Gawat! Samadikun Utara Krisis Air Bersih, Antre di Sumur Meski Berbau dan Keruh

DKM Nurul Huda di Gang 7 Samadikun, memasang imbauan kepada masyarakat agar berwudhu di rumah karena tidak ada air, Kamis (25/7). FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON
DKM Nurul Huda di Gang 7 Samadikun, memasang imbauan kepada masyarakat agar berwudhu di rumah karena tidak ada air, Kamis (25/7). FOTO:NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON

CIREBON-Yani (50) tengah kesulitan. Bersama dengan barisan ibu-ibu lainnya dari Gang 6, 7 hingga 8 RT 03 RW 11 Samadikun Utara, Kota Cirebon, mereka mengangkut air dari sumur tetangga. Tuan rumahnya sumurnya ialah Iyus (55), yang tinggal di Gang 7 RT 03 RW 11, Samadikun Utara, Kota Cirebon.

Kurang lebih satu bulan ke belakang sumur di rumahnya menjadi tumpuan warga. Berbondong-bondong mereka membawa jeriken, ember hingga gentong untuk menampung air. Padahal air yang ada di rumah tersebut pun tak sejernih yang diharapkan. Bau tanah juga terkadang tercium bau tidak sedap.

Kondisi macam ini dialami warga sebulan terakhir, dikarenakan distribusi air bersih dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Giri Nata mengalami gangguan. Untuk menampung air bersih, setiap pagi pukul 02.00, Yani beserta warga lainnya harus begadang untuk mencari air. Namun itu pun jarang. “Jam 2 malam itu sampai bareng-bareng kita ibu-ibu ngangsu air,” ujarnya.

Warga yang memiliki sumur saling berbagi dengan warga yang tak memiliki sumur maupun terdampak gangguan. Menurut penuturan Ketua RT 03, Ade, di wilayahnya mati total memang tidak. Namun nyala air hanya malam dengan tetesan air yang jarang-jarang.

Ada sebagian warga yang nyala airnya, ada yang tidak. “Yang paling parah itu di Gang 7 karena hampir semua nggak kebagian air bersih, paling 2, 3 orang yang masih nyala airnya. Belum lagi yang bagian belakang,” ucapnya.

Bahkan salah satu warganya, seperti Abah yang berada di Gang 8 sudah sejak Ramadan air di rumahnya terdampak gangguan. Padahal letak rumahnya berada di area depan. Hal serupa juga terjadi di Masjid Nurul Huda di Gang 7 Samadikun. Sudah sekitar 3 tahun tak kedapatan air bersih. Bahkan di tempat wudhu sampai ditulis imbauan untuk warga agar berwudhu di rumah. “Yang paling parah itu di Gang 7 karena untuk keperluan beribadah saja sulit,” paparnya.

Sementara itu, Ketua RW 11 Samadikun Utara, Junaedi mengatakan dari warga sudah melakukan pengaduan ke pihak Perumda Air Minum. Bahkan barisan ibu-ibu wilayah tersebut yang kesana untuk meminta kejelasan. Namun sesampainya di sana hanya sebatas penerimaan saja belum ada solusi konkrit atas keluhan warga tersebut. ” ibu-ibu di sini yang inisiatif ke PDAM. Kemarin sudah ada yang ke sini dari PAMnya. Hanya periksa meteran terus sudah. Tapi bagaimana ada solusi air itu jalan tidak ada, tolong perhatikan warga kami,” ucapnya.

Junaedi mengungkapkan dari pihak Perumda Air Minum sebetulnya sudah menawarkan pilihan untuk ada kiriman air bersih, namun hal tersebut dirasa bukan solusi. Selain itu di kawasan tersebut juga tidak memiliki tower air bersih untuk menampung air bersih kiriman itu. Di dua gang tersebut ada sebanyak 150 kepala keluarga terdampak gangguan air.

“Kiriman air tanki iu bukan solusi. Kami inginnya coba dicari tahu sumber masalahnya apa. Karena anehnya yang parah hanya di Gangg 6 dan 7 saja. Kasihan warga kalau lama-lama seperti ini,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Giri Nata, Sofyan Satari belum dapat dimintai konfirmasinya. (myg)

Berita Terkait