Cerita Geng Motor: Dari Cirebon Hingga California

GENG MOTOR
Ilustrasi.

Radar Cirebon edisi 10 September 2018, seorang remaja yang sedang mengendarai sepeda motor dikeroyok puluhan orang yang sedang berkonvoi menggunakan sepeda motor yang diduga geng motor di Jl Ahmad Yani, Kota Cirebon, Minggu sore (9/9). Korban yang diketahui bernama Luki (15) warga Kejawanan, tampak mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.

“Awalnya dipepet, terus disuruh berhenti. Saya berhenti. Tiba tiba dari depan tuh putar balik dan langsung aja (keroyok, red). Terus dari belakang juga dipukul pakai kayu yang buat bendera tuh,” ujarnya kepada Radar Cirebon di lokasi kejadian.

Saat ini, kembali kasus geng motor menyeruak, Andri (25) meregang nyawa dengan kondisi mengenaskan. Warga Blok Bulak, RT 03 RW 02, Desa Banjarwangunan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, itu meninggal setelah dikeroyok puluhan orang diduga kawanan geng motor. Peristia itu terjadi di sekitar wilayah Jagasatru, Kota Cirebon, Minggu dini hari (10/2) lalu, sekitar pukul 02.00 WIB.

 

 

 

Kaeni (34) kakak kandung korban mengatakan jenazah Andri sudah dimakamkan Senin dini hari (11/2) sekitar pukul 00.30 WIB, beberapa saat setelah tiba dari RS Bhayangkara, Indramayu. “Datang dari Indramayu itu sekitar pukul 10 malam. Kita persiapan sambil nunggu keluarga, kemudian dimakamkan. Malam itu juga dikuburkan di TPU Gedongan,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Geng motor yang diisi remaja nakal menjadi ciri khas di Cirebon. Hal ini berbeda dengan para anggota geng motor di Amerika Serikat yang rata-rata beranggotakan orang-orang (khususnya pria) dewasa. Motif mereka, menurut catatan otoritas keamanan AS, juga bukan lagi dalam kategori geng kekerasan atau retreatist, tapi sudah di taraf geng kriminal.

Biro Investigasi Federal AS (FBI) menggolongkan geng motor yang berlaku kriminal sebagai “outlaws motorcycle club”. Geng-geng motor ini hobi menjelajahi jalanan di atas motor berukuran besar (motor gede/moge), biasanya berjenis Harley Davidson atau Chopper.

Istilah “outlaw” tidak disematkan karena anggota geng-geng motor AS pasti melakukan kejahatan, tapi mulanya karena mereka tidak tergabung dalam American Motorcyclist Association (AMA). Geng-geng motor “outlaw” pun tak mengikuti aturan main AMA karena tak jadi anggota.

Mereka menciptakan dan menjalankan aturan sendiri atas nama kebebasan. Aturan itu teramat ketat dan bangga, hingga mampu melahirkan subkultur tersendiri.

Dalam riset James F. Quinn bertajuk “Angels, Bandidos, Outlaws, and Pagans: The Evolution of Organized Crime Among the Big Four 1% Motorcycle Clubs” (2001), subkultur geng motor di AS bermula saat jutaan veteran Perang Dunia II muda pulang ke tanah air dan beberapa di antaranya merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sipil.

Mereka kemudian membentuk geng moge karena memang mampu membeli kendaraan akibat ekonomi AS yang tumbuh dengan baik pasca-PD II. Nostalgia bersama rekan prajurit lain di area tempur yang penuh adrenalin disalurkan dengan bergerombol menyusuri jalanan.

Loyalitas dibentuk dengan disiplin tinggi, sebab gaya hidup yang mereka tempuh juga berbahaya. Maklum, selain merayakan kebebasan, mereka juga pantang berkompromi ketika berhadapan dengan otoritas setempat.

Dalam perkembangannya AMA merasa khawatir dengan rekam jejak geng motor tipe “outlaw” karena aksi-aksi keonaran mereka hanya akan merusak reputasi AMA. Pada suatu ketika AMA pernah menyatakan 99 persen pengendara motor itu baik dan taat aturan hukum. Geng “outlaw” yang mendengarnya kemudian dengan bangga menyatakan diri sebagai yang 1 persen atau “one-percenter”.

Quinn menjelaskan bahwa geng-geng motor “outlaw” berubah mulai berubah menjadi sindikat kriminal sejak akhir 1960-an. Mereka saling memperebutkan wilayah untuk melakukan operasi pemerasan dan perdagangan ilegal—termasuk dalam perkembangannya, transaksi obat-obatan terlarang yang menjadi bisnis paling menguntungkan.

Media AS sering memberitakan geng-geng motor “outlaw” terlibat dalam operasi kriminal di kelab-kelab malam, perdagangan barang curian, senjata api, pencucian uang, dan lain sebagainya. Mereka juga lekat dengan kelakuan tipikal geng-geng motor di seluruh dunia: berkelahi dan membuat keonaran di tempat umum.

FBI dan Badan Intelijen Kriminal Kanada menyebut ada empat geng motor “outlaw” dengan reputasi paling tenar di AS, yakni Hells Angles, The Pagans, The Outlaws, dan The Bandidos. Keempatnya disebut sebagai “Big Four” dan masing-masing mempunyai ribuan anggota. Tiga di antaranya, kecuali The Pagans, bahkan punya cabang di beberapa negara di luar AS.

Pemerintah California memasukkan dua tambahan yakni The Mongols dan Vagos Motorcycle Club. Dalam catatan Vox, kadang geng Sons of Silence juga ditambahkan dalam daftar. Sementara Departemen Kehakiman AS menyebut dua lagi: Black Pistons dan Vagos.

Sejarah mencatat bahwa permusuhan merebak di antara geng-geng tersebut. Yang paling tersohor adalah konflik antara Hells Angels dan The Bandidos. Quin mencatat The Mongols adalah geng motor “outlaw” yang mayoritas beranggotakan pria-pria Latin dan berpusat di Los Angeles. Mereka sedang menikmati reputasi yang cukup baik dalam beberapa dekade belakangan.

Reputasi itu antara lain karena The Mongols menjalin kolaborasi dengan mafia Meksiko dalam operasi narkoba gabungan. The Bandidos juga punya kaitan dengan Los Zetas, kartel narkoba asal Meksiko yang terkenal akan kekejamannya. (*)