 2019).

2. Kabupaten Nganjuk
Banjir disebabkan luapan Sungai Kuncir di Desa Sonopatik Berbek. Akibatnya jalan raya terendam dan pemukiman warga di 8 dusun, 3 kelurahan, 12 desa, 6 kecamatan dengan ketinggian 10-100 cm. 456 KK terdampak banjir.

3. Kabupaten Ngawi
Banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Madiun. Banjir merendam rumah warga sebanyak 4.490 KK di 18 desa, 6 kecamatan di Kabupaten Ngawi dengan ketinggian 50-100 cm.

4. Kabupaten Magetan
Banjir akibat luapan air sungai ke jalan desa dari RT 13 sampai RT 17 Desa Ngelang Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Ketinggian air mencapai 125 cm serta menggenangi 284 rumah warga.

5. Kabupaten Sidoarjo
Banjir disebabkan luapan Sungai Avoer Krembung II, sebanyak 498 KK rumahnya tergenang di 3 desa dengan ketinggian 20-40 cm.

6. Kabupaten Kediri
Banjir akibat air luapan di Desa Gempolan Kec. Gurah, Kab. Kediri, menyebabkan SDN Gembolan 1 terendam air setinggi 30-50 cm.

7. Kabupaten Bojonegoro
Banjir akibat luapan Sungai Pacal berdampak pada 23 desa, 8 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dengan ketinggian air 30-40 cm. 121 hektar sawah dan 1.382 rumah terendam banjir.

8. Kabupaten Tuban
Banjir merendam Kecamatan Parengan akibat meluapnya Sungai (Kali Kening). 10 desa di Kecamatan Parengan terendam dan persawahan tergenang 140 Ha, rumah tergenang 620 KK, jalan poros tergenang dengan ketinggian 20-90 cm, kantor pemerintahan tergenang 3 unit, sekolah tergenang 4 unit dan tempat ibadah tergenang 7 unit.

9. Kabupaten Probolinggo
Puting beliung dan banjir terjadi di Desa Tambak Rejo Kecamatan Tongas. Akibat kejadian tersebut berdampak pada 1 orang meninggal dunia dan 1 orang luka ringan akibat puting beliung. Dampak banjir masih dalam pendataan.

10. Kabupaten Gresik
Banjir akibat luapan Kali Miru berdampak pada 3 kecamatan, Kedamaean, Driyorejo, Dukun dengan ketinggian 20-100 cm dan rumah tergenang 90 rumah.

11. Kabupaten Pacitan
Banjir akibar meluapnya air Sungai Grindulu di Kecamatan Arjosari. 10 desa di 2 kecamatan terendam air dengan ketinggian 30-80 cm.

12. Kabupaten Trenggalek
Banjir akibat luapan Sungai Ngasinan di Kecamatan Trenggalek. 14 desa di 5 kecamatan terendam banjir dengan ketinggian air 15-200 cm.

13. Kabupaten Ponorogo
Banjir terjadi di wilayah Kecamatan Balong. Ruas jalan dan permukiman di terendam banjir.

14. Kabupaten Lamongan
Banjir akibat luapan Bengawan Solo sehingga merendam 9 desa di 3 kecamatan, yakni Kecamatan Laren, Maduran dan Babat. Tanggul Sungai Bengawan Solo jebol sepanjang 70 meter. Banjir juga menyebabkan terputusnya akses masuk menuju Dusun Sawo Desa Jangkungsumo, sehingga masyarakat harus melewati jalur memutar untuk ke daerah lain. Lebih dari 60 rumah terendam banjir.

15. Kabupeten Blitar
Hujan deras yang turun pada 6/3/2019 pukul 11.00 WIB dan pukul 16.00 WIB menyebabkan terjadi banjir, longsor dan pohon tumbang. Wilayah yang terdampak Banjir Dsn. Gondanglegi, Desa Sutojayan dengan warga terdampak sebanyak 240 KK.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, pada Rabu (6/3/2019), curah hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama turun di beberapa daerah yang berdampak menimbulkan banjir, longsor dan puting beliung.

Penyebab lainnya, karena adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudera Hindia, sehingga menyebabkan curah hujan tinggi di kawasan Indonesia.

MJO merupakan fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia) ke timur dengan membawa massa udara basah.

Masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah-daerah yang dilalui. Fenomena ini dapat bertahan hingga satu minggu.

Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat Sumatera yang membentuk daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa menyebabkan curah hujan meningkat.

Potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpeluang terjadi di beberapa wilayah di Jawa, Bali, NTB, NTT Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Papua Barat. (*)

Berita Terkait