Derita Rifi Nurlifa Agustian, Idap Kanker Mata Stadium Akhir Pakai Mata Palsu, Kanker Ganas Menjalar Hingga Mulut

ADE GUSTIANA, Gempol

KANKER MATA: Rifi Nurlifa Agustian (4), balita asal Desa Palimanan Barat, Kecamatan Gempol, mengidap penyakit kanker mata stadium akhir. Penyakit yang diderita, sudah menjalar hingga mulut. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
KANKER MATA: Rifi Nurlifa Agustian (4), balita asal Desa Palimanan Barat, Kecamatan Gempol, mengidap penyakit kanker mata stadium akhir. Penyakit yang diderita, sudah menjalar hingga mulut.FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

Sudah dua tahun lamanya, balita asal Desa Palimanan Barat, Kecamatan Gempol, Rifi Nurlifa Agustian (4), mengidap kanker mata stadium akhir. Penyakit yang diderita, sudah menjalar hingga mulut.

DOKTER mendiagnosa anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Hambali (37) dan Ceiyah Latifa (35) itu, menderita penyakit retinoblastoma atau kanker mata. Kedua matanya sudah tidak dapat melihat.

Bola mata sebelah kirinya, juga sudah dilakukan pengangkatan. Sehingga, balita kelahiran 22 Agustus 2015 itu, harus mengenakan mata palsu agar kelopak matanya tidak semakin menyempit.

Tidak cukup penderitaan Rifi. Kanker ganas yang menyerang matanya, menjalar hingga mulut.

Upaya penyembuhan demi penyembuhan, telah dilakukan. Kini, dua minggu sekali, Rifi menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Dr Hasan Sadikin Bandung.

Setelah kemoterapi, bocah malang itu meski menjalani pemeriksaan rutin di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

Ayah Rifi bekerja sebagai kontraktor di Marauke. Saat pengobatan di Bandung, ibunda Rifi menggunakan BPJS Ketenagakerjaan milik suaminya.

Meski gratis, keluarga tetap dibebankan dengan kebutuhan sehari-hari selama menjalani kemoterapi yang waktunya hingga seminggu, karena harus menunggu antrean.

“Mata sebelah kanan menggunakan bola mata palsu, agar tidak semakin menyempit. Dan mata palsu tidak tercover BPJS, harganya Rp300.000 sampai Rp400.000 yang harus diganti 4 bulan sekali.

Kemoterapinya di Bandung dua hari tiga malam. Tapi di sananya bisa sampai satu minggu karena antre,” ujar Ceiyah, (22/3).

Kanker mata yang diderita Rifi, berawal dari panas tinggi yang menimbulkan kelainan di mata. Saat itu, umurnya masih delapan bulan. Hingga jalan 4 tahun, diakui Ceiyah, Rifi belum tersentuh bantuan dari pemerintah.

Dirinya berharap, penyakit yang diderita Rifi dapat segera membaik. Selain itu, harapannya adalah pemerintah dapat melihat dan mengetahui langsung keadaan yang diderita putrinya itu.

“Pada saat kemoterapi ke 9, kanker menyebar ke mulut. Tanggal 25 Maret ini menjalani kemoterapi yang ke-13 kalinya.

Setelah kemo, anak mendingan, mau makan dan ngomong. Sekarang lagi menurun karena diare,” tuturnya.

Sejauh ini, bantuan yang diterima keluarga untuk Rifi, datang dari relawan atau komunitas yang peduli terhadap kesembuhannya.

Kabar mengenai penyakit kanker mata yang diderita Rifi, juga dibagikan di media sosial oleh mereka yang peduli. Dengan harapan, ada kelompok atau individu yang sedikit dapat meringankan beban keluarga. (*)