Desa Ciuyah Geger, Gagal Bunuh Istri, Suami Bunuh Diri Pakai Golok

Luka Parah di Bagian Perut

CIREBON-Warga Desa Ciuyah, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, geger. Sekitar pukul 03.00 WIB, seorang ibu bernama Kariah (52) lari dengan kondisi bersimbah darah. Tak hanya lari, Kariah juga berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan warga. Di belakangnya, Herman (55), mengejar dengan membawa golok. Peristiwa Kamis dini hari (11/7) itu bikin heboh.

Pasutri itu bersimbah darah. Herman dalam kondisi yang cukup parah di bagian perut. Ususnya sampai terburai. Ia meninggal setelah menjalani serangkaian tindakan medis di RSUD Waled. Rupanya setelah gagal mengejar Kariah, Herman kembali ke rumahnya dan melukai dirinya sendiri. Sementara Kariah, sampai Kamis malam (11/7), masih menjalani perawatan intensif setelah dilakukan tindakan operasi oleh tim medis RSUD Waled untuk menyelematkan nyawanya.

Menurut Didi, Kasi Pemerintahan Desa Ciuyah, pihaknya sama sekali tidak mengatahui motif aksi tersebut. Bahkan Didi yang menemani anak Herman saat menjalani proses pemeriksaan di kepolisian, juga tak mendapatkan informasi yang jelas terkait motif dari Herman melakukan aksi tersebut.

“Saya menemani anak korban (anak dari Herman dan Kariah, red) dimintai keterangan oleh polisi. Sama, anaknya juga tidak tahu motifnya. Ini yang kita bingung. Di depan rumahnya itu ada warung kopi, jam 9 malam saya masih nongkrong di situ. Sepi. Dini harinya ada kejadian. Dari keterangan anaknya, gak ada masalah sebelumnya,” ujar Didi.

Alat yang digunakan oleh Herman untuk melakukan aksi tersebut adalah golok yang setiap hari digunakan untuk bercocok tanam. Sehari-hari Herman memang bekerja sebagai petani. Mereka tinggal di rumah kecil dengan dua kamar.

“Di dalam kamarnya itu banyak perlatan. Maklum kan orang kampung, jadi alat-alat yang biasanya buat kerja di kebun, ada di kamar semua. Dari mulai cangkul, pisau, golok, dan lain-lain ada di dalam kamar. Tadi (kemarin) juga saya ngawal dari kepolisian ke rumah korban. Ada pisau juga yang dibawa polisi dari kamar,” jelasnya kepada Radar Cirebon.

Herman, menurut Didi, mengalami luka di bagian perut. Sementara Kariah mengalami luka di bagian perut dan paha. Dari cerita yang didapat Didi, siang hari sebelum kejadian, Herman berangkat berkebun dan menjumpai dua ular. Dua ular itu kemudian dibunuh oleh Herman sendiri.

“Ada tetangga kebunnya yang lihat kalau siangnya Herman bunuh dua ular. Kalau orang di sini bilangnya ular welang sama ular lemak. Tapi gak tahu juga apa ada hubungannya atau tidak. Jujur, sampai dengan malam ini (tadi malam) belum ada yang tahu motif sebenarnya. Kan istrinya juga masih dirawat,” kata Didi.

Kedua korban, sambung Didi, mendapat perawatan di  RSUD Waled sekitar 04.30 WIB dan langsung masuk IGD. Untuk Herman, setelah diobservasi kemudian dilakukan tindakan operasi sekitar pukul 10.15 WIB. “Beres operasi itu sekitar jam 12 siang (Kamis, red). Setelah itu dapat kabar lagi jam setengah 2 siang sudah meninggal. Kita di desa lalu mengurus hal-hal lainnya dan langsung dibawa pulang untuk dikebumikan,” katanya.

Sekdes Ciuyah Sutara, juga membenarkan insiden berdarah tersebut. Sesuai dengan informasi yang ia terima, Herman meninggal dunia. Namun motif aksi tersebut ia belum mengetahuinya dan masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian. “Insidennya terjadi dini hari. Kami juga kaget karena sebelumnya tidak ada keributan apapun. Kejadiannya tiba-tiba. Kalau gak salah sekitar pukul tiga dini hari lewat,” ujarnya. (dri)