Event Cirebon Festival Digelar tanpa Bantuan APBD, Iing Daiman Jadi Ketua Panitia Bersama

Ketua Tim Pelaksana Smart City, Iing Daiman bersama jajaran Fores International Event Organizer rapat di Gedung Command Center DKIS Kota Cirebon, Selasa (8/1). FOTO:JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON
Ketua Tim Pelaksana Smart City, Iing Daiman bersama jajaran Fores International Event Organizer rapat di Gedung Command Center DKIS Kota Cirebon, Selasa (8/1).FOTO:JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON

CIREBON-Event Cirebon Festival (Cifest) dipastikan digelar 16 Februari. Persiapan pun dilakukan untuk menggelar helatan berskala internasional tersebut. Dalam menggelar Cifest ini, Pemkot Cirebon bakal bekerjasama dengan event organizer yang biasa melaksanakan acara-acara berskala internasional. Bahkan, tanpa menggunakan APBD.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon Iing Daiman SIP MSi mengatakan, event ini diharapkan dapat menjadi alat untuk branding pariwisata Kota Cirebon. Juga untuk memasarkan enam elemen smart city, yang di dalamnya ada city branding. “Bagaimana mengangkat Kota Cirebon ini dari branding-nya. Lewat Cifest ini kita tampilkan muatan lokalnya,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Iing sendiri ditugaskan Wakil Walikota Dra Hj Eti Herawati dan Sekretarus Daerah Drs H Asep Deddi MSi untuk membentuk kepantiaan bersama. Penugasan ini lantaran ia juga menjabat ketua pelaksana Smart City.

Dalam perencanaanya, Cifest akan menampilkan kolaburasi seniman dan budayawan lokal maupun nasional. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan lintas SKPD untuk membangun pariwisata Kota Cirebon. Karena prinsipnya, dalam membangun pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. “Ini tidak hanya pemerintah saja, apalagi hanya satu dinas. Artinya harus ada kolaburasi. Kegiatan ini non APBD, kita bekerjasama dengan EO, sama-sama men-support,” ulasnya.

Hal ini juga menjadi bagian program visi misi walikota, menjadikan Kota Pariwisata yang berbasis budaya. Menurut Iing, banyak seni, budaya dan juga peninggalan heritage di Kota Cirebon yang masih belum tereksplorasi. Dia berharap gaung Cifest ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan Kota Cirebon.

Bagaimana peran Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP)? Menurut Iing, DKOKP juga sudah menyiapkan pembahasan agenda pariwisata. Lewat Cifest ini agenda pariwisata tahunan tersebut akan di-blow up. “Kota Cirebon ini ingin menjadi tujuan wisata. Jadi perlu promosi dan target kunjungan wisata di tahun 2019 ini mudah-mudahan bisa tercapai,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Foris EO Andry Prihartono menyampaikan, pihaknya dalam hal ini membantu pemda agar event ini bisa terbungkus dengan baik, dan memiliki market ke luar Cirebon. Targetnya adalah internasional branding.

Diharapkan Cifest, dapat mem-branding pariwisata secara keseluruhan. Oleh karena itu, Cirebon harus menampilkan keunikan budaya yang dimiliki.

Acara sendiri bakal dipusatkan di Gedung BAT. Tanggal 16 Februari. Ada konsep pesta rakyat berupa pameran, kuliner, hingga video mapping yang akan berlangsung selama dua hari, 16-17 Februari. Kemudian pada tanggal 17 Februrai juga ada jalan budaya. Khusus tanggal 23 Februrai bakal ditutup dengan pagelaran di Goa Sunyaragi dengan tema acara Sound of Sunyaragi.

“Ini yang akan kita jual ke internasional. Target kita bukan masyarakat cirebon. Kita ingin mendatangkan wisatawan. Ini bukan konser musik, tapi pagelaran seni ada tari, teater, kita gelar selama dua jam lebih tanpa MC,” bebernya.

Ada beberapa pemusik yang sudah confirm hadir. Seperti Dewa Bujana, Tohpati dan beberapa penyanyi nasional. Juga Jabar Orkestra. Kolaburasi perkusi dan penabur. Penarinya juga. “Semua itu bersumber dari kebudayan lokal Cirebon dan kita kolaburasikan supaya bisa menjadi market internasional,” jelasnya. (jml)