Calon Haji Asal Kota Cirebon Tunggu Perubahan Kloter

Hanya 331 Calhaj, Biasanya Gabung Jamaah asal Bekasi

ILUSTRASI

CIREBON-Rencana pemberangkatan calon jamaah haji (calhaj) Kota/Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati berpengaruh pada kelompok terbang (kloter) calhaj asal Kota Cirebon. Ini karena calhaj asal Kota Cirebon tidak memenuhi jumlah minimal satu kloter.

Menurut Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kemenag Kota Cirebon Jajang Badruzaman, total calhaj asal Kota Cirebon hanya berjumlah 331 orang sehingga harus bergabung dengan calhaj asal Bekasi. “Karena satu kloter minimal 410 orang,” ujar Jajang kepada Radar Cirebon.

Dikatakan, kemungkinan yang ada adalah calhaj asal Bekasi bergabung ke Kota Cirebon dan diberangkatkan melalui BIJB Kertajati. Karena selama ini calhaj Kota Cirebon bergabung dengan calhaj Bekasi dan melalui Bandara Soekarno-Hatta. “Atau bergabung dengan kelompok terbang dari daerah lain. Yang pasti akan ada perubahan kloter,” imbuh Jajang.

Perbuahan lainnya yakni mengenai embarkasi, Jajang mengatakan hingga kini Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih melakukan kajian dan mensurvei beberapa alternatif yang akan menjadi tempat transit atau embarkasi sementara. Sementara, opsi yang telah disurvei adalah The Radiant Hotel di Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon.

“Embarkasi itu kan sebenarnya di Indramayu, tapi belum jadi. Untuk sementara yang sudah disurvei itu Radiant Hotel. Artinya yang paling memungkinkan (jadi embarkasi sementara),” jelas Jajang. Nantinya, seluruh jamaah dari wilayah 3 akan bergabung dan terbang dari BIJB Kertajati.

Bahkan jika telah ada embarkasi resmi beberapa daerah lain seperti Brebes, Tegal, Purwokerto, Subang, Sumedang dan Ciamis akan terbang dari Bandara Kertajati. “Itu kalau embarkasi yang di Indramayu sudah jadi,” tegasnya.

Diperkirakan, calon jamaah haji Kota Cirebon yang saat ini tergabung dalam Kloter 74 akan berangkat pada akhir Juli 2019. Sedangkan Kloter terakhir, yakni kloter 96 akan berangkat pada 5 Agustus. Seluruh persiapan diharapkan dapat tuntas dalam waktu dekat. Sebab dimungkinkan akan ada perubahan biaya yang akan dibebankan kepada jamaah haji.

Yakni biaya makan selama di embarkasi serta biaya tambahan penerbangan. “Karena pasti berbeda biaya penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Kertajati. Kemungkinan satu jamaah bisa kena Rp1 juta biaya tambahannya. Yang kedua, ijin penerbangan dari Arab Saudi juga belum ada, itu harus diurus. Intinya harus segera lah. Nah, kalau semua siap, Pemprov Jabar sudah siap, semuanya tinggal diatur teknsinya,” tandasnya.

Terkiait cost penerbangan Rp1 juta karena ternyata  avtur di Kertajati lebih mahal dibandingkan dengan di Jakarta, Jajang mengatakan disepakati Pemprov Jabar yang akan menanggung kekurangan anggaran untuk pemberangkatan haji. “Penginapan di Hotel Radiant biayanya juga ditanggung Pemprov Jabar melalui dana hibah,” bebernya.

Masih kata Jajang, sampai kini belum ada jadwal keberangkatan calhaj Ciayumajakuning dari Bandara Kertajati. Jadwal keberangkatan, sambungnya, tergantung pesawat. Namun ada kemungkinan pemberangkatan masuk gelombang II. “Jadi sampai sekarang (kemarin, red) belum ada jadwal tanggal berapa akan berangkat,” katanya. (day/abd)