Gubernur: Saatnya Hemat Air! PDAM Harus Jemput Bola Atasi Kekeringan

ATASI KEKERINGAN: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan sejumlah upaya untuk mengatasi kekeringan kepada sejumlah awak media. FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PEMPROV JABAR
ATASI KEKERINGAN: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyampaikan sejumlah upaya untuk mengatasi kekeringan kepada sejumlah awak media.FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PEMPROV JABAR

BANDUNG – Dalam menghadapi musim kemarau yang sudah berlangsung saat ini, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil lagi-lagi mengimbau kepada warga dan para stakeholder  di Jawa Barat untuk mengambil langkah-langkah agar suplai air untuk konsumsi rumah tangga dan irigasi tetap terjaga.

“Pertama, saya minta masyarakat dalam mengkonsumsi air agar menghemat seefisien mungkin,” katanya.

Kemudian, dia juga mengimbau kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di seluruh Jawa Barat untuk menyediakan layanan ekstra kepada masyarakat dengan menjual air dengan harga terjangkau, dengan mengirim air ke titik-titik yang rawan kekeringan.

“Sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), PDAM harus turun jemput bola apabila ada warga yang butuh air bersih. Sekarang sudah bergerak, tinggal kita monitor saja di lapangan,” imbuhnya.

Sementara, untuk konsumsi air irigasi, dirinya sudah menginstruksikan kepada Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat untuk terus memantau debit air di sejumlah waduk atau embung.

Hal itu agar setiap ada penurunan debit air bisa terpantau dan segera mengambil langkah strategis agar suplai ke area pertanian tetap terjaga meski intensitas arusnya tidak seperti pada musim penghujan.

“Tolong atur debitnya, sehingga masing-masing wilayah irigasi terbaik secara adil, meski debitnya tidak begitu deras,” tambahnya.

Untuk daerah yang benar-benar sudah mengalami kekeringan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi. Termasuk membuat rekayasa cuaca apabila memungkinkan.

“Ya tentu harus benar-benar dilihat dari segi efektivitas. Karena untuk rekayasa cuaca, membutuhkan anggaran yang sangat besar. Tapi, nanti kita pikirkan untuk solusi terbaiknya,” bebernya.

Terkait irigasi yang rusak, Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, mengungkapkan bahwa hal tersebut menjadi kewenangan bersama antara pemerintah desa, kabupaten/kota dan provinsi.

“Untuk provinsi nanti kita carikan solusi untuk irigasi yang rusak. Tapi, intinya masalah kekeringan kita lebih pada suplai air yang terbatas,” pungkasnya. (jun)