Dokumen Muller Ancam Donald Trump

Laporan Robert S. Mueller III membatasi penyelidikan hampir dua tahun yang menghasilkan tuduhan terhadap 25 warga negara Rusia dan beberapa rekan dekat Presiden Trump. (Ilustrasi: Los Angeles Times)

Kasus pemakzulan Bill Clinton bisa menjadi cermin bagi Demokrat yang berniat mencoba memakzulkan Trump. Walau sedang mengalami proses pemakzulan di DPR, Bill Clinton ternyata masih populer di kalangan pemilih. Oleh karena itu, di tingkat Senat, Bill Clinton dibebaskan dari pemakzulan.

“Mueller Report” telah berhasil menggiring media AS dan kubu Demokrat lebih banyak menyoroti upaya pemakzulan kepada Donald Trump. Akan tetapi, berdasarkan laporan sepanjang 448 halaman yang dibuat oleh seorang mantan Direktur FBI yang berlatar belakang hukum, tak ada kesimpulan legal terhadap tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Donal Trump. Mueller telah menunjukkan dengan berbagai bukti kejadian bahwa tak ada kesimpulan hukum yang dapat dituntutkan kepada Donald Trump.

Walaupun dalam bentuk buku telah menjadi best seller di Amazon dan terjual lebih dari 42.000 eksemplar sejak April 2019, tak semua pembeli “Mueller Report” telah membaca hasil laporan tersebut hingga habis. Dari jajak pendapat yang dilakukan oleh CNN di atas, hanya 3 persen dari responden tertarik untuk membaca habis laporan tersebut. Sisanya, hanya tertarik untuk mendapatkan salinannya dan membaca secara umum. Bisa jadi, mereka membeli buku tersebut semata tergerak karena isu konspirasi yang membumbui “Mueller Report”.

Bila membiarkan “Mueller Report” sebagai teks membela dirinya sendiri, kesimpulan utama yang perlu ditindaklanjuti oleh publik AS adalah bahwa Rusia terlibat campur tangan terhadap Pilpres AS 2016.

Keterlibatan Rusia yang dikonfirmasi dalam laporan tersebut patut menjadi perhatian lebih mengingat hal tersebut tidak hanya terjadi di Amerika. Menurut data dari Alliance for securing democraty, sejak tahun 2000, Rusia telah terlibat dalam urusan dalam negeri 40 negara dengan berbagai cara.

Para ahli selama ini melihat bahwa AS menggunakan sanksi ekonomi sebagai elemen utama melawan Rusia.  Pemerintahan Barack Obama pada akhir masa pemerintahannya sempat menjatuhkan sanksi kepada Rusia karena serangan siber pada Pilpres AS 2016. Donald Trump sendiri memperluas sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia pada 2018 karena alasan yang sama.

Sejak 2014, terdapat sekurangnya enam sanksi yang dijatuhkan oleh AS kepada Rusia terkait berbagai isu, mulai dari invasi Rusia terhadap Ukraina, campur tangan terhadap pemilu, pelanggaran HAM dan korupsi, perdagangan gelap dengan Korea Utara, mendukung pemerintahan Suriah, serta penggunaan senjata kimia.

Apakah sanksi tersebut efektif? Dalam kurun waktu sanksi AS diberlakukan sejak 2014, ekonomi Rusia memang cenderung menurun sejak 2013 hingga 2016 dan mulai membaik pada 2017.  Akan tetapi, semakin banyak sanksi yang diberikan AS, ternyata ekonomi Rusia malah mengalami kenaikan, terutama dari 2016 ke 2017 saat campur tangan Rusia terhadap Pilpres AS terjadi.

Oleh karena itu, “Mueller Report” memberikan pekerjaan rumah yang belum tuntas dikerjakan, yakni motif di balik campur tangan Rusia terhadap Pilpres AS 2016.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11