Cara Unik Warga Kecamatan Gegesik Sampaikan Protes ke Pemerintah

Buat Kuburan Hingga Jamban di Tengah Jalan

PROTES: Sekelompok pemuda asal Desa Slendra, Kecamatan Gegesik, melakukan aksi protes dengan membentangkan spanduk bertuliskan kalimat sindiran dan luapan kekesalan. Aksi teatrikal dilakukan dengan membuat kuburan, jamban, hingga menanam pohon pisang di tengah jalan yang rusak. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
PROTES: Sekelompok pemuda asal Desa Slendra, Kecamatan Gegesik, melakukan aksi protes dengan membentangkan spanduk bertuliskan kalimat sindiran dan luapan kekesalan. Aksi teatrikal dilakukan dengan membuat kuburan, jamban, hingga menanam pohon pisang di tengah jalan yang rusak.FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sekelompok pemuda asal Desa Slendra, Kecamatan Gegesik, melakukan aksi protes dengan membentangkan spanduk bertuliskan kalimat sindiran dan luapan kekesalan. Aksi teatrikal dilakukan dengan membuat kuburan, jamban, hingga menanam pohon pisang di tengah jalan yang rusak.

Jalan tersebut merupakan penghubung dua kecamatan dan akses utama yang biasa dilalui warga. Kondisi yang ada sudah dibiarkan tiga tahun lamanya. Pasca hujan turun, sejumlah warga lebih memilih memutar jauh melewati Desa Tegalwirangrong, Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu, untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan.

Pemuda Desa Slendra yang juga mempelopori aksi teatrikal, Ari Subagya merasa prihatin akan kondisi jalan di desanya. Adapun harapan Ari, sama seperti warga lain. Yakni, ingin jalan di desanya segera diperbaiki. “Agar pengendara yang melintas dan juga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan lancar. Agar perekonomian juga kembali stabil,” harapnya, kemarin.

MENYINDIR: Baju orang-orangan bertuliskan kata-kata menyindir kepada pemerintah karena jalan rusak di Gegesik, (20/3). FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
MENYINDIR: Baju orang-orangan bertuliskan kata-kata menyindir kepada pemerintah karena jalan rusak di Gegesik, (20/3).FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

Seperti yang disampaikan Ari, jalan yang rusak begitu mempengaruhi perekonomian warga sekitar. Terutama mereka yang bekerja sebagai petani, karena akses menuju lahan pertanian yang sulit.

Pemasangan spanduk oleh pemuda sekitar, kata Ari, dilakukan sebagai bentuk kekesalan dan demonstrasi warga kepada pemerintah. “Ada kuburan, ada juga Kandang Wewe atau WC Umum. Artinya, ini simbolis karena memang jalan ini angker. Setiap turun hujan sering banget pengendara jatuh,” sesalnya.

Pemuda lainnya yang kala itu melakukan aksi, Anton Priatna menilai, kondisi jalan di Desa Slendra sudah sangat parah. Terlebih, saat cuaca sedang hujan dan sesaat setelahnya. Becek dan licin, menjadi keluhannya dan warga lain.

“Bahkan terakhir ada juga mobil yang sampai terbalik. Kapan rencana diperbaiki? Kami masyarakat belum mendengar atau mengetahui itu. Semoga pemerintah mendengar keluhan warga dan segera turun untuk meninjau,” katanya.

Warga lainnya, Darkinah, juga menaruh harapan untuk segera dilakukan perbaikan jalan penghubung Kecamatan Gegesik dan Kecamatan Kaliwedi itu. Darkinah mengaku, sudah sangat sering mengetahui ada yang terjatuh ketika melewati jalan itu.

“Pengennya dibagusin jalannya. Biar jangan jatuh bangun warga kalau lewat. Mobil, motor, pada jatuh semua. Sudah 3 tahunan lah kira-kira parah seperti ini,” paparnya.

Bukan hanya di Desa Slendra. Sudah hampir sepekan, terlihat pemandangan tidak lazim di jalan raya Gegesik-Kaliwedi, tepatnya di Desa Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon. Jalan utama penghubung dua kecamatan yang kondisinya rusak parah, sengaja ditumbuhi padi, eceng gondok dan beberapa tumbuhan lain. Bahkan, pada barisan tanaman juga terdapat orang-orangan sawah bertuliskan kalimat keluhan warga.

Beberapa jenis tanaman yang berada di jalan, sengaja ditanam sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang tidak kunjung memperhatikan kondisi yang ada. “Selamat datang di jalan bubur lemu coklat,” tulis warga, pada pakaian orang-orangan sawah di lokasi jalan yang rusak.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa warga, mereka yang menanam dan memasang tulisan, berawal dari rasa kesal akan kondisi jalan yang setiap hari dilaluinya. Terlebih, saat ini intensitas hujan cukup tinggi. Sehingga, kondisi lubang jalan selalu tergenang air.

Sementara itu, Camat Gegesik Udin Syafrudin menanggapi, akan banyak perbaikan pada tahun anggaran 2019. Terkait aspirasi masyarakat untuk perbaikan jalan. (ade )