DLH segera Uji Sample Air Sungai Cimanis, Jika Ada Perubahan Warna dan Bau Berpotensi Tercemar

DILIHAT LAGI: Rombongan tim dari DLH Kabupaten Cirebon melihat langsung lokasi ditemukannya ratusan ekor bangkai ayam di Sungai Cimanis, Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang. Sehari sebelumnya, tim dari Dinkes sudah turun ke lokasi. FOTO: ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON
DILIHAT LAGI: Rombongan tim dari DLH Kabupaten Cirebon melihat langsung lokasi ditemukannya ratusan ekor bangkai ayam di Sungai Cimanis, Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang. Sehari sebelumnya, tim dari Dinkes sudah turun ke lokasi.FOTO: ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON

CIREBON-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon akan segera melakukan uji sample air Sungai Cimanis di Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak bangkai ratusan ekor ayam terhadap lingkungan sekitar.

Kamis (11/7), rombongan dari DLH mengecek lokasi yang sehari sebelumnya sudah dicek Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon. Dalam kegiatan tersebut, selain melakukan pengamatan, DLH juga mendokumentasikan ratusan ekor bangkai ayam yang setiap harinya semakin mengeluarkan bau tidak sedap.

Kepala Bidang Penataan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan DLH Kabupaten Cirebon, Nur Alia Sumanti kepada Radar Cirebon mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan mengambil sample untuk kemudian dilakukan pengujian guna mengetahui sejauh mana dampak yang disebabkan bangkai-bangkai tersebut kepada lingkungan setempat, khususnya Sungai Cimanis.

“Yang pertama kita akan ambil sample dan lakukan pengujian untuk mengetahui dampak dari kejadian ini. itu penting karena akan menentukan langkah kita ke depan menyikapi kejadian ini,” ujarnya, kemarin, Rabu (11/7).

Diteruskan Lia, secara kasat mata indikasi pencemaran bisa dilihat dari perubahan warna dan perubahan bau. Namun demikian, hal tersebut haruslah dilihat juga dari analisis dan para meter lain. Sehingga, bisa didapatkan hasil yang komprehensif.

“Nanti kita lihat hasil labnya. Potensi terburuknya jika memang sudah tercemar. Air ini jangan digunakan untuk konsumsi ataupun sanitasi,” imbuhnya.

Sehari sebelumnya, rombongan dari Dinkes Kabupaten Cirebon juga datang ke lokasi. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, H Eni Suhaeni melalui Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan Dinkes Kabupaten Cirebon, Jajang Prihata kepada Radar Cirebon mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi dan dinas lainnya terkait upaya penanganan bangkai ratusan ekor ayam yang ada di Sungai Cimanis, Desa Sigong.

“Kalau kita inikan ke penanganan dampak, paparan terhadap manusia, untuk penanganan langsung bangkainya tentu kita harus berkoordinasi dengan instansi lainnya, seperti DLH misalnya,” ujarnya.

Sambil menunggu proses penanganan lanjutan tersebut, dia pun akan segera menghubungi puskesmas di beberapa wilayah yang dilewati air Sungai Cimanis tersebut, agar sementara waktu tidak menggunakan ataupun memanfaatkan air Sungai Cimanis, karena dikhawatirkan sudah terpapar bakteri ataupun dampak lainnya dari bangkai ratusan ekor ayam tersebut.

“Dalam waktu dekat, kita akan ambil sample airnya, apakah sudah terkontaminasi bakteri atau belum. Ini kan airnya tidak mengalir. Karena sedang kemarau, sehingga kita akan meminta puskesmas terdekat di sepanjang aliran Cimansi dari mulai Desa Sigong sampai dengan wilayah hilir untuk tidak menggunakan air sungai ini,” imbuhnya.

Hal tersebut dilakukan, menurut Jajang, untuk mencegah terjadinya persebaran penyakit yang mungkin disebabkan oleh keberadaan ratusan ekor bangkai ayam yang sudah dipastikan bukan milik warga sekitar.

“Banyak penyakit yang bisa muncul dari hal ini dari mulai diare, disentri, kolera dan sejumlah gangguan kesehatan lainnya. Imbauan kami bagi siapapun, jangan buang bangkai binatang di sungai. Ini berbahaya karena bisa mencemari sungai dan dampak buruknya bisa ke persoalan kesehatan,” jelasnya.

Sementara itu, warga sekitar Watno, kepada Radar Cirebon mengungkapkan, bangkai-bangkai tersebut dipastikan bukan berasal atau milik dari warga Desa Sigong. Pasalnya, di sekitar wilayah tersebut tidak ada peternakan ayam.

“Ini bukan dari warga sini, bisa jadi terbawa arus atau dibuang di wilayah dekat sini oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Warga otomatis terganggu, karena baunya begitu busuk dan warga, jadi takut untuk memanfaatkan air sungai buat pertanian, karena khawatir sudah tercemar sungainya,” ungkapnya.

Dia pun berharap, segera ada tindak nyata dari pihak terkait, baik untuk persoalan pembersihan sungainya dan mencari siapa pelaku pembuangan bangkai ayam tersebut, agar kemudian ditegur dan diberikan peringatan serta sanksi agar ke depan tidak terjadi lagi. “Harus dicari pelakunya. Ini bikin resah. Baunya tidak ilang-ilang. Apalagi air sungai sedang surut karena kemarau,” pungkasnya. (dri)