Branding Pariwisata Kota Cirebon Perlu Disempurnakan

The Gate of Secret

CIREBON–Ragam tanggapan dikemukakan atas  penetapan City Branding The Gate of Secret. Baik dari sisi tagline maupun logo. Meksi hingga saat ini, Pemerintah Kota Cirebon bergeming dengan Surat Keputusan (SK) Walikota Cirebon Nomor 430/Kep.-DKOKP/2019.

Kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) CIC Nina Sofiyawati menilai, secara umum logo sudah baik. Kesan pertama melihat logo itu, langsung merasakan gambaran pariwisata Cirebon. Kota Cirebon sendiri memiliki potensi pariwisata sejarah dan budaya.

Terlebih title Kota Wali yang sudah melekat di Cirebon dapat direpresentasikan dengan logo tersebut. “Dari segi visual, penekanan karakter Cirebon sebagai kota keratonan kesultanan tersebut langsung mengena. Terlebih potensi kita memang di sana,” ujarnya kepada Radar Cirebon, Selasa (12/3).

Melalui pandangannya, kesan kesultanan yang ada pada logo tersebut bisa jadi untuk branding pemerintah kota yang tujuannya untuk membuat citra tertentu. Dalam hal ini menjadikan dan mengukuhkan Kota Cirebon sebagai kota kesultanan yang erat di dalamnya.

Sehingga kembali lagi, dari segi branding dapat mendatangkan wisatawan, untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat luar membuktikan seberapa kuatnya potensi sejarah di Kota Cirebon ini. “Kita punya kekayaan sejarah seperti keraton yang sangat melekat di Kota Cirebon. Dengan branding ini saya rasa sudah selaras dengan tujuannya,” ungkapnya.

Potensi budaya yang ada di Cirebon pun diakuinya luar biasa. Ada peleburan budaya di dalamnya yang sudah berlangsung beratus-ratus tahun silam. Akulturasi antara umat muslim juga kebudayaan masyarakat etnis Tionghoa, Hindu hingga Budha dan Kristen pun membuat Kota Cirebon menjadi kaya akan budaya. “Jadi ketika orang pertama lihat logo ini ya pasti ingetnya dengan Cirebon beserta keraton-keratonnya,” ucapnya.

Dari unsur warna, logo branding tersebut didominasi dengan pewarnaan warna hijau. Menurut pandangannya sebagai akademisi, pewarnaan tersebut dirasanya tepat. Karena penganut tarekat yang juga tak jauh dari adanya keraton-keraton di Cirebon itu kebanyakan menggunakan warna serupa. “Masih banyak di Cirebon yang menganut tarekat ini. Hijau ini artinya selain simbol harmonisasi kehidupan juga menangkal sifat-sifat yang buruk untuk dileburkan,” tuturnya.

Sedangkan dalam logo tersebut juga hadir warna merah untuk simbol candi bentar. Penganut tarekan juga mengartikan bahwa warna merah bisa merepresentasikan sebagai emosi. Namun emosi tersebut diredam dengan pewarnaan dominasi warna hijau dalam logo ini.

Kemudian dari segi motif pepatran atau dedaunan tersebut dirasanya masih toleran. Tidak terlalu ramai karena bisa diredam dengan huruf ‘i’ dan ‘r’ dari kata Cirebon yang tidak menggunakan motif pepatran ini. “Dalam artian dekoratif tapi tidak menyakiti mata. Masih enak dilihat tapi malah cenderung seperti kaligrafi ya,” akunya.

Baru memasuki gambar mega mendung yang menyerupai wadasan atau pegunungan. Dirasanya sedikit mengganjal. Karena salah satu ujungnya nampat tumpang tindih dengan huruf ‘n’ dalam kata Cirebon-nya. Ia menyarankan agar ukuran untuk mega mendungnya bisa lebih dikecilkan dan ditaruh lebih ke tengah di atas huruf ‘b’ dan ‘o’ dalam kata Cirebon itu.

Namun dari segi pengambilan ragam visualnya memang sudah mewakili dan merepresentasikan kekayaan budaya di kota kita baik muslim, etnis Tionghoa, Hindu  dan lainnya maupun seni hias dengan konsep penggunaan pepatrannya itu.

Nina pun menyarankan, agar pemerintah dapat memberikan ruang bagi masyarakatnya untuk ambil bagian dalam pembuatan logo branding Kota Cirebon ini. Sekadar saran untuk pemkot mungkin ke depannya alangkah baiknya bisa melibatkan masyarakat umum secara transparan dalam proses pembuatannya hingga penentuan logonya itu.

Secara umum, dapat disimpulkan logo itu masih perlu disempurnakan. Dorongan untuk revisi terhadap branding ini pun dikemukakan banyak pihak. Mumpung belum dipergunakan secara luas sebagai bahan promosi pariwisata.

Apalagi, banyak pihak kaget dengan munculnya Tagline The Gate of Secret. Lantaran tidak pernah muncul dalam pembahasan. Tiba-tiba jadi keputusan, yang sudah ditandatangani Walikota Cirebon Drs H Nashrudin Azis SH.

Anggota Komisi III DPRD Jafarudin mempertanyakan hal ini. Ada kesan pemkot terburu-buru. Apalagi, DPRD juga tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan. Maupun sosialisasi sebelum benar-benar dikukuhnya. “Tau-tau di­-launching,” kata Jafarudin, Senin (11/3).

Founder Pengedar Desain, Lintang Sambara juga mendorong pemerintah kota belajar dari pengalaman Jogjakarta. Di mana pemerintahnya telah berbesar hati mengakui bahwa ada yang belum selesai dari proses branding Never Ending Asia. Dengan banyak sekali pertimbangan, pemerintah akhirnya mau mengganti branding Jogja Never Ending Asia dengan Jogja Istimewa yang dinilai lebih sesuai dengan jati diri Jogja. (myg)