Dibalik Kiamat Sudah Dekat dari Ponorogo hijrah ke Malang

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Fallahil Mubtadin (MFM) di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang (Foto. Radar Malang)

Nama Katimun menjadi perhatian setelah 53 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, 30 (laki-laki) dan 23 (wanita), bedol desa dari Desa Watu Bonang Kecamatan Badegan Ponorogo menuju Desa Sukosari Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Mereka adalah pengikut Jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash-Sholihiyah yang viral di media sosial belakangan ini, berawal viral dari sebuah akun atas nama Rizki Ahmad Ridho mengunggah informasi itu di Info Cegatan Wilayah Ponorogo (ICWP).

Sejak di-posting dua hari kemarin sudah dikomentari 1.405 netizen dan disukai 1.014 netizen.

Unggahan Rizki tersebut adalah, “kepoinfo seng omahe watu bonang enek ora jarene lemah’ pdo.di dol.gek pindah neg malang kae kronologine pie..Seng 2 krngu” jarene kenek doktrin seng kiamat disek dwe daerah kno gek jarene neh kui gae jaket MUSA AS..kui aliran opo lurrr.samarku mbat brawek neg daerah” lio..Ngnu wae..mergo rdok nyamari babakan ngne kie wedi ko mbat di gae edan lak io.jembuk.

(#kepoinfo yang rumahnya di Watu Bonang ada apa tidak. Infonya tanah-tanah dijual lalu pada pindah ke Malang. Terus bagaimana kronologinya. Yang kedua, dengar-dengar katanya kena doktrin bahwa kiamat pertama kali akan datang di situ. Lalu katanya lagi ada yang memakai jaket MUSA AS. Itu aliran apa ya saudara, khawatirku merembet ke daerah lain. Gitu aja. Soalnya agak membahayakan masalah seperti ini. Takutnya malah membuat orang gila),”.

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengatakan, warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan mulai pindah ke Malang setelah ada satu warga yang menyebarkan isu kiamat dari rumah ke rumah.

“Dua bulan lalu, Katimun (warga Desa Watu Bonang) usai pulang menimba ilmu datang dari rumah ke rumah mempengaruhi warga dan menyebarkan ajaran tersebut,” kata Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni.

Saat mendatangi rumah ke rumah, kata Ipong, disampaikan kepada warga kiamat sudah dekat. Untuk itu jamaah diminta menjual aset-aset yang dimiliki untuk bekal diakhirat atau dibawa dan disebarkan di pondok.

“Mereka juga sampaikan kalau masuk ke jemaah ini maka ketika dunia ini kiamat mereka tidak ikut kiamat,” kata Ipong.

Tak hanya itu, kata Ipong, penyebar aliran itu juga menyatakan ramadhan yang akan datang akan ada huru-hara atau perang. Untuk itu jamaah diminta membeli pedang kepada kyai seharga Rp 1 juta.

“Bila tidak membeli pedang diminta menyiapkan senjata di rumah. Ini tidak masuk semua,” kata Ipong.

Ipong mengatakan pengikut kyai asal Kasembon itu tidak hanya berasal dari Ponorogo saja. Informasinya ada juga yang berasal dari berbagai kabupaten di Jawa Timur.

Katimun

Diketahui, ia merupakan tokoh Jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash-Sholihiyah di Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo. Ia memiliki jamaah hingga lebih dari 200 orang. Sejak dua bulan terakhir, rumah yang juga menjadi padepokan untuk menimba ilmu ini sudah sepi karena ditinggal Katimun bersama dua anaknya bedol desa dari Desa Watu Bonang Kecamatan Badegan Ponorogo menuju Desa Sukosari Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Sebelum ditinggal ke Malang, di rumah ini selalu menggelar pengajian setiap hari selasa malam dan jumat malam dan dipimpin langsung oleh Katimun. Bahkan jamaah yang datang ketempat ini tidak hanya warga sekitar, melainkan dari berbagai daerah, termasuk Wonogiri, Jawa Tengah.

Mereka meninggalkan desa pada tengah malam. Selain itu mereka pergi tanpa berpamitan baik kepada tetangga maupun kepada pihak desa. Bahkan rumah dan aset dijual dengan harga murah.

Menurut pihak Desa, perginya 53 warga desa Watubonang ini disebabkan karena adanya isu jika kiamat sudah dekat, sehingga mereka harus segera pindak ke Malang agar terhindar dari kiamat. Termasuk menjual seluruh aset yang ada di Ponorogo.

Pihak desa juga menghimbau kepada warga untuk tidak terpengaruh dengan isu akan adanya kiamat. Termasuk untuk tidak lagi meninggalkan rumah ataupun menjual aset hanya karena isu yang tidak jelas muaranya.

