Dubes Australia Kunjungi MUI Bahas Pernyataan Kontroversial Fraser Anning Hingga Teror di Masjid Selandia Baru

Dubes Australia Sambangi MUI (Foto. Gary Quilan @DubesAustralia)

Pernyataan kontroversial dari seorang Senator Australia Fraser Anning telah menjadi sorotan dunia. Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan mengatakan, pernyataan Anning juga tidak diterima oleh masyarakat dan Parlemen Australia, juga oleh pimpinan agama manapun di negara itu.

Menurut Gary, masyarakat Australia dan dunia sedang berkabung. Namun  Anning malah memberikan pernyataan yang tidak bisa diterima.

Ia pun menjelaskan bahwa pemerintah Australia sulit untuk mendeteksi kelompok kulit putih radikal yang ada.

Pernyataan Fraser pun tidak mewakili pemerintah Australia, serta ditolak secara tegas oleh sejumlah partai politik di Australia. Gary pun menyebut Fraser memang memiliki pemahaman yang ekstrim.

“Saya pikir ini menjadi permasalahan bahwa kami memiliki sedikit jumlah dari kelompok ekstrimis kanan,” kata Gary dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta Pusat, pada Selasa (19/3/2019).

Gary mengatakan bahwa Australia menolak keberadaan mereka, tetapi mereka sulit dideteksi.

“Aksi teror ini mengingatkan kami bahwa ini permasalahan yang serius dan kami perlu untuk lebih memerhatikan permasalahan ini,” kata Gary.

Gary pun menjelaskan baik dari pihak kepolisian Selandia Baru, maupun Australia, masih menginvestigasi dari mana akar pemahaman radikal yang dimiliki Brenton.

“Pihak kepolisian, baik dari pihak Australia dan Selandia Baru, masih menginvestigasinya dan melihat sejarahnya,” kata Gary.

Gary pun meminta maaf atas pernyataan Fraser yang menimbulkan kontrovensi.

Sikap dan komentar seperti itu, menurut Gary, mengingatkan masyarakat dunia terutama bangsa Australia agar meningkatkan kewaspadaan. Khususnya kepada pihak yang senantiasa mengobarkan rasa kebencian di tengah publik.

“Oleh karena itu, mereka ini bergabung dengan kelompok yang bernama right wing (sayap kanan). Ini adalah sebuah organisasi dan partai politik yang anti-imigran di Australia. Mereka itu sebetulnya adalah kelompok-kelompok manusia yang secara kejiwaan sakit,” jelasnya.

Pada 2 April 2019 ini, kata Gary, akan ada pemilihan legislatif dan pemilihan senator di Australia. “Pasti orang seperti beliau (Anning) tidak akan diterima dan dipilih oleh bangsa dan rakyat Australia,” ungkapnya.

Pada Juni mendatang, Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Presiden RI Joko Widodo akan menghadiri G20. Di sana, keduanya akan mencanangkan agar Google, Facebook, dan platform lain untuk memberi peringatan atau aturan kepada yang memberikan ujaran kebencian.

“Sesungguhnya, Australia sudah menjadi pionir pentingnya dialog antar agama. Sudah banyak kunjungan yang dilakukan oleh para pimpinan agama antara Indonesia dan Australia,” kata Gary.

Gary Francis Quinlan mengklarifikasi pernyataan Senator Australia, Fraser Anning. Fraser menuduh imigran Muslim sebagai penyebab teror yang terjadi di masjid Selandia Baru, adalah bentuk ujaran kebencian.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah pihak pemerintah dan partai politik di Australia pun mengecam pernyataan Fraser. Lebih jauh lagi, ucapan Fraser tak lain adalah bentuk ujaran kebencian.

“Imigrasi muslim juga tentunya bebas datang ke Australia,” katanya dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta Pusat, pada Selasa (19/3/2019).

Gary mengatakan bahwa sekali pun imigran Muslim di australia jumlahnya tidak banyak, tetapi mereka terbuka dengan perbedaan yang ada.

“Populasi muslim di Australia sebenarnya sangat kecil. Berkembang cukup cepat, tapi tetap sangat kecil. Hanya sekitar 700-800 ribu orang, dibanding total populasi sebesar 25 juta orang,” kata Gary.

Gary juga mengatakan bahwa sejarah Muslim di Australia juga sudah panjang.

“Muslim pertama yang datang ke Australia pada abad ke 19 adalah pedagang atau penggembala unta dari Afghanistan. Dan hasilnya saat ini Australia memiliki unta lebih banyak dibanding negara lain,” ujarnya.

Dengan itu, Gary mengatakan pernyataan Fraser juga justru menimbulkan penolakan dari internal pemerintahan dan partai politik di Australia.

 

“Pada saat Perdana Menteri Morrison terpilih pada Agustus 2018, negara yang beliau kunjungi pertama kali adalah Indonesia, dan sudah bertemu dengan mitranya, Presiden Joko Widodo, dan masalah yang dibahas saat itu salah satunya adalah masalah dialog antar agama,” katanya. (*)