Curah Hujan Masih Tinggi, Warga Kuningan Dimbau Tetap Siaga Bencana

Bencana alam yang terjadi di Kecamatan Cilebak menjadi prioritas perhatian Wabup M Ridho Suganda. FOTO: AGUS SUGIARTO/RADAR KUNINGAN
Bencana alam yang terjadi di Kecamatan Cilebak menjadi prioritas perhatian Pemkab Kuningan. FOTO: AGUS SUGIARTO/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN- Bupati Acep Purnama mengimbau agar masyarakat Kabupaten Kuningan terutama yang masuk kerawanan bencana supaya tetap siaga menghadapi cuaca ekstrim tahun ini. Sebab sejumlah kejadian bencana alam tengah melanda beberapa titik di Kabupaten Kuningan.

Jika terjadi hujan lebat, sebaiknya warga mengantisipasinya dengan tinggal di tempat yang aman. Bupati juga meminta masyarakat dan pemerintah desa agar terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Keseiapsiagaan masyarakat diperlukan mengingat curah hujan cukup tinggi. Ditambah lagi kontur tanah di Kabupaten Kuningan masuk dalam kerawanan tinggi dan sedang.

“Melihat demografi Kabupaten Kuningan yang berbukit-bukit, kami sudah berusaha langkah awal membangun tembok penahan tebing dan juga memangkas tebing-tebing untuk tidak terlalu curam. Meski itu sudah dipangkas toh masih saja terjadi tanah longsor. Saya tidak menyalahkan alam tapi memang intensitas curah hujan yang dikatakan ekstrem itu kalau hujan itu hujan deras sekali, tapi kadang hujan tidak merata,” kata Acep ketika memberikan keterangan persnya, Sabtu (16/2).

Dirinya bersyukur, karena setiap ada musibah kebencanaan selalu ditanggapi secara sigap oleh instansi terkait. Petugas BPBD juga langsung terjun ke lokasi melakukan penanganan.

“Saya masih bersyukur karena beberapa kejadian bencana diatasi secara langsung, spontan kita bergerak dengan BPBD dan pihak terkait lainnya. Alhamdulillah, itu hanya longsor yang menutupi badan jalan, setelah dibuang kembali lancar,” ujarnya.

Ketika terjadi bencana lama, lanjut bupati, pihaknya juga telah menyiapkan, dana tak terduga untuk segera membantu warga terdampak bencana maupun pembangunan fasilitas publik yang rusak.

“Kita anggarkan untuk dialokasikan, kalau dananya terpakai ada yang namanya dana tak terduga. Kita siap, apapun yang terjadi harus siap siaga. Pemerintah sangat memperhatikan masyarakat. Pasca bencana alam, kami langsung melakukan penanganan. Jika ada fasilitas umum seperti masjid, sekolah dan jalan yang mengalami kerusakan akibat bencana, segera dicarikan solusinya,” beber Acep.

Soal banjir sendiri, tambah bupati, setelah diteliti dikarenakan memang intensitas hujan yang cukup tinggi. Seperti yang pernah terjadi di dekat Rest Area Cirendang yang mengalami banjir, walaupun di tempat lain tidak terjadi hujan.

“Bahkan di Jalaksana itu kan gak hujan. Tapi kenapa di Cirendang sekitaran Ciharendong itu hujan. Tapi memang disitu ada kali kecil, yang memang ada penebangan batang-batang pohon yang dimasukan kesitu akhirnya tersumbat dan menyebabkan banjir di jalanan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Acep terus menggalakan, program kali bersih (Prokasih) dan juga kegiatan Jumat bersih (Jumsih). Hal itu dalam rangka mencegah penyempitan kali-kali kecil, serta menjaga kebersihan lingkungan di masyarakat.

“Kalau normalisasi kali, sebetulnya kita beberapa kali mengusulkan, dan Alhamdulillah respon juga cukup baik. Seperti yang di daerah Cibingbin, Bantarpanjang, Sukamaju sampai ke Dukuhbadag, Cibereum, itu revitalisasi sungainya dengan cara meninggikan tanggul,” sebutnya.

Bahkan, Acep juga menginstruksikan, saat rakor bersama PUPR untuk kembali memfungsikan saluran-saluran tersier untuk menuju kepada saluran induk atau sungai-sungai besar, baik yang terkena bangunan ataupun terkena badan jalan untuk segera dibangun kembali.

“Saya mohon saluran-saluran irigasi, drainase, itu harus terbuka. Seperti drainase dibawah trotoar itu saya larang. Lebih baik trotoar dipersempit, sisanya kita bangun drainase terbuka. Nanti kita pasang tralis untuk keselamatan pejalan kaki,” paparnya.

Sementara Kepala BPBD Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin menyatakan, curah hujan yang tinggi belakangan ini berpotensi terjadinya bencana alam. Seperti banjir dan tanah longsor. Pihaknya terus melakukan pemantauan ke wilayah yang masuk kategori rawan bencana.

“Hampir semua kecamatan di Kabupaten Kuningan masuk zona kerawanan bencana. Cuma saja tingkatannya berbeda-beda. Ada yang rendah, sedang dan tinggi. Sejauh ini, kami sering menerima laporan adanya bencana longsor, meski skalanya masih kecil. Upaya kami dalam penanganannya yakni dengan menerjinkan petugas BPBD, serta koordinasi dengan instansi terkait,” imbuh Agus. (ags)