Dinkes Ancam Tutup Toko Penjual Obat Daftar G Ilegal

Satreskoba Polres Cirebon Kota mengungkap 8 kasus narkotika jenis sabu dan obat-obatan terlarang daftar G. Total, polisi meringkus 10 orang tersangka dengan barang bukti total sebanyak 24,6 gram sabu dan 2.750 butir obat-obatan farmasi dengan berbagai macam jenis dan merk. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Satreskoba Polres Cirebon Kota mengungkap 8 kasus narkotika jenis sabu dan obat-obatan terlarang daftar G. Total, polisi meringkus 10 orang tersangka dengan barang bukti total sebanyak 24,6 gram sabu dan 2.750 butir obat-obatan farmasi dengan berbagai macam jenis dan merk.FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Terjadinya tindakan kriminalitas belakangan ini salah satunya dipicu oleh pelaku yang sebelumnya mengonsumsi obat-obatan daftar G (Gevaarlijk atau berbahaya) secara berlebihan, untuk mendapatkan efek memabukkan. Nah, dari mana sebenarnya obat ini didapatkan?

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Cirebon Dr Edy Sugiarto MKes menjelaskan, peredaran obat-obatan daftar G tersebut hanya bisa didapatkan di apotek atau toko obat yang telah mendapatkan izin dari dinkes. Sehingga peredarannya tidak bisa dijual bebas dan harus dengan resep dokter.

Disebutkannya, di Kota Cirebon jumlah apotek yang sudah berizin sebanyak 80 buah, sementara toko obat berizin ada 15 buah. Jadi setiap minggunya, apotek dan toko obat itu harus melaporkan khusus obat keras dan sejenisnya. Bila ada lonjakan pembelian diluar kebiasaan, maka pihaknya akan memanggil pemilik dan apotekernya.

“Iya apotek dan toko obat harus melaporkan ke dinkes. Bila terbukti melanggar, baik hasil penanganan pihak kepolisian ataupun penegak hukum lainnya, kami tidak akan segan mengambil tindakan tegas. Dengan mencabut izin dan menutup apoteknya,” tegas Edy kepada Radar Cirebon.

Pihaknya sudah pernah menindak tegas paling sedikitnya dua apotek. Karena terbukti menjual obat daftar G secara bebas tanpa resep dokter. Apotek tersebut dicabut izinnya berikut apotekernya. Diharapkan ini bisa menimbulkan efek jera agar tidak diikuti oleh apotek lainnya.

Dinkes, lanjut Edy, berkewenangan mengawasi peredaran obat daftar G hanya pada apotek dan toko obat berizin, juga layanan kesehatan milik Pemkot Cirebon seperti puskesmas maupun klinik. Selebihnya peredaran obat yang dilakukan oleh orang atau oknum diluar itu, bukan kewenangannya.

Edy juga menyampaikan informasi terkait asal muasal obat daftar G ilegal. Dari penelusurannya, obat itu didatangkan oleh bandar lokal di sini dari Jakarta. Edy tidak sungkan menyebutkan lokasi asal obat itu adalah di Pasar Pramuka Jakarta, atau tepatnya dekat BPOM pusat. Segala jenis obat keras ada di sana, dengan omset ratusan juta perharinya.

Jadi, asal obat daftar G ilegal yang beredar di Kota Cirebon, disinyalir sumbernya dari Jakarta. Sekali waktu, Edy pernah memergoki bandar yang memesan sekardus penuh obat tersebut, ketika satu gerbong KA dari Jakarta ke Cirebon.

“Iya, yang menjadi keprihatinan juga adalah pengguna obat itu adalah generasi muda dan pelajar. Ini efeknya sangat merusak masa depan mereka sendiri dan bangsa Indonesia. Jadi pemberantasan penyalahgunaan obat ini harus lintas sektoral. Bukan hanya pemerintah dan aparat keamanan, keterlibatan dunia pendidikan, tokoh agama untuk mencari solusinya secara bersama,” tandasnya.

Sementara praktisi farmasi H Ahmad Azrul Zuniarto MFarm Apt mengungkapkan, semua obat itu bila masuk ke dalam tubuh manusia dianggap benda asing. Bermanfaat atau berefek untuk menyembuhkan bila sesuai dengan aturan dari pihak medis atau dokter.

Untuk obat daftar G ini, lanjutnya, adalah jenis obat keras yang tidak sembarang untuk dikonsumsi, di mana penggunaannya atas resep dari dokter. Dan untuk mendapatkan obat itu hanya di apotek dan toko obat berizin yang bisa menjualnya. Jadi ilegal, bila didapatkan diluar dari ketentuan tersebut.

“Karena obat daftar G tersebut sebagian besar bekerja pada sistem syaraf, mengonsumsinya berlebihan tentu efeknya juga terganggu sistem syarafnya. Efek lainnya adalah kecanduan, semakin sering mengonsumsi, semakin banyak obat itu harus diminum,” jelasnya.

Lebih lanjut Azrul mengungkapkan, obat tersebut memberikan efek penenangan. Ini karena mengandung trihexyohenidyl yang biasa digunakan untuk antiparkinson pada dosis terapi. Dan di beberapa rumah sakit jiwa dipergunakan pada kasus skizofrenia. “Jenisnya macam-macam, di antaranya hexymer, alprazolam, double L, tramadol dan trihexyohenidyl,” pungkasnya. (gus)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait