Geothermal Ciremai akan Dikelola BUMN

gunung-ciremai
Pemerintah pusat melalui BUMN berencana mengembangkan proyek geothermal Gunung Ciremai. FOTO: DOK. RADAR KUNINGAN

KUNINGAN – Pemerintah pusat tetap akan mengembangkan proyek pemanfaatan panas bumi untuk listrik atau geothermal di kawasan Gunung Ciremai.

Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengungkapkan, potensi panas bumi di Kabupaten Kuningan harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional yang semakin menipis.

Menurut dia, geothermal sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan, menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus menerus ada untuk diwariskan kepada anak cucu.

“Berbeda dengan batu bara dan minyak yang akan habis, tetapi panas bumi akan selalu ada sampai akhir dunia. Geothermal adalah sumber energi baru terbarukan yang ramah lingkungan sehingga sepatutnya masyarakat Kuningan bisa menerimanya,” ungkap Yunus kepada awak media belum lama ini.

Menurut Yunus, penting sekali masyarakat Kuningan melalui bupatinya mendorong mengembangkan panas bumi. Panas bumi sebagai energi baru terbarukan dan ramah lingkungan, juga proses pembuatannya tidak seperti membangun waduk yang harus melalui proses pembongkaran melainkan hanya membuat lubang kemudian memanfaatkan uap panas bumi yang akan menghasilkan tekanan untuk menggerakkan turbin dan kemudian menghasilkan energi listrik.

“Sudah banyak daerah di Indonesia yang mengembangkan geothermal, dan terbukti sudah 30 tahun berjalan tidak terjadi masalah apa-apa. Adapun yang terjadi dengan Lapindo adalah eksplorasi minyak dan gas. Perlu diingat, eksplorasi minyak dan gas menghasilkan tekanan sangat besar sekali hingga 150 Bar, sedangkan tekanan yang dihasilkan panas bumi paling hanya 15 Bar saja, sehingga sangat tidak mungkin kejadian seperti di Lapindo” ujarnya.

Terkait kekhawatiran warga tentang kemungkinan air akan habis, Yunus memastikan hal itu tidak akan terjadi. Pasalnya, proyek geothermal akan memanfaatkan air yang berada di kedalaman 2.500 meter yang tidak tersambung dengan air permukaan.

Kendala yang menyebabkan proyek geothermal di Kabupaten Kuningan belum juga terealisasi, kata dia, karena belum seluruh masyarakat Kabupaten Kuningan menerimanya. Termasuk keberatan masyarakat terhadap pengelolaan proyek tersebut oleh perusahaan asing, Yunus mengatakan, pemerintah telah merencanakan Pertamina sebagai solusinya.

“Pemerintah ingin proyek ini bisa dilaksanakan setelah tidak ada lagi resistensi yang luar biasa. Dengan sejumlah sosialisasi yang terus dilakukan baik secara langsung kepada masyarakat maupun lewat media, secara perlahan masyarakat sudah mulai paham dan menerima. Pemerintah tetap akan mengembangkan proyek panas bumi di Kabupaten Kuningan, dengan pengelolanya oleh BUMN. Karena kami melihat masyarakat Kuningan lebih terbuka apabila proyek ini dikembangkan oleh BUMN,” ungkapnya.

Menurut Yunus, Pertamina Geothermal Energy adalah salah satu BUMN yang sudah siap dan terbukti berhasil mengelola panas bumi di beberapa lokasi di Indonesia. Antara lain di Kawah Kamojang yang menghasilkan energi listrik 17 megawatt, Lahendong 120 megawatt, dan Ulubelu 240 megawatt.

“Apa lagi yang disangsikan terhadap perusahaan BUMN itu. Sudah punya generate yang beroperasi lebih dari 35 tahun dan tidak terjadi apa-apa, sehingga masyarakat Kuningan sepatutnya tak perlu khawatir dengan proyek geothermal yang akan dikembangkan oleh perusahaan milik negara tersebut,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pemerintah pusat telah merencanakan pembangunan proyek  panas bumi di kawasan Gunung Ciremai yang berpotensi menghasilkan tenaga listrik hingga 110 megawatt. Rencananya, proyek geothermal tersebut dikelola PT Chevron.

Perusahaan asing PT Chevron pemenang lelang proyek geothermal di Gunung Ciremai memutuskan mundur pada tahun 2015 lalu setelah mendapat penolakan masyarakat. Kini berbagai pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat kembali dilakukan untuk melanjutkan rencana geothermal bisa terealisasi. (fik)