Cegah DBD, Satu Rumah Satu Kader Jumantik

ILUSTRASI-Nyamuk Demam Berdarah

CIREBON – Banyaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Cirebon tahun 2019 yang mencapai 202 kasus, membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) bergerak cepat. Salah satu program yang digalakan adalah melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai program penanggulangan penyakit demam berdarah.

Kepada Radar Cirebon, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Nanang Ruhyana menyampaikan, melalui program satu rumah satu kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik), maka pencegahan nyamuk DBD dapat tertangani.

Pihaknya berharap, satu rumah satu kader jumantik ini, tidak hanya sekadar imbauan. Lebih dari itu, komitmen ini harus diiringi dengan semangat penerapannya di setiap rumah untuk melindungi dari bahaya DBD. Dimulai dari lingkungan keluarga masing-masing. “Satu rumah setidaknya ada satu kader jumantik,” kata Nanang kepada Radar Cirebon, Minggu (10/3).

Menurutnya, kader jumantik ini akan lebih intensif melakukan gerakan di lingkungan rumahnya masing-masing. Mereka telah siap dengan beragam upaya mencegah keberadaan dan perkembangan jentik nyamuk yang selama ini menjadi penyebab utama DBD.

“Mereka di rumah masing-masing akan memeriksa jentik nyamuk, membersihkan genangan air, membersihkan sampah agar nyamuk tidak betah lagi. Jadi, 1 kader 1 rumah,” ujar Nanang.

Pihaknya mengapresiasi program tersebut, karena selain bisa mencegah DBD, juga semangat warga dalam membangun kebersamaan meningkat. Sebab, program itu dijalankan dengan konsep kolaborasi mulai dari pengusaha, pemerintah, karang taruna hingga warga. Disebutkannya, kasus DBD beberapa tahun mengalami penurunan, di tahun 2015 ada 1.247 kasus, 2016 ada kenaikan sebanyak 1.877 kasus, di 2017 turun secara drastis sebesar 70 persen yakni hanya 274 kasus dan tahun 2018 ada 215 kasus.

“Program jumantik ini sebetulnya sudah lama digalakan, dan terbukti kasus DBD beberapa tahun menurun,” kata Nanang.

Dikatakannya, kader jumantik di setiap rumah akan melakukan pengecekan terhadap tempat-tempat nyamuk DBD berkembang biak. Setelah melakukan pengecekan rutin, para jumantik di rumah akan mencatatnya di sebuah lembar kertas khusus yang telah dibagikan.

Secara berkala, jumantik dari kewilayahan akan melakukan pengecekan terhadap kertas tersebut.

“Misal tadi kita cek ke rumah warga, bak mandi itu biasa dikuras seminggu sekali. Mulai saat ini, kita imbau menjadi tiga hari sekali. Karena walau pun terlihat bersih, belum tentu bebas dari jentik,” jelasnya.

Keberadaan kader jumantik di level keluarga ini, dinilai sangat penting. Mengingat, potensi besar perkembangan jentik nyamuk juga berasal dari lingkungan rumah tangga.

“Bak mandi harus sering dikuras, tempat tetesan air dispenser harus diperhatikan, vas bunga, tampungan air belakang kulkas, tempat minum burung atau peliharaan. Untuk talang air, memang agak susah diperhatikan. Makanya, dalam 1 rumah ada 1 kader. Jadi, ada kader yang diberi pelatihan untuk jumantik,” tukas Nanang. (via)