Diskominfo: Peretas Running Text Biasanya Hacker Pemula

RETAS-RUNNING-TEXT
RAWAN DIRETAS: Lampu lalu lintas di exit Tol Kanci diretas oknum tidak bertanggung jawab, belum lama ini. Peretasan running text lampu merah biasanya dilakukan hacker pemula. FOTO: ADE GUSTIANA/ RADAR CIREBON

CIREBON – Peretas Running Text yang belakangan marak terjadi biasanya dilakukan bagi mereka yang baru mengenal dunia Teknologi Informasi (TI). Pelakunya dapat di jerat Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). Terbaru, running text di exit tol Kanci jadi korban para hacker.

Pelaku TI Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Cirebon, Dudi Suryadarma menuturkan, biasanya pelaku peretasan adalah mereka yang baru mengenal dunia TI. Umumnya mereka ingin coba-coba.

Dudi menegaskan, pelaku peretasan dapat dijerat UU ITE karena termasuk defacing atau mengubah tampilan running text yang seharusnya berisi informasi bagi pengendara yang melintas menjadi kalimat lain.

“Biasanya dan mungkin, pelaku peretasan hanya coba-coba. Biasanya kalau orang yang baru mengenal TI, kemudian dia melakukan seperti itu. Jadi banyak sih motifnya kalau menurut saya. Dan pelaku dapat terkena UU ITE karena termasuk deface atau mengubah tampilan,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Dudi menambahkan, ada beberapa opsi yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi kejadian serupa. Seperti melakukan pembaruan pada sistem perangkat lunak, dan secara berkala melakukan pergantian password dengan kombinasi yang tidak mudah ditebak.

Saat melakukan hacking, kata Dudi, peretas melakukan aksinya tidak jauh dari lokasi yang dituju. Dikarenakan sistem yang berjalan pada running text, sangat dimungkinkan menggunakan wireless.

“Idealnya mengganti password secara rutin. 1 bulan sekali atau 2 bulan sekali. Kedua kombinasi password jangan mudah ditebak. Ketiga, gunakan tingkat keamanan yang paling tinggi. Kalau memang dia menggunakan wireless, prasarana wireless-nya di non-aktifkan saja. Ngga usah pakai wireless. Pakai kabel sajalah biar lebih secure,” paparnya.

Sekretaris Diskominfo, Yadi Wikarsa menambahkan sistem dibangun bukan berarti tidak diawasi secara masksimal. Akan tetapi, tetap harus ada pengawasan terhadap sistem yang sedang berjalan. Dengan pengawasan yang maksimal, peluang peretas masuk ke dalam sistem semakin kecil. (ade)