Detik-Detik Sebelum Soekarno, Proklamasi Kemerdekaan Dibacakan dr. Soedarsono di Cirebon

Sjahrir, Suwandi, dr. Soedarsono

PERTANYAAN daerah mana yang terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Apakah Jakarta pada 17 Agustus, Karawang pada 16 Agustus, atau Cirebon pada 15 Agustus?

Filolog asal Cirebon, Raden Safari S. Hasyim, mengatakan senyapnya gaung proklamasi yang dibacakan ayahanda Menteri Pertahanan era Megawati Soekarnoputri, Juwono Sudarsono, ini juga karena faktor politik. Dia memperkirakan peristiwa itu lahir atas ketidakberdayaan Syahrir dalam membujuk Soekarno untuk segera membacakan proklamasi kemerdekaan atas desakan kaum muda pergerakan.

“Saya kira karena kental unsur politik juga,” kata pria yang akrab disapa Opan ini.

Dokter Soedarsono merupakan pendiri Rumah Sakit Orange (Kini RSUD Gunungjati Cirebon). Dokter Soedarsono pada akhirnya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Syahrir II.

Menurut Opan, dipilihnya Kota Cirebon sebagai tempat pembacaan proklamasi ini karena banyaknya peristiwa perjuangan rakyat yang juga terjadi selama jelang kemerdekaan. “Soal ini bisa diperiksa juga di arsip daerah berjudul Sejarah Berdirinya Kota Cirebon,” kata Opan.

Informasi yang dihimpun radarcirebon.com berita kekalahan Jepang mulai tersebar hingga desa di Cirebon. Pada 15 Agustus siang sekitar pukul 14.00 WIB, Sutan Sjahrir–setelah mendengar penyerahan diri Jepang secara resmi kepada Sekutu lewat radio–menemui Mohammad Hatta di kediamannya, Diponegoro 57 Jakarta.

Satu hari kemudian, 16 agustus 1945, warga desa Waled, Timur Cirebon, serentak menempelkan lembaran-lembaran kertas, di pohon-pohon sepanjang jalan utama desa. Sebagaimana diungkap Omi Busytoni, dalam Naskah Buku Ulama Cirebon. Isi selebaran itu berupa pernyataan kemerdekaan, yang diatur oleh orang-orang gerakan bawah tanah, diprakarsai oleh dr. Sudarsono, Sugra, Sukanda, Rayati dan Kartamuhari. Mereka kemudian berpawai hingga desa Ciledug  sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan dan meneriakkan kata-kata “Merdeka!”.

Beberapa hari sebelumnya, tanggal 13 Agustus 1945, gelora proklamasi sudah mulai menyelimuti para tokoh pergerakan di Cirebon. Daidancho (komandan batalyon), Zainal Asikin yang terbaring sakit di kamar No 9 Rumah Sakit Kesambi (RSUD Gunung Jati) saat itu memimpin rapat dengan 20 orang.Dia merencanakan penyerangan terhadap tentara Jepang yang akan dilakukan tanggal 14 Agustus 1945 pukul 22.00. Namun rencana tersebut tidak terlaksana karena komando dari Jakarta tidak merestui. Salah satunya dr Soedarsono, salah satu tokoh yang kemudian berani membacakan teks proklamasi yang dibuat Sutan Sjahrir.

Menurut catatan sejarah, suasana Jakarta mencekam bagi para kelompok pergerakan. Ada 4 kelompok illegal menurut Maroeto Nitimihardjo yang tampak saat itu, yaitu kelompok Soekarni, Kelompok Sjahrir, Kelompok Mahasiswa dan Kelompok Kaigun.

Kelompok-kelompok itu mendengar Sjahrir meminta Soekarno dan Hatta untuk mempercepat pernyataan Proklamasi sekembalinya Soekarno dan Hatta dari perundingan di Dalat, Saigon dengan Marsekal Terauchi, wakil kaisar Jepang.

Namun Soekarno masih menunggu kepastian dari Laksmana Maeda tentang hal kekalahan Jepang tersebut. Hal ini membuat kelompok-kelompok illegal itu marah dikarenakan mereka melihat keraguan Sjahrir selama ini untuk menjalankan kesepakatan bahwa Sjahrirlah yang harus siap memimpin kemerdekaan dikarenakan ia bersih dari pengaruh Jepang. Hingga membuat kelompok-kelompok illegal ini, tidak termasuk Sjahrir bergerak cepat.

Terjadi beberapa pertemuan antara lain di Jalan Cikini Raya 71, di Lembaga Ecykman dan di Laboratorium Mikrobiologi (di samping pasar Cikini). Wikana dan dr. Darwis ditugaskan untuk mendesak langsung Soekarno-Hatta (tanpa perantara Sjahrir) untuk memproklamirkan kemerdekaan yang berujung dengan penculikan atau membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Gerak cepat yang tak ragu-ragu ini akhirnya melahirkan sebuah peristiwa di pagi hari di tanggal 17 Agutus 1945 sebagai hari kemerdekaan.

Dalam buku Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan karya Hadidjojo Nitimihardjo, disebutkan waktu yang berjalan cepat dalam ketidak pastian peristiwa, seorang bernama dr.Soedarsono (ayah dari Juwono Soedarsono) datang bertemu Maroeto Nitimihardjo di sebuah pengungsian bagi istri dan anaknya yaitu di desa Prapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr.Soedarsono berasal. Ia meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada. Hingga dr. Soedarsono menjadi berang dan berkata, “Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon.”

Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr.Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.

Namun kisah yang dipaparkan Maroeto berbeda dengan kisah yang diungkap oleh Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurutnya, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dilakukan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945. (*)