Evakuasi Disetop, Foto Mahasiswi asal Kuningan Ikut Disebar di Wilayah Palu

Nasional
Poster-Korban-Hilang-Akibat-Gempa-dan-Likuefaksi-Palu14e422f05b68cc0139988e128ee880dfFoto-foto korban gempa dan tsunami yang belum ditemukan disebar di sejumlah titik di Palu.FOTO:ABE BANDOE/FAJAR

JAKARTA- Evakuasi korban gempa dan tsunami Palu dihentikan. Kini fokus rekonstruksi dan rehabilitasi. Untuk fase transisi, memulihkan kondisi ekonomi menjadi prioritas. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, timnya akan bekerja kolektif menghitung jumlah kerugian.

“Itu akan menjadi tugas tim assestment yang akan menghitung berapa total kerugian. Akan ada beberapa tahap agar pembangunan bisa segera dilakukan. Aspek ekonomi menjadi salah satu pertimbangan dalam melakukan relokasi nantinya,” ujarnya di Gedung BNPB, Jakarta.

Sutopo menjelaskan, proses rehabilitasi akan dilakukan beberapa tahap. Mulai menghitung jumlah kerusakan, lalu menyusun rencana. Dari rencana itu, kata dia,  kemudian dibuat formulasi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi. Rumusan tersebut, lalu dijalankan untuk melakukan proses pembangunan. “Dan, kita perkirakan untuk periode relokasi dan transisi kita butuh waktu kurang lebih selama dua tahun, yakni 2019-2021,” ungkapnya.

Poster-Korban-Hilang-Akibat-Gempa-dan-Likuefaksi-Palu900c563bfd2c48c16701acca83ad858a
Nining Khoiriyahmahasiswi Universitas Tadulako Palu asal Tajur Buntu, Pancalang, Kabupaten Kuningan yang hilang di Palu.
FOTO:ABE BANDOE/FAJAR

BNPB juga memutuskan untuk menghentikan proses evakuasi korban hingga Jumat (12/10) sore nanti. Kondisi mayat yang hancur dan membusuk jadi pertimbangan. Olehnya, Sutopo menerangkan, masyarakat diimbau untuk tak melakukan evakuasi secara mandiri. “Karena itu sangat berisiko bagi kesehatan. Jika memang dipaksakan, kami akan memberi pengertian agar hal itu diurungkan saja,” ungkapnya.

Masa tanggap darurat diperpanjang hingga 26 Oktober. Data BNPB juga menunjukkan selama evakuasi berlangsung sejak 28 September hingga kemarin, total 2.159 korban berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan. Dari jumlah tersebut, hanya 86 orang yang ditemukan dalam kondisi masih hidup. “Sisanya 2.073 korban telah meninggal. Rinciannya, sebanyak 1.663 ditemukan di Palu, 171 di Donggala, 223 Sigi, Parigi sebanyak 15 korban, dan satu jenazah di Pasang Kayu,” ungkapnya.

Sementara itu, di beberapa titik di Kota Palu, kemarin, dipajang foto-foto korban yang belum ditemukan. Salah satu foto yang ikut dipajang adalah Nining Khoiriyah, mahasiswi Universitas Tadulako Palu. Nining Khoiriyah berasal dari Desa Tajur Buntu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan. Dia merupakan alumni SMAN 1 Mandirancan.

Membangun hunian sementara (huntara) kini menjadi prioritas. Ini agar proses ekonomi bisa segera normal. Sutopo menjelaskan, pembangunan huntara dilakukan pada masa transisi darurat menuju pemulihan. “Pembangunan ditargetkan akan selesai selama dua bulan yang dilakukan oleh Kementerian PUPR. Beberapa bantuan non pemerintah untuk bantuan itu mulai berdatangan. Dari NGO, lembaga sosial, hingga dari dunia usaha,” kata Sutopo.

Untuk rencana pembangunan hunian tetap di daerah Duyu dan Ngata Baru, Kementerian ESDM masih mengkaji kelayakan lokasi. Kedua daerah itu akan ditempati oleh warga yang berasal dari Petebo dan Perumnas Balaora.

Sementara itu, jumlah aparatur sipil negara (ASN) yang meninggal pada peristiwa gempa dan tsunami di Sulteng mencapai 86 orang. Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri Soni Sumarsono mengatakan jumlah abdi negara yang meninggal itu tersebar pada beberapa lokasi. “Untuk ASN Pemkot Palu 3 orang. Sementara di Pemprov Sulteng 22 orang meninggal,” ujarnya di Gedung Kemendagri, Jakarta, Kamis (11/10).

Soni menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan dispensasi khusus untuk para keluarga korban. “Kita sementara ndata untuk detail keluarga bagi para korban,” ungkap Soni. Saat ini aktivitas pemerintah di Sulteng juga sudah mulai normal. Soni optimistis para PNS sudah bisa bekerja kembali melayani masyarakat. Terutama hal yang berkaitan proses administrasi kependudukan. (RDI/FIN)