Desa Wiyong, Desa yang Sukses Tekan Jumlah Pekerja Migran

Ketimbang Kerja ke Luar Negeri, Mending Buka Usaha Sendiri

TEKAN PMI: Kepala Desa Wiyong H Maryono (kiri) dan Petugas Desmigratif Desa Wiyong, Sukirno bangga, dengan adanya program Desmigratif, berhasil menekan angka PMI yang bekerja di luar negeri. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
TEKAN PMI: Kepala Desa Wiyong H Maryono (kiri) dan Petugas Desmigratif Desa Wiyong, Sukirno bangga, dengan adanya program Desmigratif, berhasil menekan angka PMI yang bekerja di luar negeri.FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Program Desa Migran Produktif (Desmigratif) yang telah berjalan di Desa Wiyong, Kecamatan Susukan, berhasil menekan jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.

Seperti diketahui, Desa Wiyong merupakan salah satu desa dengan kantong PMI terbanyak di Kabupaten Cirebon. Oleh karena itu, pemerintah menunjuk Desa Wiyong sebagai desa Desmigratif sejak Oktober 2017 lalu.

Petugas Desmigratif Desa Wiyong, Sukirno (41) mengatakan, sebelum adanya program itu, jumlah PMI di desa tersebut sangat banyak. Bahkan, mayoritas pemuda di Desa Wiyong, sebagian besar lebih memilih mengadukan nasibnya di luar negeri. Namun, setelah adanya program Desmigratif, jauh mengalami penurunan.

“Wiyong sebagai Desa Desmigratif, memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada calon PMI. Agar mereka dapat mengetahui hak dan tanggung jawabnya sebagai pekerja migran. Sehingga saat berangkat, bekerja dan kembali pulang, dapat kembali dengan selamat tanpa ada kendala,” ujarnya kepada Radar Cirebon, (12/3).

Lebih lanjut dikatakan Sukirno, selain melindungi dan memberikan informasi secara gamblang kepada calon PMI, tujuan dari program Desmigratif adalah untuk menjaga harkat dan martabat Indonesia. Menurutnya, pemerintah melalui kementerian tenaga kerja, sangat peduli dan mengayomi warganya saat menjadi PMI.

Sukirno sendiri, merupakan mantan PMI yang pernah bekerja di Arab Saudi selama delapan tahun. Kata dia, itu merupakan salah satu syarat menjadi petugas desa migran produktif, yang melakukan bimbingan atau arahan kepada masyarakat yang hendak mengadu nasib di luar negeri.

“Selain itu, kami sebagai petugas desmigratif, memberikan pemahaman kepada PMI agar tidak kembali bekerja di luar negeri, dan menyarankan membuka usaha sendiri di kampung halaman dari uang atau modal yang telah didapat selama bekerja,” paparnya.

Terbukti dari pemahaman seperti itulah, kata Sukirno, mantan PMI yang ingin kembali bekerja di luar negeri, mulai berpikir dan mengikuti sarannya untuk mendirikan usaha.

Kepala Desa Wiyong, H Maryono juga mengapresiasi program yang berjalan di desanya. Dengan berlangsungnya program tersebut, Maryono berharap, masyarakat dapat lebih mengetahui dan menerima informasi dengan benar dan akurat. Sehingga, saat bekerja di luar negeri, PMI tidak lagi merasa takut atau bingung, mengenai apapun yang bersangkutan dengan pekerjaannya, hingga kembali ke tanah air. (Ade)