Gus Haris: Pesantren Berbasis Budaya Lokal Tangkal Radikalisme

Santri-santri Piderma (Pondok Ilmu Derma Agung)

Pengasuh Piderma (Pondok Ilmu Derma Agung), Gus Haris menyatakan tradisi pendidikan agama di pesantren memiliki narasi yang bisa menangkal ekstrimisme dan radikalisme.

Pria yang akrab disapa Gus Haris tersebut berpendapat sejarah pengajaran agama Islam di banyak pesantren di Indonesia selalu berhubungan erat dengan budaya lokal. Relasi itu menyebabkan tradisi pesantren menciptakan pandangan keagamaan yang tidak kaku.

“Pengakuan terhadap budaya lokal membuat pesantren lembut dalam memahami agamanya, tidak keras tidak kaku, tidak hitam-putih. Model ini bisa dipakai sebagai narasi kontra-terorisme” katanya, Jumat (1/2).

Gus Haris menambahkan paham keagamaan yang ekstrem dan radikal selama ini datang dari luar Indonesia sehingga tidak mengakar pada budaya lokal. 

“Pemikiran yang radikal tidak berbasis pada nilai lokal. Rata-rata [ajaran] yang ekstrimis tidak asli dari Indonesia sehingga menyebabkan model-model pemahaman keagamaan yang tidak soft, tidak lembut, tidak ramah,” ujar dia.

Gus Haris berpendapat tradisi pesantren memiliki narasi yang bisa membendung radikalisme dan ekstrimisme karena didasari 3 nilai utama. Ketiganya ialah tawassuth atau sikap tengah-tengah, tawazun yang artinya seimbang dalam segala hal, dan i`tidal yaitu bersikap adil dan lurus.

“Kalau yang ekstrimis itu cuman satu potong, satu potong [pemahaman agamanya] sehingga itu lah yang menyebabkan akhirnya bertindak seperti itu [berpaham keras dan radikal],” kata dia. (*)