Informasi yang dihimpun, Katimun merupakan santri salah satu pondok pesantren di Malang. Katimun sudah 18 tahun menimba ilmu di pesantren tersebut. Sekembalinya ke desa kelahiran, Katimun menyebarkan ilmu agama yang telah dia dapatkan. Termasuk membawa ajaran Thoriqoh Akmaliyah Ash-Sholihiyah.

Polres Ponorogo mengirimkan anggotanya ke pondok pesantren yang ada di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Itu dilakukan untuk mencari Katimun, pendiri padepokan Gunung Pengging, Desa Watu Bonang, Badegan.

Kapolres Ponorogo Radiant mengungkapkan hasil investigasi anggotanya di Desa Watu Bonang, Katimun diketahui sebagai tokoh agama di desanya. Dia juga sebagai pengajar agama di padepokannya. Selama ini ajaran yang disampaikan tidak ada yang menyimpang.

Oleh sebab itu, belum bisa dipastikan perginya sejumlah warga desa watu bonang tersebut karena isu kiamat atau ingin menuntut ilmu di pondok.

Informasi Hoaks Fatwa Hari Kiamat Bersumber dari Program Tiga Bulanan

Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, KH Ramli Soleh Syaifuddin menegaskan, bahwa informasi Fatwa Hari Kiamat yang beredar adalah informasi hoaks. Informasi ini bersumber dari program tiga bulanan yang selalu dilaksanakan oleh Ponpes setempat menginjak tahun ketiga.

Kiai Ramli menerangkan pada Jemaahnya tentang 10 tanda-tanda kiamat, hingga ia menganjurkan kepada para Jemaah dan santri untuk bersiap menyambut kedatangan kiamat lewat program tiga bulanan yang selalu dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan ini.

“Saya pernah menerangkan bahwa jika setelah Ramadhan ada meteornya, maka dunia mengalami kemarau selama tiga tahun. Itu ada haditsnya, setelah itu Dajjal, setelah Dajjal Nabi Isa dan seterusnya,” ujar Ramli.

“Kalau ada yang menginformasikan saya memberikan fatwa akan ada huru hara sebelum Pilpres 2019 atau menjelang Pilpres 2019, itu hoaks semua yang dihembuskan oleh orang yang tidak bertanggungjawab,” kata Kiai Ramli, disamping Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto SIK MSi dalam jumpa pers yang dilaksanakan Rabu (13/3/2019).

Isu Kiamat Tidak Benar

Kapolres Batu dengan ditemani Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, KH Ramli Soleh Syaifuddin, Kapolres menemui Katimun, warga Ponorogo yang datang ke Pondok Pesantren ini bersama dengan puluhan orang lainnya.

“Bisa Pak Katimun jelaskan langsung, karena mungkin ada yang salah persepsi, hingga kedatangan Bapak ke sini terkesan ada hasutan atau paksaan,” ujar Kapolres kepada Katimun. Laki-laki yang menjadi pengurus pengajian di Ponorogo ini membantah kalau kedatangannya karena paksaan.

“Saya mendapat isyara dari almarhum Soleh Syaifuddin itu di suruh ke sini, kebetulan disini ada pondok tiga bulan, akhirnya saya ikut, karena saya punya jamaah di Ponorogo akhirnya saya pamitan, ternyata mereka ikut juga, saya tidak mengajak, mereka ikut sendiri, datangnya secara bertahap menyusul-menyusul begitu,” kata Katimun.

Data di Polres Batu terdapat  59 KK dari Ponorogo dengan rincian  24 kepala keluarga, 16 istri dan anak-anak. “Kedatangan mereka kesini ini dengan kesadaran sendiri, karena ingin mendalami agama,” Kata Kapolres.

Ia kemudian menjelaskan, bahwa Santri di Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin ini berjumlah 573 santri. Dari 177 Kepala Keluarga, ada 132 KK yang tinggal di Pondok Pesantren dan yang tinggal diluar Ponpes ada 45 KK.

Dari 396 santri ada 277 tinggal di Pondok Pesantren dan 119 berada diluar Ponpes.  Santri dari Kasembon 51 orang, Kediri 106 orang, Lampung 50, Ponorogo 42, Jember 53, Boyolali 45, Sukoharjo Karanganyar, Tuban, Surabaya, Jombang, Magelang. Hal ini berbeda dengan data yang mengatakan bahwa ada 52 warga Ponorogo mengungsi di Ponpes ini untuk mengantisipasi kiamat.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan sesuai laporan dari Polres Batu telah dilakukan pertemuan dengan tokoh masyarakat dan Muspika, bertempat di Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin Dusun Pulosari Desa Sukorejo Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang dengan Tokoh Agama dan Muspika Kecamatan Kasembon yang diikuti oleh ± 25 org. Hadir dalam kegiatan tersebut:

  1. Gus Romli ( Pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin Dusun Pulosari ).
  2. Gus Ibnu Mukti ( Wakil Ketua PC Anshor Kab. Malang/Ponpes Slatri )
  3. AKP Supriyanto ( Kapolsek Kasembon ).
  4. Iptu Dwi Jatmiko ( KBO Intel Res Batu).
  5. Khoirul Huda ( KUA Kasembon ).
  6. Edy Lukman ( Sekcam Kasembon ).
  7. Kapten ARM Murdiono (Danramil Kasembon).
  8. Hendra Tri Jahjono (Camat Kasembon).
  9. Gus M Hamam N ( Ketua PAC Ansor Kasembon).

