Dokumen Muller Ancam Donald Trump

Laporan Robert S. Mueller III membatasi penyelidikan hampir dua tahun yang menghasilkan tuduhan terhadap 25 warga negara Rusia dan beberapa rekan dekat Presiden Trump. (Ilustrasi: Los Angeles Times)

Pada 2001, Mueller diangkat menjadi Direktur FBI oleh George W. Bush dan turun pada masa pemerintahan Barrack Obama. Saat harus mengganti Mueller pada 2011, Obama sempat kesulitan mencari pengganti yang tepat sehingga memberikan tambahan waktu dua tahun bagi Mueller. Mueller akhirnya diganti pada 2013 oleh James B. Comey.

Sebagai Direktur FBI, ujian bagi Mueller muncul tepat satu minggu setelah pelantikannya: serangan bom teroris pada 11 September 2001. Dengan tekanan situasi yang sangat berat, selama masa kepemimpinanya Mueller berhasil membawa FBI sebagai biro investigasi modern yang patuh pada hukum.

Peran Mueller yang paling diingat adalah penolakannya terhadap ide Presiden George Bush meminta Nasional Security Agency (NSA) memata-matai warga AS dalam rangka kegiatan kontraterorisme. Konsisten dengan sikapnya di waktu kuliah saat tidak setuju dengan sesuatu, Mueller mengancam mundur apabila Bush berkukuh melaksanakan niatnya. Tindakan Mueller tersebut berhasil membuat Presiden Bush melunak dan tak meneruskan niatnya.

Dikenal sebagai pribadi yang irit berbicara dan tampil di muka publik, bahkan terkesan misterius, Mueller tetap mempertahankan sikapnya saat menjabat sebagai Penasehat Khusus. Mueller, yang selalu berpakaian formal dan rapi laksana Frank Sinatra era 1956 ini, tidak pernah mau melayani pertanyaan doorstop maupun wawancara selama menjalankan tugas sebagai Penasehat Khusus. Ia lebih sering memilih untuk diam.

Sangat mungkin bahwa sikap diam inilah yang membuat Trump gentar. Trump tidak dapat menduga sikap Mueller selain latar belakang bahwa Mueller merupakan seorang mantan direktur FBI yang teguh pada pendiriannya. Terlebih, sikap ini bertolak belakang dengan Trump yang gemar berpendapat di media sosial.

Sikap Mueller yang lebih memilih diam dan menunjukkan hasil kerja yang nyata dapat dilihat sebagai kerangka untuk melihat hasil laporannya setebal 448 halaman. Dalam laporan tersebut Mueller tidak sampai pada kesimpulan bahwa Presiden Donald Trump menghalangi proses hukum. Akan tetapi, the devil is in the detail.Detail memainkan peran yang sangat penting.

Latar belakang hukum dan pengalaman bertugas sebagai penegak hukum membuat Mueller sangat hati-hati dalam menilai sesuatu. Seperti kalimat-kalimat hukum yang sangat memerhatikan detail, laporan Mueller sebagai ePenasihat Hukum sangat kaya dengan detail dalam kronologi peristiwa yang sedang diceritakan.

Dengan bahasa yang sangat distingtif, laporan tersebut mencoba untuk membedakan tiga kata, kolusi (collution), konspirasi (conspiracy), dan koordinasi (coordination). Alih-alih kolusi, tim investigasi menggunakan kerangka konspirasi untuk menilai setiap tindakan para tokoh yang terlibat dalam kasus campur tangan Rusia di Pilpres AS 2019.

Istilah kolusi memang sering digunakan dalam komunikasi dengan Penjabat Jaksa Agung dalam ruang lingkup penyelidikan. Akan tetapi, laporan tersebut menegaskan bahwa kolusi bukanlah pelanggaran dalam UU di AS maupun hukum pidana federal.

Penggunaan kerangka tersebut sengaja dijelaskan di awal laporan untuk memberi gambaran bahwa walaupun terdapat hubungan antara tokoh-tokoh yang diselidiki dengan pihak Rusia, tak dapat disimpulkan bahwa mereka telah melakukan konspirasi maupun koordinasi.

Laporan tersebut diserahkan kepada Jaksa Agung William Barr pada 22 Maret 2019. Selanjutnya, Barr melaporkan hasil penyelidikan Mueller kepada Kongres pada 24 Maret 2019 dalam rangkuman 4 halaman.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11