Data Rutilahu Sudah Masuk Dinsos, Tahun Ini Tak Ada Usulan

MEMPRIHATINKAN: Kondisi rumah Sanusi yang nyaris roboh begitu memprihatinkan. Sayangnya, selama ini ia tidak merasakan bantuan dari pemerintah, baik melalui program rutilahu, PKH ataupun BPNT. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
MEMPRIHATINKAN: Kondisi rumah Sanusi yang nyaris roboh begitu memprihatinkan. Sayangnya, selama ini ia tidak merasakan bantuan dari pemerintah, baik melalui program rutilahu, PKH ataupun BPNT.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON – Data rumah nyaris ambruk milik M Sanusi warga Desa Mundu Pesisir, rupanya sudah masuk dan ada di Dinas Sosial Kabupaten Cirebon.

Namun, Dinas Sosial belum bisa merealisasikan perbaikan rumah tersebut, karena untuk anggaran tahun ini belum ada usulan atau ajuan dari pemerintah desa setempat.

Hal tersebut disampaikan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Bidang Kesejahteraaan Sosial Dinsos Kabupaten Cirebon, Faozan. Menurutnya, setelah pemberitaan tersebut muncul, ia langsung mengecek status dari rumah tersebut dan menurutnya sudah masuk di dalam database Dinsos.

“Datanya sudah ada. Tapi belum bisa direalisasikan tahun ini juga. Ada beberapa kendala, di antaranya tidak adanya pengajuan atau permohonan dari desa setempat,” ujarnya, (21/5).

Menurut Faozan, jika kondisinya seperti itu, desa bisa mengambil keputusan dengan cara menyelenggarakan pembangunan rutilahu dengan mengalokasikan anggaran dari dana desa atau sumber lainnya.

“Kalau darurat, pembangunannya bisa diselenggarakan oleh desa. Memang seharusnya pengajuan dan permohonannya dilakukan desa agar bisa dieksekusi Dinsos. Tapi dalam hal ini sepertinya tak ada pengajuan untuk tahun ini,” imbuhnya.

Sementara itu, M Sanusi saat ditemui Radar Cirebon di rumahnya, menuturkan  jika rumahnya tersebut pertama kali dibangun pada tahun 1985.

Rumah yang saat ini ia tinggali bersama kedua anaknya tersebut, merupakan semi permanen. Bagian dinding hanya setengah pasangan bau bata dan setengah sisanya merupakan bilik bambu dan papan.

“Rumah ini sudah lumayan tua. Tidak pernah diperbaiki karena saya kesulitan ekonomi. Pekerjaan saya buruh serabutan dan tidak tentu penghasilannya. Anak saya ada dua,” jelasnya.

Sudah berkali-kali rumah Sanusi didatangi perangkat desa dan beberapa pihak lainnya. Bahkan, sudah tak terhitung berapa kali rumah milik Sanusi tersebut difoto dan didokumentasikan. Namun bantuan yang diharapkan untuk perbaikan rumah tak kunjung turun.

“Kalau difoto-foto sering. Malah dari dulu. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah. Bahkan saya tidak pernah dapat bantuan, baik PKH ataupun BPNT. Padahal untuk makan saja saya sulit. Saya juga punya anak yang masih sekolah,” imbuhnya.

Kondisi rumah Sanusi begitu mencekam begitu turun hujan. Air mudah masuk dan memenuhi ruangan yang ada di dalam rumah Sanusi.

Kondisi tersebut membuat Sanusi sering mengungsi bersama anak-anaknya karena setiap saat rumah tersebut bisa saja ambruk setiap waktu.

“Kalau hujan ya, tidak punya pilihan selain mengungsi. Ngeri pokoknya. Soalnya bagian atap kayu-kayunya sudah lepas. Ini tinggal nunggu waktu saja ambruknya,” ungkapnya. (dri)

Berita Terkait