Ekonomi Sulit, Kaum Muda Korsel Ogah Pacaran

korea-selatan-pixabay
Ilustrasi. Foto: Pixabay.com

SEOUL – Mayoritas penduduk Korea Selatan pada rentang usia 20-44 tahun masih jomblo. Mereka tak mau dan tak sempat menjalin hubungan asmara. Kesibukan dan tak yakin dengan penghasilan menghambat kisah percintaan.

Kim Joon-hyup baru saja pergi kencan. Itu kencan pertamanya dalam tiga tahun belakangan ini. Tapi, gadis yang dikencaninya juga bukan pacar. Dia hanya teman kuliah. Kencan yang mereka jalani juga bukan sungguhan. Hanya tugas kuliah.

Di Sejong University, Seoul, ada yang namanya mata kuliah gender and culture. Mahasiswa akan diajari berbagai hal tentang kencan, cinta, seks, bagaimana menghadapi putus hubungan, dan berbagai hal lainnya.

Yang paling terkenal dari mata kuliah tersebut adalah tugas kencan tadi. Siswa dibagi secara acak untuk mencoba berkencan selama 4 jam.

”Ada mahasiswa yang tidak pernah kencan sama sekali. Ada yang ingin mencari peluang pasangan dengan kencan seperti ini,” ujar salah seorang instruktur pengajar Bae Jeong-weon sebagaimana dikutip CNN.

Kelas belajar kencan dan berpasangan itu kian dibutuhkan di Korsel. Sebab, kini kian banyak pemuda yang jomblo. Berdasar penelitian Korea Institute for Health and Social Affairs (KIHSA) yang dirilis 2018, mayoritas penduduk usia 20-44 tahun belum menikah.

Dari yang belum menikah itu, hanya 26 persen laki-laki dan 32 persen perempuan yang punya pacar. Sisanya jomblo sejati. Sebanyak 51 persen laki-laki dan 64 persen perempuan yang tidak kencan menyatakan mereka memang memilih untuk single saja.

Tekanan ekonomi dan sosial membuat para pemuda di Korsel enggan berkencan. Tahun lalu total angka penganggur mencapai 3,8 persen. Itu tertinggi sejak 17 tahun lalu. Dari jumlah tersebut, 10,8 persennya adalah penduduk usia 15-29 tahun. Mereka yang lulus kuliah harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan pekerjaan tetap.

Karena itulah, mereka tak punya waktu, uang, dan kapasitas emosional untuk pergi kencan. Waktu luang yang dimiliki digunakan untuk ikut kursus agar punya berbagai sertifikat. Harapannya itu bisa membuat prospek mereka mendapat kerja kian besar.

”Karir adalah yang paling penting di hidup saya. Jika saya kencan sembari mencari kerja, saya akan bingung dan tidak bisa berkomitmen di hubungan kami,” terang Lee Young-seob. Pemuda 26 tahun itu baru lulus kuliah.

Biaya kencan juga tergolong mahal. Perusahaan perjodohan Duo memperkirakan, rata-rata biaya per kencan adalah KRW 63.495 atau setara Rp 774 ribu. Padahal, upah minimal rata-rata adalah KRW 8.350 per jam atau Rp 102 ribu. Butuh kerja 7,6 jam untuk membiayai satu kali kencan.

Berdasarkan survei periset online Embrain, 81 responden mengatakan biaya kencan itu menjadi tekanan tersendiri dalam hubungan. Karena itu, meski menyukai seseorang, mereka tidak akan berkencan jika situasi ekonominya tidak baik.

Nah, di kelas gender and culture tadi para mahasiswa yang menjalani tugas kencan punya satu aturan. Yaitu, dilarang menghabiskan uang di atas KRW 10 ribu atau Rp122 ribu per kencan. Mereka dituntut kreatif. ”Ada banyak cara untuk bersenang-senang tanpa menghabiskan terlalu banyak uang,” ujar Bae Jeong-weon.

Selain masalah uang, kekerasan seksual menyebabkan banyak orang enggan berkencan. Sepanjang 2017, terdapat 32 ribu kasus kekerasan seksual yang dilaporkan ke polisi. Hampir separonya dilakukan pasangan sendiri. Mereka juga takut pasangannya akan merekam saat sedang berhubungan seksual. Skandal seks yang melanda bintang K-Pop baru-baru ini kian membuat pelik situasi. (sha/c4/sof)