Caleg dan Pendukung Harus Lapang Dada

ILUSTRASI-CALEG

CIREBON– Pesta demokrasi telah digelar. Kini para calon anggota legislatif tinggal menunggu hasil. Ada beberapa yang sudah pasrah. Lantaran berdasar hasil quick count, partai tempat mereka bernaung diprediksi tidak lolos dari ambang batas.

Namun, saat ekspetasi terlalu tinggi ternyata bisa menyebabkan ketergangguan mental, seperti pada pemilu yang sudah-sudah. Banyak caleg gagal yang stres dan harus menjalani terapi kejiwaan.

Pasikolog, Rini S Minarso SE SPsi MPsi mengungkapkan, fenomena ini biasanya terjadi setelah satu atau dua bulan. Depresi atau gangguan mental lainnya bisa terjadi pada caleg yang ternyata tak berhasil menang dalam pemilu. Hal ini dikarenakan ekspetasi yang tinggi dari caleg tersebut tanpa memperhitungkan kemungkinan lainnya.

Ekspetasi dari luar seperti partai, keluarga, dan lainnya yang begitu tinggi juga dapat menyebabkan gangguan mental tersebut terjadi pada sang caleg. “Saat ia belum siap, dan kondisi diri yang tak siap menghadapi hal tersebut tentunya bisa saja mengalami hal tersebut,” ujar Rini, kepada Radar Cirebon, Rabu (17/4).

Saat kegagalan terjadi, seharusnya para caleg bisa menerima dengan lapang dada. Hal ini akan membantu menenangkan pikiran dan menganggap semuanya bisa berjalan baik- baik saja. Dukungan lingkungan seperti keluarga juga partai dan lainnya pun perlu.

Dalam hal ini semestinya tak ada pengungkitan atau menyalahkan belah pihak manapun. Saat ada pihak yang menyalahkan satu sama lain di sini artinya masih belum ada sikap lapang dada.

“Saat keluarga memberikan support lingkungan pun tak mempermasalahkan kegagalan tersebut akan membantu memberikan sikap legowo pada caleg,” jelasnya.

Ia juga menyarankan untuk belajar menerima kekalahan, banyak diskusi dengan orang yang paham (selain untuk introspeksi, juga untuk membuat pikiran terbuka terhadap kekalahan), meditasi dan ibadah, mencari alternatif kegiatan sebagai pengalihan pikiran, mencari bantuan profesional (psikolog atau psikiater) sekiranya memerlukan.

Sementara itu, ia juga mengungkapkan biasanya tim suskses atau para pendukung caleg lebih memiliki peran aktif. Tak jarang saat kterjadi kekalahan beberapa di antaranya merasa kecewa dan menjadi anarkis.

Semestinya para pendukung bisa lebih legowo menerima kekalahan atau kemenangan. Saling menghargai satu sama lain.

Bila menemukan kecurangan dengan bukti yang konkrit bisa diperjuangan. Namun saat fakta mengatakan kekalahan, jangan mencari kesalahan.

“Saat satu suara berbicara dalam kelompoknya, maka hal tersebut akan mempengaruhi kelompok tersebut. Oleh itu jaga kualitas diri untuk tetap legowo menerima kekalahan atau kemenangan sekalipun,” katanya.

Salah satu caleg DPRD Kota Cirebon, Ayu Agustin mengaku sudah menerima apapun hasilnya nanti. Mengingat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menjadi tempat ia mencalonkan, hampir pasti tidak lolos ambang batas. “Menyesal ada. Tapi jangan diratapi lama-lama. Harus cepat move on,” katanya. (apr)