Gawat! 4 RW Argasunya Terdampak Kekeringan

Warga RW 05 Kedung Krisik Utara memanfaatkan sungai untuk mencuci dan mandi. Ada empat RW di Kelurahan Argasunya yang mengalami kekeringan sejak memasuki kemarau. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Warga RW 05 Kedung Krisik Utara memanfaatkan sungai untuk mencuci dan mandi. Ada empat RW di Kelurahan Argasunya yang mengalami kekeringan sejak memasuki kemarau. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON–Empat RW di Kelurahan Argasunya mengalami kekeringan. Warga mulai kekurangan air bersih lantaran debit air sumur juga sungai menyusut. Dari pantauan Radar Cirebon, beberapa warga nampak masih menggunakan aliran sungai untuk mandi dan cuci.

Lurah Argasunya Dudung Abdul Barry mengatakan, kekeringan sudah menjadi masalah tahunan di Argasunya, khususnya di RW 03 Kedung Mendeng, RW 05 Kedung Krisik Utara, RW 08 Kopi Luhur dan RW 10 Kedung Jumbleng. “Yang terparah itu di Kopi Luhur,” ujarnya.

Sejak berakhirnya musim hujan, sumur yang dimiliki warga langsung mengering. Sehingga untuk keperluan sehari hari, warga harus meminta bantuan disitribusi Air bersih dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum.

Setidaknya dua kali dalam sepekan tangki air Perumda Air Minum datang ke Kopi Luhur. Kemudian ada juga bantuan dari lembaga sosial yang datang mendistribusikan air bersih. Sementara untuk keperluan ibadah, setiap Jumat juga ada pengiriman air ke masjid-masjid.

Ketua RW 08 Kopi Luhur Suharja mengungkapkan, wilayahnya sejak dulu rawan kekeringan. Terutama di RT 05 dan 06. Di daerah tersebut sebenarnya banyak warga yang memiliki sumur bor pribadi, tetapi rata rata kedalaman sumur warga hanya sekitar 30-40 meter saja. Sementara untuk mendapatkan air bersih, setidaknya harus mengebor hingga kedalaman 80 meter. “Tapi namanya kemarau, mau dibor dalam juga tetap saja air udah turun,” tuturnya.

Untuk sehari-hari, kata Suharja, warga meminta bantuan air bersih ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopi Luhur. Biasanya, truk milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga mengirimkan air ke bak penampung milik warga. “Siapa saja yang mau membantu warga kami, silahkan. Kalau kemarau, RW kita memang rawan kekeringan,” katanya.

Salah satu warga RT 05 RW 08 Kopi Luhur Eli mengaku setiap hari ia membutuhkan setidaknya 15 ember. Jumlah tersebut ia bagi untuk 2 orang lainya. beruntung, rumahnya dekat dengan penampungan air. Sehingga tidak terlalu capek mengangkut air. “Sudah biasa sih kalau kemarau airnya susah,” ucapnya.

Berbeda dengan di RW 08 Kopi Luhur, di RW 05 Kedung Krisik Utara dan RW lainya, sebenarnya untuk mendapatkan air bersih warga masih bisa memanfaatkan sumber air tanah. Kedalaman pengeboran juga tidak sampai 80 meter seperti di Kopi Luhur.

Namun di wilayah tersebut, masih banyak warga yang tidak mampu membuat sumur. Warga juga masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari hari. Ketua RW 05 Kedung Krisik Utara Ade Wijaya menyampaikan, mayoritas warga saat ini memanfaatkan air dari pompa air dan sumur gali. Sebagian masih memanfaatkan sungai meski debit airnya semakin kecil.

Di Kedung Krisik Utara sebetulnya ada fasilitas sumur artesis. Tetapi dua tahun terakhir, sumur air dalam tersebut tal bisa dimanfaatkan karena kerusakan jaringan distribusi. Dirinya berharap, pemerintah bersedia membantu persoalan ini. “Kasihan warga saya, kalau musim kemarau susah air,” ujarnya. (awr)