Dampak Kekeringan, Dua Hektare Buah Naga Gagal Panen

dri--musim-kemarau-buah-naga-tak-berbuah-(9)Meski sudah masuk waktunya, dua hektare lahan pertanian buah naga di Desa Karangmalang, Kecamatan Karangsembung tidak berbuah. Akibat kekurangan pasokan air untuk pertanian.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sekitar dua hektare lahan pertanian percontohan buah naga di Desa Karangmalang, Kecamatan Karangsembung gagal dipanen. Pohon buah naga tersebut nampak tidak tumbuh dengan normal dan nyaris tidak ada satupun yang berbuah.

Kondisi itu diduga terjadi karena faktor cuaca dan ketersediaan air yang kurang. Sehingga pohon tersebut terhambat pertumbuhannya. Meskipun tanaman buah naga termasuk tanaman kaktus yang tahan kekeringan, tetapi apabila kekurangan air akan menyebabkan tanaman ini menjadi sukar berbuah.

Sekretaris Desa Karangmalang Nana Supriyatna mengakui, seharusnya ratusan batang pohon buah naga yang ada di Desa Karangmalang tersebut, sudah berbuah dan bisa dipanen pada bulan lalu. Namun, kondisi kemarau panjang yang terjadi membuat pohon buah naga sampai saat ini belum berbuah.

“Kalau dulu targetnya itu panen bisa dilakukan di bulan Agustus atau September. Tapi sempai sekarang belum berbuah. Kalau tanaman sih kelihatan hijau dan subur, cuma buahnya memang belum keluar,” ujarnya.

Dijelaskan Nana Supriyatna, pertanian buah naga di Desa Karangmalang tersebut adalah milik Bumdes Karangmalang yang dikerjasamakan dengan beberapa petani untuk penanaman dan perawatannya. “Kalau untuk apa dan kenapa sampai sekarang belum berbuah, saya tidak begitu paham. Tapi saya kira memang ada kaitannya dengan musim kemarau panjang ini. Kita kewalahan karena air di sungai kering, sementara mesin pompa milik desa juga hilang,” paparnya.

Wilayah Desa Karang Malang menurut Nana, saat ini nyaris tak ada lahan pertanian yang bisa dimanfaatkan. Semua lahan nganggur dan kering. Harapan petani hanya mengandalkan sumur pantek dan mesim pompa. Namun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Nah, kalau pakai pompa atau ambil air di sumur pantek kan butuh BBM. Sementara harga komoditi pertanian pada turun, jatuhnya rugi. Belum lagi ancaman gagal panen,” terangnya.

Sementara itu, Sunanto warga setempat kepada Radar Cirebon menuturkan, jika ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian tidak bisa dilakukan karena kondisi anak sungai atau saluran sekunder di wilayah tersebut, kering kerontang.

“Kalau untuk sini sih kekeringannya hampir merata. Memang hampir terjadi setiap tahun asalkan kemaraunya panjang seperti saat ini. Hampir tak ada yang bercocok tanam kalau saya lihat di areal pertaniannya. Hanya tersisa jagung dan buah naga. Itupun untuk buah naga saya lihat belum berbuah,” ungkapnya. (dri)