Hasil Tabayyun di Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin diperoleh hasil. Semua berita yang tersebar melalui medsos tersebut tidak benar dalam hal ini MUI Kasembon, MWC NU , Kemenag yang diwakili Ketua KUA, Anshor menyatakan bahwa kajian yang dilakukan oleh Gus Romli tidak menyalahi karena dalam melakukan kajian didasarkan pada Hadist yang Sokeh dan Hadist Bukhori.

Amaliyah Gus Romli sebagai mursyit Torikhoh Akmaliyah dibenarkah tidak keluar dari ajaran yang dibenarkan oleh MUI. Dilakukan klarifikasi terkait isi berita yang tersebar dan hasilnya sebagai berikut.

  1. Jamaat didoktrin bahwa kiamat sudah dekat jawabannya tidak benar.
  2. Huru hara jelang Pilpres 2019 jawabannya bahwa huru hara tidak benar.
  3.  Terkait masalah santri jual aset jawabannya tidak benar Gus Romli tidak menyuruh menjual.
  4. Ada oknum jamaah melakukan penyebaran ujaran kebencian. jawabannya tidak benar.
  5. Jemaah mengibarkan bendera HTI dan FPI jawabannya juga tidak benar.
  6. Jemaah diperintahkan dalam jaga untuk membawa sejata pedang jawabannya tidak benar dan hanya membawa rotan.
  7. Merubah Rukun Islam jawabannya tidak benar
  8. Jamaah disuruh beli pedang 1 jt jawabannya tidak benar.
  9.  Jamaah berlindung di Ponpes jawabannya benar kalau terjadi meteor jatuh ke bumi yg dianggap sebagai kiamat.
  10. Foto Romo kyai dan Gus Romli dijual 1 jt jawabannya tidak benar namun hanya dijual 250 ribu rupiah.

“Intinya semua berita yang beredar tidak benar,” kata Frans Barung Mangera dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/3/2019).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang menegaskan bahwa Fatwa Hari Kiamat yang diajarkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, KH Ramli Soleh Syaifuddin bukanlah ajaran menyimpang atau sesat.

Hal tersebut dikemukakan oleh Wakil MUI Kecamatan Kasembon yang juga Wakil Ketua PC Ansor Kabupaten Malang, Ibnu Mukti dalam jumpa pers yang dilaksanakan di Polres Batu, Rabu (13/3/2019).

“Hasil tabayun sudah kami sampaikan pada 13 tokoh dan ulama di Kecamatan Kasembon, saya sampaikan hasil tabayun tersebut. MUI nyatakan amaliah atau bentuk pelajaran yang disampaikan di pondok Kai Romli ini, tidak ada yang menyimpang dari ajaran atau kaidah agama Islam,” kata Mukti.

Fatwa Hari Kiamat yang dilakukan oleh Kiai Romli menurut MUI Kasembon tetap pada koridor ajaran agama yakni kaidah agama Islam.

“Mengenai penjelasan beliau (Kiai Romli) terkait dengan Hari Kiamat, mohon maaf, kiamat itu misteri kita semua bagi umat Islam, ulama juga begitu , karena tidak ada penjelasan pasti kapan terjadinya, hingga muncul banyak sudut pandang mengenai hari kiamat ini. Sudut pandang Kiai Romli mengenai kiamat, tidak sama dengan tokoh dan ulama lain,” ujar Mukti.

Mukti menggaris bawahi bahwa yang disampaikan Kiai Romli mengenai kiamat itu benar. Menurut perspektif Kiai Romli. Namun jika ditanya perspektif Mukti tentang kiamat, Mukti mengatakan pendapatnnya tentang persiapan kiamat berbeda dengan pendapat dengan Kiai Romli.

“Jadi, dimohon menjadi maklum. Selain itu, Kiai Romli menyampaikan fatwanya untuk jemaah beliau (Jamaah Akmaliyah Assholihiyah) bukan untuk umum,” kata Mukti.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang mengatakan, bahwa Fatwa Hari Kiamat yang diajarkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin, KH Ramli Soleh Syaifuddin bukanlah ajaran menyimpang atau sesat. (*)