Dokumen Muller Ancam Donald Trump

Laporan Robert S. Mueller III membatasi penyelidikan hampir dua tahun yang menghasilkan tuduhan terhadap 25 warga negara Rusia dan beberapa rekan dekat Presiden Trump. (Ilustrasi: Los Angeles Times)

“Mueller Report” menunjukkan bahwa tim kampanye Donald Trump diuntungkan oleh campur tangan Rusia dalam Pilpres AS 2016. Motif yang lebih banyak diselidiki oleh “Mueller Report” berhubungan dengan tindakan Presiden Trump, apakah presiden bermaksud menghalangi proses hukum. Belum tampak motif yang menjelaskan tindakan Rusia mencampuri urusan dalam negeri AS.

Satu-satunya motif Rusia yang muncul adalah motif uang yang disebutkan dalam jual-beli informasi tentang Hillary Clinton. Dalam “Mueller Report” diceritakan bahwa seorang pebisnis Rusia yang tinggal di Florida, Henry Oknyansky, mencoba menawarkan informasi tentang Hillary Clinton kepada tim kampanye Donald Trump. Ia dijanjikan pembagian dari hasil penjualan informasi yang bernilai ratusan ribu dollar AS.

Bila melibatkan urusan negara, tampaknya uang sejumlah itu tersebut terlalu kecil bagi pemerintah Rusia dengan memberikan keuntungan elektoral bagi Donald Trump alih-alih kepada Hillary Clinton. Lantas apa motif Rusia?

Beberapa kajian telah dilakukan dan memunculkan minimal dua alasan utama. Pertama alasan bahwa Hillary diasosiasikan dengan Obama yang telah membuat malu banyak pejabat Rusia dengan pengungkapan nama-nama mereka dalam Panama Papers. Para pejabat Rusia yang marah dengan pengungkapan Panama Papers mencoba untuk membalas dendam sehingga mencampuri pilpres AS 2016.

Selain itu, The New York Times juga pernah menurunkan laporan panjang tentang relasi Trump dan Putin. Dalam tulisan tersebut, disebutkan bahwa terciptanya hubungan baik Rusia dan Trump akan menjauhkan AS dari Eropa dan NATO sebagai lawan Rusia. Pendapat ini disimpulkan dari ucapan Trump yang beberapa kali menyatakan keinginan untuk menarik AS dari NATO.

Sampai saat ini, Komite Kehakiman DPR terus mencoba mendalami Mueller Report. Mereka berusaha menghadirkan Mueller untuk ditanyai. Di sisi lain, Donald Trump terus mencoba menghindar dari usaha untuk terus memperdalam penyelidikan tentang peran Rusia dalam pilpres AS 2016.

“Mueller Report” hanyalah salah satu dari beberapa investigasi yang sedang berlangsung. Selain itu, Kongres dapat melanjutkan investigasi hingga 2020 dengan menggunakan pengacara dari Departemen Kehakiman.

Dengan waktu jabatan Trump yang tinggal satu tahun lagi, kubu Demokrat kemungkinan besar akan terus menggoreng isu ini hingga pemilu presiden 2020. Di dalam negeri, Trump akan selalu dihantui dengan ketakutan terhadap investigasi langsung terhadap dirinya, bahkan terhadap usaha pemakzulan.

Akan tetapi, bila memang tidak melakukan apa pun mengapa harus panik? Bagaimana pun dalam sejarah belum pernah terjadi seorang Presiden AS dimundurkan karena pemakzulan. (*)

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11