Edisi Idul Adha: Percobaan Pembunuhan Bung Karno Saat Shalat Idul Adha

Bangsa kita memiliki kisah dramatis pada saat momen Idul Adha. Kisah itu bercerita tentang sebuah momen tragedi. Bagaimana tidak?! Kisah itu sendiri dialami oleh Bapak Presiden pertama kita yaitu Soekarno. Seperti yang  diungkap dalam autobiografi Mangil Martowidjojo  Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967. 

Minggu pagi 13 Mei 1962. Rumah Mangil Martowidjojo kedatangan Komandan Pengawal Istana Presiden di Jakarta, Kapten CPM Dachlan. Ada kabar maha penting yang tak hanya perlu didengar, tapi ditanggulangi: ada usaha pembunuhan dari kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) terhadap Presiden Sukarno tepat di hari umat Islam merayakan Idul Adha. Di hari itu, Sukarno dan beberapa tokoh agama akan melakukan shalat Id di halaman Istana—yang terbuka bagi siapa saja.

Esoknya, pada 14 Mei 1962, tepat hari ini 56 tahun lalu, pagi-pagi buta Mangil sudah datang ke tempat di mana Sukarno akan melaksanakan shalat berjamaah, yakni di lapangan antara Istana Merdeka dengan Istana Negara. Semua sudut diperiksa Mangil dan bawahannya. Mangil sudah merencanakan adanya enam pos, yang masing-masing ditempati dua pengawal presiden dengan bersenjatakan Senapan AR-15 (versi sipil M-16). Itu semua dilakukan demi mengantisipasi adanya serangan bersenjata dari luar.

Ketika peserta shalat Id mulai berdatangan, pasukan pengawal pimpinan Dachlan memeriksai mereka. “Akan tetapi, lantas kami minta dengan hormat agar menempatkan diri masing-masing di baris ke lima,” aku Mangil dalam autobiografinya Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999: 331).

Mangil dan pimpinan pengawal mendapat pemberitahuan dari Kepala Rumah Tangga Istana Soehardjo Hardjowardojo tentang siapa saja di barisan pertama hingga keempat. Nantinya, baris pertama, selain ada Sukarno, diisi juga oleh personil-personil Angkatan Darat; baris kedua Angkatan Laut; baris ketiga Angkatan Udara; dan baris keempat Angkatan Kepolisian. Namun, di belakang baris pertama itu tercampur aduk antara kalangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan masyarakat umum.

Ketika Mualif Nasution, sekretaris pribadi Sukarno, menyuruh para Jemaah berdiri untuk merapatkan barisan, anak buah Mangil tersebar selang-seling di belakang Sukarno. Mangil dan Sudiyo menempatkan diri di depan presiden, menghadap orang-orang yang shalat. Itu semua demi keamanan Sukarno.

Di luar tempat shalat, banyak pasukan dari Corps Polisi Militer (CPM) berjaga. Di antara CPM itu ada juga yang ikut shalat di barisan belakang. Letnan Dua CPM H.W. Sriyono juga ikut shalat di situ. Menurut Sriyono, yang sejak 1952 menjaga Sukarno, sejak dirinya masih berpangkat Sersan Mayor, kala itu para pengawal terdiri atas pasukan dari korps Brigade Mobil (Brimob) yang disiagakan di ring satu. Sementara itu di ring luar terdapat pasukan dari CPM.

Halaman: 1 2 3