Capaian 100 Hari Walikota- Wawali Belum Memuaskan

Nashrudin Azis-Eti Herawati
Nashrudin Azis-Eti Herawati

CIREBON– Di 100 hari pertama kinerja walikota dan wakil walikota, sejumlah program berjalan kurang memuaskan. Itu menjadi pekerjaan rumah duet Drs Nashrudin Azis SH dan Dra Hj Eti Herawati.

Akademisi Prof Dr Adang Djumhur meminta pemerintah melanjutkan beberapa program yang menjadi prioritas dalam 100 hari itu pertama itu. Ia menyoroti beberapa hal yang belum berjalan dengan baik. “TPS di Kesambi, TPS Jl Evakuasi dekat Cimanuk, dan di Bypass dekat PLTG, masih berantakan. Penataan TPS ini harus dilanjutkan,” ujar Adangnya kepada Radar Cirebon.

Selain itu, Adang meminta beberapa TPS untuk dipindahkan. Atau menyediakan mobil angkut yang siap untuk beroperasi, tanpa harus menunggu penuh dan meluber ke jalan. Pembangunan TPS di Stadion Bima Madya juga perlu dipertimbangkan kembali. Dia khawatir truk sampah yang nantinya lalu lalang  ke TPS akan  mencemari jalan yang dilalui. “Itu kawasan olahraga. Saya khawatir, truk sampah ini malah jadi masalah baru,” tuturnya.

Untuk program Cirebon tertib juga dirasa belum optimal. Pemerintah tidak bisa hanya menaruh perhatian di enam kawasan tertib lalu lintas (KTL). Justru ada beberapa persoalan yang butuh solusi konkrit. Di beberapa titik langganan macet, belum ada sentuhan nyata. Misalnya di Jl Pekiringan, Jl Lawanggada, Jl Pemuda dan Jl Perjuangan (persimpangan Untag), masih belum ada solusi untuk memecahkannya. Padahal kemacetan ini dirasakan cukup mengganggu aktivitas masyarakat.

Masalah di perlintasan kereta api juga perlu jadi perhatian. Ia berharap pemerintah kota mendesak pemerintah pusat untuk membangun under pass. Meski itu jangka panjang. Tapi desakannya bisa mulai dari sekarang. “Tidak ada salahnya, itu dimulai untuk dikomunikasikan,” kata Ketua Forum Lalu Lintas Kota Cirebon tersebut.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh akademisi Prof Dr Dedi Djubaedi. Menurut dia, program prioritas itu tidak hanya menjadi penekanan pemerintah kota. Tapi bagaimana agar turut dihayati masyarakat. “Bersih, tertib dan hijau itu adalah sifat-sifat baik. Ini harus diterapkan juga oleh warga kota harus yang dengan sendirinya berprilaku, terbiasa,  dan berkarakter tertib, bersih dan hijau,” tandasnya.

Dedi menambahkan, tiga prioritas program ini tidak boleh berhenti di 100 hari. Pemerintah harus mendorong hal tersebut terus menerus. Agar masyarakat juga ikut berperan. (awr)