Glock 42 Siapa Punya?

Karopenmas Divisi Humas Polri Dedi Prasetyo (tengah) bersama Direktur Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Suyudi Ario Seto (kiri) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya Argo Yuwono (kanan) memberikan keterangan saat rilis pengembangan hasil penyidikan perkara kerusuhan tanggal 21-23 Mei 2019 di Divhumas Mabes Polri, Jakarta, Jumat (5/7 - 2019). (Antara/Reno Esnir)

POLRI mengungkap jenis senjata yang digunakan penembak misterius saat menembak Harun Al Rasyid pada rusuh 21 – 22 Mei lalu di Jakarta. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, hasil uji laboratorium forensik menunjukkan pelaku menggunakan senjata api Glock 42 untuk menembak bocah 15 tahun itu.

“Dari hasil labfor itu pelakunya menggunakan Glock 42,” kata Dedi di Mabes Polri, Senin (8/7).

Namun, prahara 21-22 Mei 2019 masih menyisakan tanya. Siapa pembunuh 9 orang yang tewas dalam kerusuhan tersebut? Dalam konferensi pers yang digelar beberapa waktu lalu, Polri tak sampai menyebut siapa pembunuh mereka. Bahkan untuk jenis senjata yang menewaskan 9 orang itu, Polri belum mengungkapkan secara pasti.

Padahal polisi telah selesai melakukan uji balistik terhadap dua proyektil yang bersarang di tubuh Harun Al Rasyid (15) dan Abdul Azis (28).

Harun dan Abdul merupakan dua dari sembilan warga sipil yang tewas dalam kerusuhan 21-22 Mei. Harun diketahui tewas tertembak di jalan layang Slipi, Jakarta Barat. Sementara Abdul, ditemukan meninggal di kawasan Petamburan, Jakarta Barat.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo berkali-kali mengatakan, pihaknya terkendala mengungkap jenis senjata karena proyektil yang ditemukan dalam kondisi pecah.

Pada Juni 2019, polisi mengumumkan kemajuan dalam mengidentifikasi jenis peluru. Hasil uji balistik Pusat Laboratorium Forensik Polri menunjukkan peluru berkaliber 9×17 milimeter bersarang di tubuh Harun. “Yang kaliber 9mm itu tingkat kerusakan proyektil cukup parah karena pecah sehingga untuk menguji alur senjata ada sedikit kendala,” kata Dedi. Saat pertama kali mengumumkan jenis proyektil, polisi hanya menyebut ukuran kaliber saja.

Belakangan diketahui, karakteristik peluru yang menewaskan Harun memiliki poligional dan alur enam kanan. Dalam pengembangan terbaru, Dedi menyebut Harun ditembak dari jarak 11 meter sebelah kanan. Sementara polisi berada di depan dengan jarak 100 meter.

Jenis peluru itu cocok dengan lokasi luka tembak di tubuh Harun, yakni peluru masuk ke pangkal lengan atas kiri luar, yang menembus celah dada kanan arah mendatar, dan bersarang di otot ketiak kanan.

Halaman: 1 2 3