Dokumen Muller Ancam Donald Trump

Laporan Robert S. Mueller III membatasi penyelidikan hampir dua tahun yang menghasilkan tuduhan terhadap 25 warga negara Rusia dan beberapa rekan dekat Presiden Trump. (Ilustrasi: Los Angeles Times)

Penyelidikan terkait Rusia dan Pilpres AS 2016 ini kemudian dilanjutkan dengan penunjukkan Robert Mueller sebagai Penasehat Khusus. Di saat inilah, ucapan Trump bahwa inilah akhir dari masa kepresidenannya terlontar.

Dengan dilanjutkannya penyelidikan, kemarahan Presiden Trump lantas diarahkan kepada Kementerian Kehakiman, terutama kepada Jaksa Agung Jeff Sessions sebagai pemimpin Kementerian Kehakiman.

Sebagai Jaksa Agung, Sessions dianggap membiarkan deputinya, Rod Rosenstein, menunjuk Penasehat Khusus untuk menyelidiki kasus yang diduga melibatkan sang Presiden.

Sebagai Penasehat Khusus, Mueller mendapat mandat untuk mengadakan penyelidikan terhadap setiap hubungan antara Pemerintah Rusia dan mereka yang terlibat dalam tim kampanye kandidat presiden Donald Trump.

Selain itu, sang Penasehat Khusus, yang juga mantan Direktur FBI, ini, juga berhak menyelidiki setiap dokumen yang ditemukan dalam proses penyelidikan. Bahkan, ia berhak untuk memproses secara hukum kejahatan federal yang timbul dari penyelidikan yang dilakukannya.

Dalam “Mueller Report” disebutkan bahwa Sessions dianggap tidak loyal kepada Trump dan diminta untuk mengundurkan diri. Atas permintaan tersebut, Sessions segera membuat surat pengunduran diri dan diserahkan kepada Trump. Trump menolak pengunduran diri Session, akan tetapi tetap menyimpan surat pengunduran diri tersebut sehingga posisi Sessions terjepit.

Selain meminta Sessions mengundurkan diri, Trump mencoba cara lain untuk mengganti Robert Mueller. Dalam “Mueller Report”, diceritakan bahwa Trump memanggil Penasehat Gedung Putih Donald McGahn. McGahn diminta untuk memanggil Pejabat Jaksa Agung, Rod Rosenstein, untuk meminta Rosenstein mengganti Robert Mueller. Akan tetapi, pesan tersebut tidak disampaikan oleh McGahn. Bahkan, McGahn malah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Lewat jalan lain, melalui mantan manajer kampanyenya, Corey Lewandowski, Trump menitipkan pesan kepada Jaksa Agung Jeff Sessions. Menurut Trump, penyelidikan yang diarahkan kepada dirinya sangat tidak adil. Sama seperti McGahn, Lewandowski tidak menyampaikan pesan tersebut.

Akhirnya, pada musim panas tahun 2017, Trump kembali memanggil Jaksa Agung Jeff Sessions. Ia meminta agar tidak diselidiki dalam investigasi yang sedang dilakukan oleh Penasihat Khusus. Permintaan tersebut diulangi lagi pada Desember 2017. Trump menyarankan agar Sessions mengambil alih investigasi terhadap campur tangan Rusia dalam pilpres AS 2016. Saran tersebut tidak ditindaklanjuti oleh Sessions.

Di sisi lain, penyelidikan yang dilakukan oleh Penasehat Khusus terus berlanjut. Bahkan, diberitakan oleh CNN bahwa Sessions sendiri juga ikut diinvestigasi oleh tim Penasehat Khusus, seperti yang juga dilakukan kepada mantan Direktur FBI James Comey pada Januari 2018.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11