Dokumen Muller Ancam Donald Trump

Laporan Robert S. Mueller III membatasi penyelidikan hampir dua tahun yang menghasilkan tuduhan terhadap 25 warga negara Rusia dan beberapa rekan dekat Presiden Trump. (Ilustrasi: Los Angeles Times)

Persoalan menjadi meluas setelah pada 30 April 2019 surat Mueller kepada Barr yang ditulis pada 27 Maret 2019 tersebar di media. Jaksa Agung William Barr kemudian dipanggil oleh  Komite Kehakiman Senat untuk melakukan dengar pendapat pada 1 Mei 2019.

Hampir seluruh surat kabar AS yang terbit pada 2 Mei 2019 kemudian menjadikan pertemuan Barr dengan Senat sebagai sajian halaman muka pemberitaannya. The New York Times menuliskan bahwa di bawah tekanan, Barr membela diri terhadap tindakannya terhadap “Mueller Report”.

Para pembuat undang-undang berdebat, Barr membela diri tentang caranya menangani “Mueller Report”, demikian tulis USA Today.

Barr membela diri bahwa dalam komunikasi telepon dengan Mueller setelah ia menerima kritikan, yang menjadi fokus surat Mueller adalah urgensi untuk merilis laporan kepada publik. Dengan merilis hasil investigasi Mueller kepada publik, Barr merasa bahwa telah menjawab kritik Mueller.

 Financial Times menambahkan bahwa selama dengar pendapat, Barr membela diri dari anggapan Mueller bahwa ia menciptakan kebingungan atas hasil penyelidikan Penasehat Khusus. The Wall Street Journal menambahkan bahwa Jaksa Agung juga mengkritik keputusan Mueller karena tidak menyimpulkan tentang tindakan Trump menghalangi proses hukum.

Dalam pertemuan tersebut, Barr disudutkan terutama oleh kubu Demokrat. Halaman muka Chicago Tribune menyebutkan bahwa para senator dari partai Demokrat menuduh Barr telah berbohong kepada Kongres pada 24 Maret 2019. Barr dianggap tidak menyampaikan hasil penyelidikan Mueller secara menyeluruh sehingga menciptakan kebingungan.

Demokrat juga menilai bahwa Barr lebih bertindak sebagai antek Presiden Trump daripada sebagai pelayan keadilan. Pendapat senada dilontarkan oleh The Washington Post dengan menuliskan berita bahwa Barr berbicara untuk dirinya sendiri dan membela sang presiden.

Suasana debat di Senat yang notabene masih dikuasai Partai Republik tersebut cukup panas. Kemungkinan besar, situasi akan semakin panas dalam rapat dengar pendapat di DPR yang dikuasai kubu Demokrat pada 2 Mei 2019. Oleh karena itu, The New York Times menuliskan bahwa Barr menolak hadir dalam rapat dengar pendapat yang diadakan oleh Komite Yudisial DPR pada tanggal 2 Mei 2019.

Ketua DPR Nancy Pelosi mengomentari dengar pendapat di Senat. Ia menyatakan bahwa Barr telah melanggar hukum saat bersaksi kepada Kongres karena tidak menyatakan kebenaran. Hal ini menambah panas suasana dan meruncingkan perseteruan Demokrat yang berniat melakukan pemakzulan terhadap Trump.

Berdasarkan laporan lengkap Mueller yang dirilis Departemen Kehakiman pada 18 April 2019, kubu Demokrat mulai mempertimbangkan untuk melakukan pemakzulan terhadap Donald Trump. Usaha itu dimulai dengan memanggil Jaksa Agung untuk dengar pendapat terkait rangkuman Barr atas “Mueller Report”.

Dengan menguasai suara mayoritas di DPR, Demokrat memiliki kesempatan untuk  membawa proses pemakzulan ke DPR dan Senat. Pengalaman dengan Bill Clinton menunjukkan adanya kemungkinan proses pemakzulan dilakukan oleh DPR.

Selain itu, pemecatan yang dilakukan Trump terhadap Direktur FBI dan Jaksa Agung memunculkan ingatan akan Saturday Night Massacre di zaman Richard Nixon. Nixon sempat memecat petinggi di Departemen Kehakiman dan FBI kemudian mengganti dengan para loyalisnya. Ingatan tersebut membuat para pendukung ide pemakzulan Trump bersemangat karena dalam sejarah Richard Nixon hampir berhasil dimakzulkan sebelum akhirnya dia lebih dulu mengundurkan diri.

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11