Dokumen Muller Ancam Donald Trump

Laporan Robert S. Mueller III membatasi penyelidikan hampir dua tahun yang menghasilkan tuduhan terhadap 25 warga negara Rusia dan beberapa rekan dekat Presiden Trump. (Ilustrasi: Los Angeles Times)

Setelah 9 bulan berada dalam posisi “digantung” oleh Trump, pada November 2018, Sessions akhirnya dipecat. Posisinya diganti oleh Penjabat Jaksa Agung, Matthew Whitaker.

Pemecatan Direktur FBI James Comey dan Jaksa Agung Jeff Sessions oleh Trump mendapat sorotan khusus oleh tim investigasi Penasehat Khusus. Dalam laporan yang dibuat oleh Mueller, tindakan-tindakan Trump selama penyelidikan berlangsung dimasukkan dalam bagian dugaan menghalangi proses hukum (obstrac justice) oleh Trump.

Dalam laporan yang dibuat Mueller, berbagai tindakan Trump menunjukkan bahwa Trump tidak suka untuk diselidiki secara langsung.  Akan tetapi, Mueller sendiri tidak sampai pada kesimpulan bahwa Trump telah menghalangi proses hukum.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar, mengapa Trump terkesan takut dengan penyelidikan yang sedang ditujukan Mueller kepadanya? Siapakah Mueller?

Sebelum menjadi Penasehat Khusus, Robert Swan Mueller III lebih dikenal sebagai Direktur FBI yang menjabat selama 12 tahun. Ia menjadi Direktur FBI terlama kedua setelah J. Edgar Hoover, pendiri FBI yang memimpin lembaga federal itu selama 37 tahun.

Mueller lahir di Manhattan pada 1944 dari keluarga yang berkecukupan. Ia dibesarkan di Princeton, New Jersey, hingga lulus kuliah politik di Universitas Princenton.

Selama kuliah, ia dikenal sebagai pribadi yang serius, berdedikasi, berpikiran cerdas, sangat berkepribadian, dan fokus. Akan tetapi, ia juga dikenal sebagai pribadi yang memilih menghindar saat diejek sebagai cara untuk menyatakan ketidaksetujuannya.

Selesai kuliah, Mueller bergabung dengan Angkatan Laut AS dan dikirim ke Vietnam pada 1968. Di sana, Letnan Dua Mueller, yang telah terlatih menjadi peggerak tim sejak kuliah, memimpin satu peleton pasukan dan tercatat berhasil memenangkan dua pertempuran.

Pulang dari Vietnam, Mueller melanjutkan kuliah di Universitas Virginia untuk belajar hukum hingga lulus pada 1973. Latar belakang hukum mengantarnya bekerja di bidang hukum di San Fransisco dan Boston. Pada 1990, Mueller masuk ke Departemen Kehakiman sebagai Kepala Divisi Kriminal.

Di waktu itu, Mueller mulai bertemu dengan William Barr yang menduduki posisi sebagai Deputi Jaksa Agung. Relasi Mueller dan Barr terlihat cukup dekat. Hal itu terlihat dari relasi istri keduanya yang saling mengenal dan tergabung dalam kegiatan keagamaan yang sama. Bahkan, mereka juga saling menghadiri pesta pernikahan anak mereka masing-masing.

Selanjutnya, Barr diangkat menjadi Jaksa Agung pada 1991 hingga 1993 pada masa Presiden George HW Bush. Di masa Trump, William Barr kembali diangkat menjadi Jaksa Agung pada 2019 menggantikan Jeff Sessions.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11